Pramoedya Ananta Toer “Penulis Terbesar Indonesia Abad ke-20”


Nirwan Ahmad Arsuka *

Pramoedya Ananta Toer agaknya adalah sastrawan yang paling lekat dengan Indonesia, dengan cita-cita besar dan rasa sakitnya. Dia termasuk sastrawan yang paling gigih menopang bayangan ideal Indonesia, namun dia pula yang paling menderita oleh melebarnya jarak antara Indonesia dalam bayangannya dan Indonesia dalam kenyataan sesungguhnya.

Indonesia yang dibayangkan Pram adalah Indonesia yang bebas dari segala bentuk penjajahan dan ketidakadilan, sebuah bangsa yang sanggup mengubur segala bentuk feodalisme sekaligus mampu menyuburkan modernitas dengan revolusi ilmu dan teknologinya. Tak ada yang melampaui Pram dalam menuliskan dengan hangat makna kata “modern” dan “menjadi manusia” dalam bahasa Indonesia, bahasa yang diadopsinya, dan yang dia ikut upayakan tumbuh menjadi bahasa modern.

Ketika Indonesia sedang berjuang mempertahankan kemerdekaannya, Pram ikut memanggul senjata memerangi Belanda dan sekutunya yang hendak menjajah kembali bangsa muda ini. Pram terlibat dalam bentrokan maut dan sempat menjadi tahanan Belanda selama tiga tahun: masa yang ia hadapi dengan menulis cerita pendek dan novel. Begitu kedaulatan Indonesia sudah dikukuhkan, Pram meninggalkan senjata api dan sepenuhnya memilih aksara untuk untuk merawat dan membangun negeri yang ia ikut dirikan. Ia menggunakan aksara antara lain untuk mengupas penyakit kronis yang bersarang di tubuh Indonesia, untuk menggali sekaligus mengukuhkan akar-akar kebangsaan Indonesia yang tumbuh di tengah arus pertarungan kekuatan sosial-politik dan sejarah dunia.

Aksara yang disusun Pram tumbuh dengan kekuatan yang membuat Pram dianggap sebagai penulis prosa fiksi terpenting di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Bagi Andreas Teeuw, ahli sastra Indonesia yang disegani, Pram adalah “sastrawan terbesar Indonesia Abad ke-20.” Banyak pembaca sastra yang menyetarakan Tetralogi Pulau Buru dengan War And Peace Leo Tolstoy. Kolumnis Tariq Ali menyebut Perburuan, novel Pram yang disusun dalam penjara Belanda, lebih unggul dalam hal komposisi dan kandungan dari fiksi-fiksi Albert Camus, sastrawan Perancis pemenang Hadiah Nobel 1957. Pram yang sering disejajarkan dengan pengarang Rusia pemenang Nobel Sastra 1970, Alexandr Solzhenitsyn, karena sama-sama mengalami pembuangan yang kejam, telah lama diusulkan oleh sejumlah pihak sebagai wakil Asia untuk Hadiah Nobel Sastra.

Pram lahir sebagai anak sulung, pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah. Ibu Pram adalah putri seorang pemuka agama: perempuan keluarga terpandang yang oleh adat dilarang menyapu dan masuk dapur. Kehidupan yang berubah sulit membuat ibu yang sangat dihormati Pram itu harus menopang keluarga dengan bekerja kasar mengolah sawah dan pekarangan, bahkan berjualan nasi. Ayah Pram seorang bangsawan kecil yang sempat mengajar di sekolah dasar milik Belanda. Ia kemudian memilih jadi kepala sekolah “liar” milik organisasi pelopor pergerakan nasional Boedi Oetomo, dengan gaji yang sangat kecil dan masa depan yang tak pasti sebagai penampik pemerintah kolonial.

Menurut pengakuannya sendiri, Pram bukanlah anak yang dianggap cerdas. Ketika pendidikan dasarnya rampung dan ia hendak lanjut ke sekolah menengah, ayahnya dengan tegas menyuruhnya kembali mengulang di sekolah dasar. Meski sakit hati, Pram tak mundur menempuh pendidikan ulang dan sempat mengenyam bangku Sekolah Teknik Radio di Surabaya. Serbuan Jepang membuat Pram tak sempat diwisuda, dan ia kemudian bekerja sebagai juru ketik di kantor berita Jepang “Domei” sampai tahun 1945. Dari juru ketik yang dianggap bebal bahkan oleh ayahnya sendiri inilah, kelak lahir rentetan paragraf yang pengaruhnya bagi sejarah sastra dan intelektual Indonesia Abad ke- 20 tak akan pernah bisa dihapuskan.

Selama hidupnya, Pram menghasilkan lebih dari 20 karya utama, dan sejumlah terjemahan dan suntingan. Ia menulis dalam semua bentuk utama sastra, termasuk puisi ? sajaknya, menurut catatan, ada 3 buah. Esei panjangnya Hoakiau di Indonesia, yang berusaha membela hak asasi warga keturunan Cina adalah dokumen berharga yang menentang rasialisme negara dan masyarakat. Cerita-cerita pendeknya yang ditulis di sekitar masa Perang Kemerdekaan, punya mutu sastra yang sulit ditandingi. Surat-suratnya yang ditulis selama di pembuangan dan kemudian terbit dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggeris menjadi The Mute’s Soliloquy) menghadirkan dengan liris kemampuan manusia bertahan di sudut dunia yang menistakan martabat. Tetralogi Pulau Buru membuat Pram kian dikenal luas oleh khalayak sastra dunia dan jadi pahlawan pujaan di kalangan tertentu pembaca muda di tanahairnya.

Sejak penganiayaan dirinya di tahun 1965, hingga di hari kematiannya, pada 30 April 2006, ada satu kehilangan yang sangat menyesakkan dada Pram. Kehilangan itu bukanlah dirampasnya kebebasan dia oleh Rejim Soeharto selama dua dasawarsa, dengan 10 tahun di pembuangan Pulau Buru: Pram adalah seorang Faustian yang tak gentar menanggung akibat pendiriannya, termasuk bila harus mati seratus kali. Kehilangan yang paling menyakitkan hatinya itu, yang juga kerugian besar dunia Intelektual Indonesia, adalah hancurnya perpustakaan pribadinya yang menampung sekitar 5000 judul buku, sejumlah besar dokumen dan kliping serta sekian jilid manuskrip susunan Pram. Di antara dokumen itu adalah bahan penyusun Ensiklopedia Indonesia, sejumlah cerita pendek karangan Bung Karno, karya-karya sastra pra-Indonesia dan naskah tentang sejumlah perempuan istimewa yang punya peran khusus dalam sejarah Indonesia.

Ketika Pram diciduk di tahun yang penuh darah itu, ia bahkan menawarkan perpustakaan itu kepada penguasa dengan harapan isinya dapat dimanfaatkan. Tapi, penguasa yang memusuhi Pram tak begitu tertarik menyelamatkan sejarah Indonesia dan lebih suka menumpuk kekuasaan, dengan cara apapun, termasuk dengan menghancurkan dan menyelewengkan sejarah. Penguasa milter yang tak cukup terdidik untuk menghimpun sikap yang bermatabat pada aksara itu, bukan hanya membakar buku-buku koleksi Pram; mereka bahkan melarang Pram menyentuh kertas dan kemudian memberangus buku-buku baru Pram, termasuk buku yang dilahirkan di pembuangan. Karena mengedarkan novel Pram, tiga anak muda dibekuk lalu dipenjara 8 tahun; hukuman konyol yang bahkan pemerintah kolonial Belanda pun tak pernah jatuhkan.

Kini Rejim Soeharto sudah tumbang, dan karya-karya Pram, anak-anak rohaninya, telah menyebar, meski secara hukum masih terlarang. Beberapa di antara karyanya telah diterjemahkan ke dalam sekitar 40 bahasa. Tak semua karya Pram menunjukkan pencapaian mutu sastra yang menakjubkan ? kadang-kadang kepiawaian berbahasa dan imajinasinya tampak sungguh bersahaja; tapi, karya-karya tersebut memang bukti ketangguhan yang tak tertandingi untuk membangunkan pembaca menyadari kehadiran kaum yang tertindas dan sisi kelam masyarakat, untuk mempererat solidaritas kebangsaan, sembari membentangkan wawasan sejarah dan dunia yang rasional buat bangsa muda yang sedang menjadi.

Pramoedya Ananta Toer memang milik abad ke-20, tapi dengan warisan yang berharga untuk abad 21.
***

_________________
*) Nirwan Ahmad Arsuka lahir di Kampung Ulo, Barru, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan formal di Teknik Nuklir, FT-UGM, 1995. Semasa awal kuliah di Yogyakarta, ia ikut mendampingi anak-anak dan warga Pinggir Kali (Girli) Code. Bersama teman-temannya ia kemudian mendirikan kelompok studi MKP2H (Masyarakat Kajian Pengetahuan, Peradaban dan Hari Depan) dan kelompok aksi GEMPURDERU (Gerakan Masyarakat Purna Orde Baru). Pernah bekerja sebagai wiraswastawan, sebelum diundang menjadi editor tamu untuk Sisipan Budaya Bentara Kompas, anggota Dewan Kurator Bentara Budaya Jakarta (BBJ), dan direktur di Freedom Institute. Tercatat sebagai associate member The Long Riders Guild, organisasi internasional pertama para penunggang kuda jarak jauh sedunia.
Selain di Harian Kompas, tulisannya juga pernah muncul di jurnal Inter-Asia Cultural Studies dan International Journal of Asian Studies. Bukunya yang telah terbit, Two Essays (BTW, Lontar, 2016. Edisi 3 bahasa: Indonesia, Inggeris, Jerman), Percakapan Dengan Semesta (Yogyakarta: Circa, 2017) dan Semesta Manusia (Yogyakarta: Ombak, 2018). Sejak 2014, bersama sejumlah kawan, ia aktif membangun Jaringan Pustaka Bergerak Indonesia, gerakan literasi yang mengandalkan kekuatan masyarakat dan menyebar dengan kudapustaka, perahupustaka, bendipustaka, motorpustaka, dan aneka wahana pustaka lainnya.

Terbit juga di situs Goethe-Institut
https://arsuka.wordpress.com/2008/09/14/pram-goethe-id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *