JIKA SUDAH TERAMAT LELAH, SEJENAK MEMBACA DAN NGOPILAH!


Anton Wahyudi *

Ada pepatah klasik yang mengatakan bahwa musuh sekaligus teman terbaik kita adalah kebiasaan. Kebiasaan hakikatnya selalu bersifat abstrak, tapi bisa diciptakan dengan cara, metode-metode, dan kedisiplinan. Butuh kedisiplinan yang kuat untuk membentuknya: –menciptakan kebiasaan, agar pada akhirnya bisa membuahkan hasil nyata. Hasil yang dapat diprediksi seketika, bisa bermakna atau memberi kesan-pesan, sekaligus pada akhirnya bermuara memberi kebermanfaatan yang nyata bagi tiap-tiap pelakunya.

Membaca dan ngopi adalah salah satu contoh sederhana tentang kebiasaan. Kebiasaan yang barangkali saja bisa kita anggap abstrak, akan tetapi tetap bersifat nyata adanya. Kebiasaan yang bertujuan, yang menghasilkan, yang bisa dilakukan untuk menyenangkan kehidupan. Seperti layaknya kebiasaan gerak-laku salat berikut doa-doa atau ayat-ayat pendek yang mengiringinya. Gerak dan doa yang berjalan beriringan, — tanpa ada unsur dipaksakan atau memaksakan. Spontanitas adanya. Tapi, pahami hasil akhirnya. Pastilah berasa dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Berpikir jauh atau secara mendalam tentang kebiasaan –dalam konteks pikiran dan tindakan nyata, saya teringat pernyataan tajam Theodore Roosevelt, presiden termuda Amerika Serikat ke-26. Presiden yang diusung Partai Republik dan menjabat dua periode dari tahun 1901-1909.

Sebagai seorang politisi, penulis, ahli alam, sang penjelajah, sosok konservasionis, prajurit sejati, sekaligus sejarawan terkemuka, Theodore Roosevelt pernah berkata lantang tentang dirinya. “Saya tidak pernah peduli apa yang orang lain pikirkan tentang apa yang saya lakukan. Tetapi, yang terpenting, saya sangat peduli tentang apa yang saya pikirkan, sekaligus tentang apa yang saya lakukan. Itulah yang disebut karakter,” tuturnya, dengan pancaran warna kalimat yang penuh semangat menggelora. Coba, pikirkan, pahami, lalu resapi arti sekaligus maksud terpendam pernyataan lantang itu dengan kepala dingin dan hati bahagia. Selami makna dalamnya!

Tentunya, dalam menjalani hidup yang penuh dengan misteri ini seringkali kita berada pada titik jenuh. Pada akhirnya kita merasa lelah, ingin menyerah, pasrah –tanpa mau berpikir kritis tentang apa alasan dasar atau pemicunya. Lalu, pada akhirnya terbesit sekilas satu pertanyaan di pikiran kita: apa sejatinya yang sedang kita inginkan, seketika?

Kita akan spontanitas berpikir, lalu mendapatkan jawabannya. “Saya ingin menjalani kehidupan ini dengan menyenangkan, bahagia!” batin kita, sekejap saja. Lalu, pada akhirnya muncullah satu anak pertanyaan yang membuntutinya. “Bagaimana caranya? Cara yang barangkali paling sederhana!”

Tentulah jawaban-jawaban yang akan muncul secara spontanitas dan menyerbu anak pertanyaan itu pastilah bervariasi. Lalu, pada akhirnya hanya satu jawaban yang akan kita pilih, sebagai alternatif atau solutif. Maka, satu jawaban sebagai pernyataan berbunyi, “Jika ingin menjalani kehidupan ini dengan menyenangkan, dengan kebahagiaan, maka carilah dan tentukan satu visi pribadi yang menarik sebagai pilihan”.

Visi yang mampu menghidupkan nyala api semangat dalam diri, yang mampu memberi kekuatan atau energi tak tertandingi. Visi pribadi yang paling menarik, visi yang bisa atau mudah dijangkau dengan waktu dan energi, visi yang bisa dicapai atau diraih dengan sederhana –tanpa muluk-muluk, yang juga pada akhirnya bisa meringankan atau membantu kita menyingkirkan aktivitas-aktivitas yang menghalangi ruang gerak kita.

Hingga pada akhirnya visi pribadi itu bisa menangkap kelebihan-kelebihan kita, bisa menguatkan kepercayaan diri kita, bisa menangkap sekaligus merespons sisi-sisi positif, sifat-sifat, atau lelakuan unik yang mendorong kita bisa menemukan nilai-nilai. Nilai-nilai yang pada akhirnya bisa menyentuh hati kita yang paling terdalam, tanpa batas atau ujung, hingga bertemu pada satu titik. Satu titik kebahagiaan yang sesungguhnya. Satu titik yang bisa menggerakkan diri kita. Menjadi pribadi-pribadi kreatif, pribadi-pribadi yang kuat, pribadi-pribadi yang futuristik, dan lain sebagainya.

Ya, begitulah namanya kehidupan. Kehidupan penuh dengan misteri. Kehidupan penuh dengan mimpi-mimpi dan imaji. Kehidupan begitu galak. Hampir sama galaknya seperti lagu Bojo Galak. Lagu so sweet yang diciptakan oleh Pendhoza, salah satu grub band asal Imogiri Yogyakarta, yang juga pernah dipopulerkan Via Vallen dan Nella Kharisma. Bahkan, salah satu lirik atau kalimat di dalam lagu itu sampai sekarang booming dan menjadi visi pribadi-pribadi dalam menjalani kehidupan agar diselimuti kebahagiaan. “Kuat dilakoni, lek ra kuat ditinggal ngopi” (Jawa: kuat dijalani, tak kuat ditinggal minum kopi).

Dengan demikian, jika sudah merasa lelah tidak perlulah gelisah. Tidak perlulah dirisaukan dengan putus asa. Cukuplah luangkan sejenak waktu untuk membaca seketika sembari ngopilah di mana pun berada dengan tumakninah. Mari, membaca, ngopi, sembari sejenak berpikir tentang kekuatan-kekuatan pribadi. Temukan salah satu kekuatan itu. Lalu, pertahanan dengan bahagia!

Omah Jambu, 12 Juli 2020

_________________
*) Anton Wahyudi, bermukim di Dusun Jambu RT/RW: 2/2, Desa Jabon, Jombang. Mengelola Jombang Institute, sebuah Lembaga Riset Sejarah, Sosial, dan Kebudayaan di Jombang, Jawa Timur. Di samping aktif dalam kegiatan menulis, dan sebagai editor lepas, menjadi Dosen Sastra Indonesia di Kampus STKIP PGRI, Jombang. Buku terbarunya “Guruku, Ayahku, Kakakku Kwat Prayitno” (2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *