WAJAH TASAWUF DALAM SASTRA (2)


Djoko Saryono *

Berbagai antologi puisi bernafas tasawuf juga telah diterbitkan baik oleh ahli-ahli Barat maupun oleh beberapa kritikus, penyair, dan ahli sastra Indonesia. Belakangan ini puisi-puisi bernafas tasawuf banyak diterbitkan dan diminati di Indonesia. Misalnya, antologi Musyawarah Burung-burung (Attar) Pesan dari Timur, Javid Nama (Iqbal), Diwan Al-Hallaj, Akulah Kebenaran (Hallaj), Masnawi, Khasidah Cinta, Diwan Samsi Tabriz (Rumi), dan Sastra Sufi [kumpulan puisi pelbagai penyair sufi]. Ini semua merupakan bukti betapa luar biasa kayanya khazanah sastra sufistis atau bernafas tasawuf.

Kita tahu, sastra di negeri-negeri Islam dan atau negeri-negeri yang dirambah Islam senantiasa kaya akan nafas tasawuf. Sastra Arab, sastra Persia, sastra Turki, sastra Hindi dan sastra Urdu, misalnya, disarati oleh nafas tasawuf. Malahan sastra-sastra ini sering disebut sebagai sastra sufi karena sastrawannya hampir semuanya sufi atau setidaknya menghayati tasawuf secara intens.

Sastra sufi atau sastra yang bernafas tasawuf diketahui mendorong, bahkan memelopori kebangkitan sastra nasional di negeri-negeri tersebut di atas — termasuk negeri Indonesia. Ditulangpunggungi oleh sufi-sufi sekaligus penyair-penyair seperti Rabi’ah al-Adawiyah, Abu Sa’id, Dzun Nun, Nikmatullah, Fariduddin Attar, al-Hujwiri, Ibnu Farid, Ibnu Atha, Abu al-Atahiyah, Haci Bayram, Umar Khayyam dan Iqbal, sosok tasawuf dalam sastra demikian menonjol dan kuat.

Sejatinya tak gampang dibuktikan apakah sufi sekaligus penyair tersebut mencipta puisi bernafaskan tasawuf ataukah menyampaikan ajaran tasawufnya melalui puisi. Tak ada petunjuk jelas untuk menentukan hal ini. Berhubung orang-orang tersebut adalah pertama-tama sufi, dan memiliki kualitas penyair, maka dapat dikatakan bahwa mereka menyampaikan ajaran tasawuf lewat sastra sekaligus bersastra. Jika kadar kesufian dan kepenyairan seorang sufi sama-sama kuat, maka boleh dikatakan orang tersebut merupakan penyair yang sufi atau sufi yang penyair. Ini mengakibatkan bahwa sastra khususnya puisi yang mereka hasilkan absah disebut sebagai sastra sufi dan absah pula disebut sastra bernafaskan tasawuf.

Sastra sufi atau bernafaskan tasawuf (karena di dalamnya terkandung gagasan-gagasan sufisme) tampak selalu lekat dengan agama Islam. Sepertinya ada dalil: sadar sastra sufi, sadar akan Islam. Tak ayal, sewaktu Islam berkembang dan tersebar ke berbagai penjuru dunia, sastra sufi atau bernafaskan tasawuf juga ikut berkembang dan tersebar ke berbagai penjuru dunia. Pada waktu Islam masuk ke nusantara, sastra sufi atau bernafaskan tasawuf pun ikut masuk. Di dunia Melayu malahan tasawuf atau sastra sufi membangkitkan sastra Melayu baru. Estetika sastra Melayu sangat kental dan tebal dimensi-dimensi dan anasir tasawuf.

Ditokohi oleh sufi sekaligus sastrawan seperti Hamzah Fansuri, Nurruddin Arraniri, Syamsudin al-Sumatrani, Bukhari al-Jauhari, dan Abdurrauf Singkel, sastra Melayu yang bernafaskan tasawuf mencapai kemajuan-kemajuan yang begitu berarti. Buktinya, karya-karya monumental seperti Syair Perahu dan Rubaiyat (Hamzah Fansuri), Kitab Seribu Masalah (Abdurrauf Singkel), dan Tajus Salatin (Bukhari al Jauhari) dan Gurindan XII (Raja Ali Haji). Gagasan-gagasan tasawuf begitu kental-tebal dalam karya-karya tersebut.

Lebih jauh, tasawuf ini masuk ke dalam sastra-sastra daerah, antara sastra Jawa, sastra Bugis, sastra Bima, sastra Banjar, sastra Buton, dan sastra Sunda. Dalam sastra Jawa hal itu tercermin terutama dalam karya-karya Walisongo, utamanya karya Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Selain itu, tampak pula pada karya Yosodipura, Ranggawarsita, dan lain-lain. Larik-larik puitis Cermin dan Desas-desus karya Yosodipura begitu kuat memantulkan gagasan tasawuf atau nafas tasawuf. Serat Wirid Hidayat Jati karya Ranggawarsita menampakkan gagasan kuat sekalipun dipadu dengan berbagai unsur lain di luar Islam. Bisa dibilang, karya-karya pujangga Jawa penutup ini “basah kuyup” dengan gagasan tasawuf al-Ghazali.

Dari kajian-kajian Simuh, kita juga bisa tahu, suluk dan serat dalam sastra Jawa Abad XVII kental-tebal dengan gagasan tasawuf pantheistis yang berpadu dengan tradisi pra-Islam dan Kejawen. Sementara itu, dalam sastra Sunda gagasan tasawuf tercermin dalam suluk-suluk Cirebon. Suluk-suluk Cirebon pada umumnya bernafaskan tasawuf syuhudi atau sunni dan mengajarkan masalah martabat tujuh.

Dalam sastra modern atau kontemporer jejak gagasan tasawuf dapat ditemui antara lain dalam karya Kahlil Gibran dan Muhammad Iqbal. Karya-karya kedua orang ini demikian sarat dengan gagasan tasawuf. Ini bisa disimak dalam karya Sang Nabi dan Sayap-sayap Patah (Kahlil Gibran) dan Asrari Khudi dan Javid Nama (Muhammad Iqbal). Dalam sastra Indonesia jejak gagasan tasawuf masih tetap ada dan tampak, bahkan dalam hal tertentu bisa dikatakan kuat sekali.

Misalnya, karya-karya Amir Hamzah mencerminkan nafas sekaligus gagasan-gagasan tasawuf. Dalam berbagai bukunya Abdul Hadi WM memasukkan beberapa puisi Amir Hamzah ke dalam antologi puisi yang berjudul Sastra Sufi, yaitu Do’a, Berdiri Aku, Padamu Jua, dan Tetapi Aku. Bila kita resapi dan renungi, bisa dibilang bahwa puisi Padamu Jua bisa disebut puisi puncak sufistis Amir Hamzah.

Novel, puisi, dan cerpen Kuntowijoyo juga sangat sarat dengan gagasan tasawuf, misalnya Kotbah di Atas Bukit, Pasar, Mantra Pejinak Ular, Isyarat, Suluk Awang-Uwung, Ma’rifat Daun, dan Dilarang Mencintai Bunga-bunga. Bisa dikatakan, Kotbah di Atas Bukit, Dilarang Mencintai Bunga-bunga, Suluk Awang Uwung, dan Ma’rifat Daun merupakan kitab utama pemikiran tasawuf dari Kuntowijoyo.

Jika dikaji secara mendalam, tak pelak lagi, puisi-puisi Sutardji C. Bachri pada periode 1970-an yang terhimpun dalam antologi O, Amuk, dan Kapak, terlebih puisi periode 1980-an, kental dan pekat warna tasawuf. Puisi-puisi Sutardji pasca-antologi O, Amuk, dan Kapak malah sangat pekat dengan warna tasawuf.

Hampir semua cerpen Fudoli Zaini, antara lain Kota Kelahiran, Arafah, dan Batu-batu Setan mengembuskan nafas tasawuf sangat kuat dan pekat. Demikian juga karya-karya Emha Ainun Najib (99 Tuhanku, Seribu Masjid Satu Jumlahnya, dan Cahaya Maha Cahaya) mencerminkan nafas sekaligus gagasan tasawuf. Say ingin sebut nama Arini Hidayati yang menulis dua kumpulan aforisme puitis, yaitu Jiwa-jiwa Pencinta dan Budak Tuan Raja, yang menggunakan gaya pengungkapan seperti Rabi’ah al-Adawiyah dan tentu saja sarat gagasan tasawuf.

Hal tersebut membuktikan bahwa tasawuf sudah merasuk ke dalam sastra kontemporer Indonesia. Dalam sastra modern atau kontemporer nafas sekaligus gagasan tasawuf justru dimanfaatkan atau didayagunakan untuk menyegarkan, mencerahkan, dan memperkaya pengucapan sastra. Seingat saya, Teeuw pernah berkata bahwa sastra Indonesia dan sastrawan Indonesia telah memanfaatkan nafas tasawuf pantheistis (baca: bukan monisme) untuk memperkaya dan menganekaragamkan pengucapan sastra Indonesia.

Sebelumnya: http://sastra-indonesia.com/2020/05/wajah-tasawuf-dalam-sastra-1/

_______________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

One Reply to “WAJAH TASAWUF DALAM SASTRA (2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *