DIKA, DAVID, DAN NASIB


Eddi Koben

Hampir setiap hari saya melihat kedua bocah pemulung ini. Namanya Dika dan David (Nama samaran). Mereka kakak beradik. Posturnya sama kecil dan kurusnya. Hanya, kakaknya tampak lebih tinggi.

Setiap hari mereka berjalan tanpa alas kaki dari arah utara. Karung besar digendong di punggung kedua bocah itu hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya. Rambutnya yang memerah serta pakaiannya yang kumal mempertegas kondisi mereka yang tak terurus.

Sudah lama saya ingin memberi paket sembako titipan sedekah dari Anda, Kawan. Tapi, selalu saja tidak kebagian karena kehabisan. Tapi, hari kemarin mereka beruntung. Saat melintas di depan kios saya, mereka langsung saya panggil.

Kedua bocah itu langsung berhenti dan menghampiri saya. “Ini bawa ke rumah, ya!” kata saya sambil menyodorkan dua kantong plastik berisi sembako. “Kalian mau ke mana? Sini duduk-duduk dulu, panas…!”

Memang siang itu cuaca sedang terik-teriknya. Kedua bocah pemulung itu langsung menuruti ajakan saya. Saya sodorkan pula buah potong dari dalam kulkas. Mereka menerima dengan malu-malu. Tidak dimakannya, tetapi dimasukkannya ke dalam kantong plastik sembako tadi.

Saya terus menanyai mereka karena penasaran. Sang Kakak lebih aktif berbicara. Si adik hanya sesekali menimpali. Dari keterangan keduanya, didapatlah cerita yang cukup bikin hati saya terenyuh.

Mereka tinggal di kampung sebelah utara kios saya. Jaraknya sekitar 1 km dari kios saya. Setiap hari melintasi kios saya untuk menuju Kp. Babut di Jl. Cihanjuang Cimahi Utara. Untuk menuju Kp. Babut jarak tempuhnya sekitar 3 km lagi. Di kampung itu mereka memulung. Hasil memulungnya mereka jual ke pengepul di Kp. Ciawitali. Saya melongo mendengar penuturannya. Tanpa alas kaki mereka berjalan menyusuri aspal panas?!! Ah…!

“Kalian sekolah?”
“Nggak!” jawab Dika.
“Kamu juga?” selidik saya pada David.
David hanya menggeleng lemah. Lalu menunduk menggores-goreskan jari telunjuknya ke lantai berdebu depan kios.

Saya makin penasaran. “Kenapa sampai nggak sekolah?” desak saya.

Dika lalu bercerita tentang asal-usulnya. Mereka mengaku berasal dari Lampung, tepatnya dari Bakauheni. Mereka diajak kabur oleh ibunya ke Cimahi ini karena ayahnya punya istri lagi.

Di Cimahi mereka bertemu dengan seorang pemulung kemudian menikah. Tinggallah Dika, David, dan ibunya bersama pria itu di Kp. Cipanas KBB. Mungkin Dika dan David diajari memulung oleh ayah tirinya itu.

Dari pernikahan dengan pria pemulung itu, ibu mereka dikaruniai 2 orang anak. Yang satu berusia 2 tahun, sedangkan satunya lagi masih bayi alias baru lahir.

Yang membuat saya kaget, Dika dan David mengaku memulung untuk membeli susu kedua adiknya. Katanya, ayah tiri mereka sudah tidak bekerja. Ibunya pun tak memungkinkan bekerja karena harus mengurus si adik yang masih kecil-kecil. Mereka hanya menggelengkan kepala saat saya tanya alasan ayahnya tidak bekerja.

“Kalau kamu sekolah, sekarang harusnya kelas berapa?”
“Mungkin kelas 1 SMP,” jawab Dika.
“Kalau kamu?” tanya saya ke David.
“Kelas 4!
“Kalian mau sekolah lagi?” Saya coba menawari. Mereka menggeleng. “Kenapa?” kejar saya.

“Kalau sekolah nanti nggak bisa mulung. Nggak bisa beli susu buat adik. Kasihan ibu,” jawab Dika. “Ya, Tuhan…!” gumam saya. Kenapa mereka mesti mengalami nasib demikian sulit? Anak-anak sekecil itu harus menjadi tulang punggung keluarga? Harus menanggung beban keluarga?

Ini tidak adil! Harusnya negara hadir dalam hal ini. Minimal RT dan RW mengetahui kondisi mereka beserta keluarganya. Kalau mereka masih seperti itu, masih memulung, berarti ada pembiaran.

Saya coba tawari mereka untuk “bersekolah” di kios saya. Saya sodorkan buku komik bacaan anak saya sebagai buku pegangan mereka untuk bersekolah di kios saya. Mereka menggeleng. “Saya harus memulung, Pak! Saya harus beli susu!” jawab Dika lantang.

Saya tak bisa berbuat banyak. Hanya tatapan iba mengantarkan ketika mereka beranjak pergi dari depan kios saya. Memulung.

26 Juli 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *