MENYANYI (KAN) AYAT SUCI


Akhmad Faozi Sundoyo

“Kiai ini andaikan bersedia selalu tampil, ia akan dirindukan. Tapi Kiai Sutara tidak. Beliau bekerja sebagai pedagang di pasar setiap pagi, beternak kambing. Memenuhi kebutuhannya dan menikmati kesendirian dengan kemandirian, tekun dan bersahaja.”

Saya kutipkan sedikit dari panorama dalam Dalil Kiai Sutara.

Di era ini, biji kopi bagus dibungkus dengan harga mahal. Angkringan dan penyuka kopi pinggir jalan tak akan pernah tahu kedalaman rasa kopi. Jangankan aneka watak rasa “single origin” dan beragam metode seduh kopi, untuk tahu Arabica dan Robusta saja, rabun lidah mereka. Penikmat kopi di kampung dan santri sarung, mungkin hanya mengenal dua jenis kopi: kopi enak dan kopi encer.

Dari kisah kopi yang mahal, pengetahuan dan agama ikut-ikutan “mahal”. Walaupun tak semahal koleksi di dalam garasi mobil para Youtuber, ilmu agama masih terlalu mahal bagi ibu-ibu buruh tani dan bapak-bapak penggembala bebek di sawah-sawah dan pinggiran kali. Saya pernah berkawan dengan “pencuri buku” perpustakaan kampus. Dia mengeluhkan mahalnya harga pengetahuan. Baginya, kampus hanya menyediakan perangkat untuk lulus, jadi sarjana. Asupan bacaan adalah persoalan belakang, ketika biaya-biaya ini dan itu telah diselesaikan di depan. Soal manusia menjadi pandai berbijaksana, itu urusan lain yang diserahkan (mungkin) pada Tuhan. Lantas tak aneh bila buku-buku jadi mahal, karena Tuhan tidak menyediakan toko buku gratisan. Mungkin mahalnya pendidikan ini ada hubungan sanak karib dengan fenomena adanya “pengajar profesional” yang sibuk menjual nama; bukannya sibuk dengan pengetahuan dan pendidikan. Atau yang agak lumayan, menjual bukunya sendiri. Buku dicetak sendiri, dan dipasarkan sendiri. Setelah itu, dicatatkan dalam portofolio pencapaian karier hingga dari hal itu menjadikannya guru besar.

Padahal tanpa masalah-masalah internal yang tersebutkan di atas, dunia pendidikan kita telah berada di tubir kegamangan. Dari teropong Sardar misalnya, dia melihat perubahan masalah hidup yang bertumpang-tumpengan dengan isu ideologi ekonomi dan teknologi, menjadikan produk kurikulum nyaris saja ambyar. “Masalah-masalah (realitas) ini terus berubah dan semakin rumit dari hari ke hari. Lebih lagi, tingkat perubahan itu sendiri berubah” (Ziauddin Sardar, 1987: 324). Untuk itu semua, ilmu pengetahuan butuh berterus terang bahwa dirinya butuh pendekatan ekstra ordinary dan butuh saling bergandengan dengan zaman. Maksud dari kegamangan ala Sardar ini adalah adanya tantangan kontekstual yang melekati setiap sarjana, ulama, dan para pakar keislaman. Hasil yang dipelajari di sekolah, kampus dan meja baca mereka, diuji oleh realitas. Teologi misalnya, sekarang telah ditarik-tarik ke dalam diskursus politik. Calon pemimpin ini dan calon pemimpin itu dibungkus sedemikian dengan sorban teologis. Sehingga memilih satu kubu politik, bisa menjadikan seseorang masuk neraka dan dikuburkan tanpa protokol penghormatan. Benar-benar (nyaris) ambyar. Kebodohan memang menyebalkan, tetapi kebijaksanaan akan selalu jadi sandaran. Umat manusia berakal waras tak boleh lelah. Seperti Nuh-nya Subagyo Sastrowardoyo: “Aku akan menyerah diam, waktu air membenam”.

Di sela himpitan kegamangan dan kerinduan akan sosok bijaksana, Taufiq Wr. Hidayat menuliskan kisah unik seorang Kiai Sutara.

Kiai ini mengukuhi jalan hidup seorang arif yang membungkus dirinya dengan tampang biasa. Ala kadarnya, sebagai seorang tua yang gemar kopi dan rokok. Bangun sebelum fajar, mengolah raga dengan bekerja. Mendiami keindahan dengan merawat koleksi bonsai-bonsai kreasi sendiri. Ketika lelah, dia bersandar di kursi goyang kesayangannya sambil menyetel lagu-lagu lawas. Dangdut, keroncong, nada padang pasir, simphoni orchestra, baginya sama saja.

Menurut kisah penuturan santri-santrinya, kiai ini masih sempat mengajar alif-ba-ta kepada anak-anak di kampungnya. Padahal koleksi kitab-kitabnya luar biasa banyak dan mumpuni. Dari “Sullam Taufiq” yang fiqih sampai filsafat-filsafat kuno Yunani. Kiai Sutara menghindari kerumunan pengajian panggung. Baginya, ceramah hampir setara dengan serapah bila disampaikan sebatas kata saja. Ilmu bagi kiai Sutara adalah sumsum dan nafas. Mengalir terus-menerus, meraga sampai batas terkecil sel darah. Jadi antara ilmu bacaan dan kelakuan, sudah jadi satu: laku hidup.

Di balik keriuhan budaya kerja dan etos profesionalitas canggih, manusia-manusia zaman kini sering dihinggapi penyakit kejiwaan dan mental yang menggidikkan. Menurut Rollo May, seorang psikolog aliran eksistensialisme, bahwa manusia kekinian adalah manusia yang kosong, sepi dan cemas (Ina Sastrowardoyo, 1991: 54). Mereka—yang mungkin juga saya—suwung orientasi hidup. Jangankan arah tuju kehidupannya, siapa dirinya saja tidak mampu dirumuskan. Kondisi ini menjadikan seseorang selalu merasa “di luar”, tidak diterima oleh dunia. Akhirnya mereka selalu waswas. Cemas kepada semacam bahaya yang tidak jelas dan tidak tampak. Kecemasan yang lebih kompleks dan lebih samar dari hantu pandemi saat ini.

Kiai Sutara adalah kebalikan dari cerita suwung itu tadi. Kiai Sutara nampak tidak pernah terlihat ragu-ragu. Kecemasan adalah nama lain dari kemustahilan baginya. Justru dari dirinya, orang-orang yang sowan ke ndalem beliau mendapatkan tingkat kebeningan pengetahuan baru. Pengetahuan tentang hidup yang selalu merujukkan pada cahaya kenabian dan kesucian ilmu ilahi. Biasanya setelah sowan dari kiai Sutara, orang-orang menjadi punya semacam gairah baru terhadap kehidupan. Kiai Sutara seringkali tidur begitu saja, walaupun masih ada satu-dua tamu. Rumahnya tidak pernah dikunci.

Bagi yang betah berdiam di rumah beliau, akan dirasakan ketenangan yang unik. Ketenangan harmonis dari nyanyian ayat suci kehidupan seorang alim yang sederhana, bersahaja dan menerima siapa saja sebagai santrinya.
***

DALIL KIAI SUTARA
Penulis: Taufiq Wr. Hidayat
Penerbit: Pusat Studi Budaya Banyuwangi
14×20 cm
Tebal buku: V+319 halaman
ISBN : 9-786025-352133
Cetakan pertama: Juli 2020
Harga buku: Rp70.000,-
(sudah termasuk ongkos kirim ke wilayah Jawa/luar Jawa menyesuaikan)
Pemesanan buku dapat menghubungi akun Facebook Idrus Efendi dan Yanuar Widodo

Link-link tulisan yang membahas Dalil Kiai Sutara:
https://sastra-indonesia.com/2020/07/kiai-sutara-saja/
https://sastra-indonesia.com/2020/07/kiai-zaman-now/
https://sastra-indonesia.com/2020/07/aku-dan-kiai-sutara/
http://sastra-indonesia.com/2020/07/islam-isi-yang-sehari-hari/

One Reply to “MENYANYI (KAN) AYAT SUCI”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *