HUJAN DI SUKORENO

Wahyu Hidayat *

Masih kukenang dan kuhapal:
sukoreno, alamat dimana
engkau pernah jatuh
dan bayanganmu begitu dekap di dadaku.

O, lampu-lampu
laron-laron yang mengitari reklame di persimpangan,
jalanan dan gang-gang–
tempat kapan kita jumpa
dan sepotong janji yang kini tergerat runcing dusta.

Hujan menderas di sukoreno
meluapi sungai-sungai
menumbangkan bibit-bibit yang hendak semai
menjelmakan kerinduan padamu
yang tak pernah selesai.
Dingin merambat ke sendi-sendi
mengingatkan tubuh yang makin sepi.

Angin bertiup begini kencang.
Daun-daun bersidekap di jendela.
Simpang antara sukoreno, kencong, tanggul
dan paleran
barangkali telah membuyarkan jadwal pertemuan
dan menepikan kendaraan.
Di sanalah kita pernah saling tebak
: ke arah mana seharusnya kita tentukan
tempat paling tepat untuk menukar
derita dan pelukan.

Rindu berkecipak di antara deras hujan
dan genangan air memantulkan wajah kita
yang menua dan makin labil.
Putih rambut, keriput kulit, menyisakan
begitu deras kenangan
bagai sukoreno yang kini hujan.

O, masih kukenang dan kuhapal.
Rambutmu yang wangi dan legam
jari-jari seumpama tunas jambu
bulu mata yang senantiasa mengisahkan puisi dan doa
senyum sebagaimana anggur dan kurma
serta suara–
yang menjelma rindu perahu pada dermaga.

Hujan tak kunjung reda, wahai, kekasih
menggetaskanku pada kenang-kenangan dahulu
di mana engkau pernah jatuh
dan bayanganmu begitu dekap

: di dadaku.

Tegalsari, 2019.

*) Wahyu Hidayat, lahir di Banyuwangi 28 Oktober 1995. Pendiri Komunitas Tulis Graps, dan bergiat di Komunitas Tobong Karya. Beberapa kali mendapat penghargaan, di antaranya: Juara 2 Radar News Competition, Juara 3 lomba cipta puisi Dewan Kesenian Blambangan, masuk 20 besar sayembara manuskrip puisi Dewan Kesenian Jawa Timur, dan Juara 2 lomba cipta puisi 7 kota (Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan) yang diadakan Universitas Jember (UNEJ). Puisi-puisinya termuat di koran, majalah dan antologi: Banyuwangi dalam Langgam, Merangkai Damai, Sastrawan Jilid III, Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa, Puisi Sakkarepmu, Balada Tanah Takat. Kumpulan puisi pertamanya, Kesaksian Musim (2016). Santri Darussalam Blokagung. Dapat berkomunikasi melalui Facebook: Wahyu Lebaran atau Instagram: @wahyulebaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *