Labbayk; Asmara setelah Asmara dalam Puncaknya


Zehan Zareez

Masing-masing manusia punya cinta di hatinya. Semakin diolah dan ditanam, cinta itu akan kian subur membalut hati dan jiwanya. Dengan cinta, manusia bisa menundukkan gemerlap keruh kehidupan, dengannya pula, segala yang redup akan jadi benderang yang mencerahkan. Cinta itu anugerah yang butuh disyukuri agar kebaikan di dalamnya semakin berbuah.

Cinta belum berhasil menjumpai wujudnya sebagai benda yang terkasat. Karenanya, setiap mencintai bentuk; cinta akan memudar saat bentuk tersebut ditiadakan. Lahirlah istilah rindu sebagai bahasa yang mewakili pengertian cinta tanpa tatap muka. Lahirlah istilah gelisah sebagai akibat dari rindu yang diterjemahkan sebagai cinta. Padahal cinta tetap berdiri sendiri. Rindu hanya sebatas nyaring kokok ayam jantan yang menandai pagi mulai datang. Tergantung apakah telinga mau mendengar bunyi itu; atau tidak.

Di benak para kekasih cinta, labbayk bukan sebatas bahasa. Ia simbol sambutan setelah sambutan. Ketundukan pada cinta setelah ketundukan. Dan ia adalah cinta setelah cinta itu sendiri. Labbayk adalah ‘lubbu al makaan”, pusat sebuah tempat seseorang menetap dengan membawa komitmen ketaatan penghambaan kontinyu. Di dalamnya terkandung “lubbu as syai'”, sebuah ketaatan yang murni terhadap intisari sesuatu. Di sisi lain ia juga bermakna “ilbaab”, dekat — ialah kedekatan pada sesuatu setelah kedekatan.

Sesuatu yang ditempatkan di belakang setelah adalah puncak. Jika kita mencintai kekasih dengan ungkapan “aku mencintaimu sungguh”, maka labbayk adalah fitrah natural tersembunyi yang lahir setelah adegan-adegan cinta bentukan yang semu. Kita boleh jadi mencintai aktifitas minum kopi. Tapi labbayk letaknya tidak di situ. Labbayk ada dalam naturalisme yang natural setelah kita melewati prosedur puncak mencintai minum kopi itu.

Bahkan ketika kita berusaha mencintai simbolitas cinta itu sendiri, labbayk adalah titik yang jatuh setelah pemahaman bahwa sejatinya cinta ternyata benar-benar tidak dapat disimbolkan.

“Waghfir ilaahiy likulli al muslimiina bimaa # Yatluuhu fi al masjidi al aqsha wa fi al harami
Bi jaahi man baytuhu fii thoybatin haromun # wa ismuhu qosamun min a’dhomi al qisami”

Marhaban Arofah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *