KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (2)

Djoko Saryono *

Dalam pandangan manusia Jawa, keindahan dan keelokan bukan hanya sesuatu yang sudah jadi, melainkan juga sesuatu yang mengada dan men­jadi. Me­minjam istilah Erich Fromm, keindahan dan keelokan itu bukan hanya sesuatu yang being, tetapi juga sesuatu yang to be dan to become. Keindah­an dan keelokan mengada dan menjadi jika – menurut seorang ahli sastra Jawa Tanojo – ter­jadi jumbuh­ing rasa lan kang dirasakake dan atau – menurut seorang penulis sastra Dwidjosu­marto – terjadi manunggaling suraos lan wangun.

Secara lugas wangun ber­arti bentuk, sedangkan kang dirasakake berarti yang dirasakan (yang bisa berupa bentuk dan isi). Di sini kang dirasakake dan wangun dapat disepa­dankan dengan objek estetis atau dapat disebut penanda-penanda tekstual baik tekstual sam­ping maupun tekstual utama. Dalam konteks ini, objek estetis dapat dipahami sebagai kesenian Jawa. Sebagai objek estetis, kesenian Jawa dapat disebut indah dan elok bilamana ia mengan­dung wa­ngun dan kang dirasakake yang sesuai dengan norma-norma rasa dan suraos estetis Jawa pada satu sisi. Pada sisi lain bilamana ia mampu meluluh­kan dan meleburkan rasa dan suraos ke dalam wangun dan kang dirasakake.

Hal tersebut oleh Dwidjosumar­to, seorang penulis buku sastra Jawa, diibaratkan kemanunggalan bunga dengan wanginya (Rerengga­ning kasusastran punika boten madeg pribadi utawi boten misah nanging nunggil lan suraos, kadosdene manungga­ling sekar lan wanginipun). Jadi, objek este­tis Jawa atau kesenian Jawa – khususnya sastra atau disebut kagunan basa dalam bahasa Jawa – bernilai indah dan elok sekali bilamana kandung­an wangun dan kang dirasakake (bentuk dan isi) mampu mendo­rong rasa dan suraos penik­mat atau pembaca – bahkan juga sastrawan – luluh dan lebur ke dalam­ wangun dan kang dirasak­ake.

Itu dimungkinkan jika norma-norma atau kaidah-kaidah este­tik Jawa ditaati dan diikuti, bukan disimpangi dan diberontaki. Pesan tersiratnya, kestabilan (dalam arti keteraturan, ketertiban, kelengkapan) diutama­kan, bahkan dinomorsatukan dalam estetika Jawa. Penyimpangan dan pem­berontakan terbuka yang mengha­silkan ketidakstabilan (dalam arti ketidakteratur­an, ketidaktertiban, keti­daklengkapan) dihindari, bahkan tidak dibolehkan dalam estetika Jawa. Di sinilah terlihat beta­pa pentingnya kemapan­an-keselarasan-kebersama­an di dalam estetika Jawa.

Maka dari itu, tidak berlebihan jika di­katakan bahwa estetika Jawa pa­da hakikatnya merupakan estetika kema­panan-keselarasan-kebersamaan. Di dalam estetika ini ihwal kemapanan, keselarasan, dan kebersama­an menjadi lokus atau intisari keindahan dan keelokan. Artinya, dalam pandangan ma­nusia Jawa, sesuatu yang dianggap atau dipandang indah dan elok adalah sesuatu yang mapan-selaras-bersama. Misalnya, sastra yang indah dan elok adalah sastra yang mapan-selaras-bersama, sebagaimana ditegaskan oleh Padmosoekotjo dalam buku Ngengrengan Kasusastran Jawa. Demikian juga gending – musik perkusi pentatonis Jawa – yang indah dan elok ada­lah yang mapan-se­laras-bersama, terbukti dari namanya laras pelog–laras slendro dan tidak adanya tonjolan-tonjolan atau dominasi salah satu jenis perangkat gending. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa estetika Jawa dalam berpu­sat pada kemapanan, keselarasan, dan kebersamaa­n di antara elemen-elemen sastra.
***

Sebelumnya: http://sastra-indonesia.com/2020/06/keindahan-keelokan-jawa-dalam-sastra-1/

______________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

One Reply to “KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *