HUJAN


(Penari, Sketsa karya Endix)
Taufiq Wr. Hidayat *

Hujan turun di bulan Juni ini. Mengingatkan saya pada puisi Sapardi “Hujan Bulan Juni”. Juga kumpulan cerita yang saya rasa tak sanggup “menetas”, karya Soetardji “Hujan Menulis Ayam”. Orang mengabadikan hujan itu dengan puisi atau cerita. Kamera dan rekaman suara. Tapi dunia sudah “maju”, kata seorang tua, segala peristiwa dihentikan dalam kamera. Kamera memotret tanpa suara. Tiba-tiba kejadian sudah tersimpan dalam kartu memori. Hujan lebih menarik diabadikan dalam ingatan. Ingatan yang tak tergantikan.

Seseorang barangkali butuh memandang dirinya sendiri. Mengintip jauh ke dalam dirinya, seperti Bima menemui Dewa Ruci di kedalaman samudera. Melihat diri menemukan diri. Tapi tak banyak orang mau membaca, lantaran layar menggantinya dengan pemandangan yang lebih sempurna, seolah-olah nyata. Orang tak punya imajinasi. Hidup dipenuhi dugaan yang tak masuk akal. Seperti wabah.

Pada tempat lain, di tengah kecemasan yang absurd, penguasa mencatat segala bidang kegiatan warga untuk mendapatkan izin. Izin dari pihak berkuasa. Ada sanksi berat bagi yang melanggar. Supaya kekuasaan ditakuti. Ia tak pernah karib dengan rakyat. Izin pun berpagut dengan relasi kekuasaan, ia membangun rantai hegemoni bernama kuasa. Seringkali penguasa mengabaikan izin terhadap yang dikuasai, sedang yang dikuasai wajib meminta izin terhadap yang menguasai. Atau “membeli” izin. Seperti eksploitasi tambang emas, mall, atau berdirinya hotel berbintang.
***

Melihat diri dalam terminologi Jawa, kurasa bermakna menyadari nilai kemanusiaan, menyadari keberadaan di tengah keberadaan yang liyan. Menumbuhkan sikap “njangkepi” (menyempurnakan) dan “ngerungkebi” (mengerti, melindungi, mengayomi) terhadap liyan itu. Di dalam melihat diri, ada kearifan menggerakkan diri, mengubah dan mengolah kehidupan dengan jati diri. Sikap kemanusiaan yang tak permisif.

Penafsiran yang berbeda-beda terhadap dunia, bagi Karl Marx, tak sepenting mengubahnya. Realitas dan struktur sosial, mutlak harus diubah. Sejatinya Marx melancarkan kritik ideologi guna menegaskan dalil Hegel tentang keterasingan. Keduanya memang menarik. Namun keduanya, saya rasa tak berhasil memahami pergulatan subyektif yang eksistensial dalam diri manusia.

Merubah realitas, dalam terminologi “mulat”-nya orang Jawa, mestilah diawali dengan merubah diri, sudut pandang, dan bagaimana seseorang melihat diri dan kehidupannya. Di sini, pengenalan terhadap jati diri menjadi utama sebelum menyentuh realitas di luar. Sebab barangkali justru diri sendirilah yang menjadi bagian dari persoalan mendasar pada realitas sosial yang berlangsung.

Dan hujan pun kembali ke sini. Waktu petang hari.

Sitinggil, 2020

__________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *