CELOTEH PAGI


[Leopold Schmutzler – Tanz der Salomé (1907) Wikipedia]

Sunlie Thomas Alexander *

/1/
Aku tak pernah melemparkan pandangan rendah atau sinis kepada teman-temanku yang suka ngelonte. Itu pilihan, bahkan boleh jadi bagi sebagian lelaki itu memang merupakan kesenangan. Juga kewajaran dari menikmati hidup sebagai orang normal. Toh, setiap orang normal membutuhkan penyaluran kebutuhan biologis, lajang maupun yang sudah menikah, jomblo maupun yang berpasangan.

Tapi aku tidak pernah ngelonte. Bukan nggak mau, namun tidak pernah bisa. Bukan pula nggak ngaceng ngelihat mbak-mbak ngangkang, bukan pula tak punya duit buat jajan. Aku sudah mengenal lokalisasi sejak SMA. Aku datang ke sana bersama kawan-kawan, tapi selalu merasa enggan masuk kamar. Aku hanya menghabiskan bir sementara kawan2 lain menghilang bersama mbak pilihannya masing-masing.

Ah, aku jadi teringat pada seorang mbak, asal Lampung, di lokalisasi terkemuka di Bangka, yang sempat membacakan “puisi” karangannya sendiri untukku di teras sebuah wisma.

Pernah sekali waktu aku berhasil dipaksa masuk kamar oleh teman. Tetapi–sebutlah aku lelaki bodoh atau impoten, terserah–dengan cueknya kala itu aku cuma meminta si mbak untuk kenakan kembali pakaiannya lalu membayarnya sesuai tarif. Dan alhasil, selama setengah jam, kami berdua hanyalah berbaring terentang di atas kasur sambil bercerita kecil.

/2/
Ada seorang teman yang kukenal baik, yang meskipun ia jarang pergi ke lokalisasi, tetapi dengan enjoynya bisa main dengan perempuan manapun. Tak peduli wajah, bentuk tubuh, maupun usia lawan mainnya.

Aku tak bisa serta-merta menuduhnya sebagai pria berselera buruk karena toh kurasa ia selalu doyan perempuan-perempuan cantik nan sintal berkulit putih mulus. Hanya saja, barangkali baginya “tak ada rotan, akal pun jadi”. Ya, baginya “YANG PENTING ADA LOBANG!”

Daripada ngocok habisin sabun atau setubuhi batang pisang? Mungkin demikian pikirnya.

Aku tidak tahu apakah ada perempuan yang juga berprinsip sama dengan doi: “Yang penting ada batang!” (tentunya mesti bisa tegang ya?).

Kendati aku mengenal pula sejumlah kawan perempuan yang suka bergonta-ganti pasangan dan begitu mudahnya tidur dengan (banyak) lelaki berbeda-beda, termasuk yang baru dikenal.

Ya, aku tak perlu heran kukira. Tak juga harus takjub atau kaget ketika membaca berita seorang pemuda memperkosa nenek-nenek umur 70. Wong, orang gila dekil kumal penuh koreng dan berkepala plontos di kota kecilku saja bisa bunting berkali-kali entah oleh siapa kok!

/3/
Mungkin kita sama-sama tidak tahu siapa yang pertama kali memperkenalkan “Salome” sebagai singkatan dari “Satu Lobang Rame-rame” dan sejak kapan. Tetapi menariknya, istilah ini juga kebetulan sama dengan nama sosok mashyur dalam tradisi Nasrani. Yakni Salome putri tiri Kaisar Herodes Antipas.

Konon Salome lah biang dari kematian Santo Yohanes Pembaptis. Dalam tradisi, ia dikisahkan sebagai seorang gadis belia yang cantik jelita dan pintar menari. Syahdan, pada suatu ulang tahun Herodes Antipas, Salome dikatakan tampil membawakan tarian erotis tanpa busana di hadapan sang ayah tiri dan para tamu terhormat kerajaan. Karena terpukau, maka sang raja pun berjanji kepada gadis itu: “Mintalah, apapun keinginanmu akan aku penuhi.”

Dan Salome meminta kepala Yohanes Pembaptis atas keinginan ibunya Herodias. Hal ini lantaran Herodias menaruh dendam kepada Yohanes yang pernah mencela perkawinannya dengan Herodes Antipas yang merupakan saudara kandung dari suaminya terdahulu: Herodes Filipus (ayah Salome).

Ada yang merasa klop atau tersindir dengan istilah “Salome” ini?

/4/
Boleh jadi, sebagian dari pemegang prinsip “yang penting ada lobang” dan “yang penting ada batang” itu emang tergolong playboy dan playgirl atau simpelnya mata keranjanglah. Hanya saja aku tidak begitu yakin soal ini. Karena setahuku kaum playboy dan playgirl yang “normal” umumnya pemuja keindahan (kecantikan, ketampanan, kemachoan, keseksian).

Tersebab itu, janganlah kita terburu-buru bangga jika kita kebetulan ditaksir atau dikejar-kejar oleh makhluk-makhluk berjenis pemegang prinsip ini. Apalagi tergesa-gesa merasa diri kita tampan atau cantik.

Sebagaimana kita tidaklah perlu terlalu berbesar hati jika kebetulan kita kerap berganti pasangan atau terus-menerus dirayu oleh sekian banyak orang. Tolonglah kau lihat dulu sedikit mutu dari para perayu militan atau perayu sepintas lalu itu! Maaf, di sini aku sama sekali tak bermaksud melakukan “body shaming” ataupun “brain shaming” kepada siapapun.

Hanya saja, terus-terang kadangkala aku memang suka merasa kesal kepada orang-orang yang tidak memahami fungsi cermin.

“Masa’ hanya gara-gara ukuran sempak yang kebetulan sama atau karena merasa sama-sama banyak yang merayu, kita mau membandingkan atau bahkan menyejajarkan diri kita yang bertampang mirip-mirip gendruwo atau wewe gombel dengan mereka yang berparas macam Chris Evans atau Chelsea Islan?”

Itu bakalan membuat cermin benar-benar kehilangan fungsi, Kawan!
***

____________________
*) Sunlie Thomas Alexander memiliki nama lahir Tang Shunli, (lahir di Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung, 7 Juni 1977), sastrawan berkebangsaan Indonesia keturunan Tionghoa. Ia dikenal melalui karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, kritik sastra, catatan sepak bola, dan ulasan seni yang dipublikasikan di berbagai surat kabar serta jurnal yang terbit di Indonesia dan di luar negeri: Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison, Suara Merdeka, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Poetika, Kedaulatan Rakyat, DetikSport, Jurnal Ruang, Gong, Lampung Post, Bangka Pos, Hai, Nova, Hakka Monthly, dll. Tahun 2016, menerima beasiswa residensi penulis di Taiwan dari Menteri Kebudayaan Republik China Taiwan, dan tahun 2018 menerima beasiswa residensi ke Belanda dari Komite Buku Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Buku terbarunya “Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu, Dari Parodi ke Black Komedy,” Kumpulan Esai, Yogyakarta, Gambang, Feb 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *