Potret Pantura dalam Karya Sastra Telembuk


Judul Novel : TELEMBUK Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat
Penulis : Kedung Darma Romansha
Penyunting : Dian Dwi Anisa
Pemeriksa aksara : Maria Puspitasari
Cover : Nugroho Daru Cahyono
Penata letak : Azka Maula
Penerbit : Indie Book Corner
Cetakan : Pertama, Mei 2017
Tebal Buku : xiv + 414 hlm
Nomor ISBN : 978-602-3092-65-9
Peresensi : Faris Al Faisal

JARANG sekali ada karya sastra yang membicarakan Pantura apalagi Indramayu. Adalah Kedung Darma Romansha, penulis kelahiran Indramayu yang lama merantau ke Yogyakarta ini menulis sebuah novel yang memotret kehidupan masyarakat pantura Indramayu dengan judul TELEMBUK.

Entah dari mana sumbernya, konon selain dikenal sebagai kota mangga, Indramayu juga diketahui sebagai daerah penghasil telembuk terbanyak dan tercantik. Telembuk adalah istilah lokal Indramayu untuk menyebut perempuan Pekerja Seks Komersial (PSK) yang cenderung memiliki konotasi negatif seperti halnya lonte dan perek. Sesuatu yang tidak bisa ditutup-tutupi atau dibiarkan terbuka begitu saja. Kedung Darma Romansha dengan berani dan penuh perhitungan justru memberi judul Dwilogi Slindet yang keduanya setelah yang pertama Kelir Slindet yaitu TELEMBUK Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat. Lalu seperti apa jadinya bila telembuk diangkat ke dalam sebuah karya sastra?

Dalam Prolog, Kedung Darma Romansha menuliskan, “Bagi yang belum mendengar cerita “Kelir Slindet,” saya akan ceritakan sedikit di bawah ini. Dan bagi yang sudah mendengarnya, langsung saja buka “Telembuk”nya. (halaman ix).

Ini sebenarnya dengan sangat halus, penulis novel TELEMBUK ini mengajak pembacanya untuk mengetahui terlebih dahulu ringkasan atau bila mau membaca terlebih dahulu novel Kelir Slindet agar cerita yang dibaca akan saling berkelanjutan sehingga tidak ada yang terpotong.

Novel TELEMBUK Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, Kisah Cinta yang Tak Selesai dibagi menjadi 43 sub bab dan bagian kedua, Sepenggal Kabar dari Kota Mangga dibagi menjadi 29 sub bab. Kedua bagian novel itu, sub babnya ditulis dengan penomoran tanpa judul seperti ditemukan dalam novel Layar Terkembang karya St. Takdir Alisjahbana cetakan pertama, 1937 penerbit Balai Pustaka.

Ketika membuka paragraf awal, Kedung Darma Romansha sengaja mengawali dengan pembukaan latar tempat dan suasana yang melibatkan tokoh cerita dalam romantisme alam, walaupun kemudian ia menyatakan jika gaya seperti itu terlalu banyak dipakai dalam novel-novel. Hampir ratusan kali saya menemukan cerita dengan pembukaan semacam ini. Saya tidak menghina, itu hak siapa pun untuk menulis gaya semacam ini. Tapi sebagai anak muda bajingan seperti saya, cerita di atas bukanlah selera saya. (halaman 3).

Maka akan kita dapati, penuturan cerita yang benar-benar berbeda. Kontradiktif dengan sebagian selera pembaca misalnya, terutama penikmat novel yang menyukai genre romance. Beberapa percakapan atau dialog yang di antaranya menyelipkan umpatan, makian dan kata-kaka tidak senonoh yang memang tidak bisa dipungkiri masih begitu kental dalam percakapan-percakapan masyarakat Pantura seperti kirik, kopok, koplok dan lain sebagainya.

“Kirik! Diva terperanjat. Ia baru ingat kalau hari ini manggung di Organ Tunggal Langlang Buana pimpinan Mang Dasa dari desa Haurgeulis. (halaman 4).

Cerita bergulir. Semenjak kabur dari Cikedung, Safitri memilih menjadi seorang telembuk sekaligus penyanyi dangdut. Suara yang merdu, kecantikan wajah dan keseksian tubuhnya, ia menjadi bintang dangdut dengan nama Diva Fiesta. Dalam kehidupannya yang baru itu, ia kenal dengan Mak Dayem, seorang wanita tua mantan telembuk yang banyak mengajarinya. Ia juga dipertemukan dengan Mang Alek, seorang laki-laki yang menolong Safitri dan membuatnya jatuh hati tetapi tidak pernah mau bercinta dengan Safitri dan justru lebih memilih telembuk lain.

Dari sinilah kisah ini kemudian terus bergulir jauh, rahasia-rahasia Diva Fiesta dan kaitannya dengan menghilangnya Safitri perlahan mulai terungkap. Perjalan hidup Diva Fiesta, kisah pilu Safitri, cinta Govar yang lama terpendam, kenangan Aan akan gadis yang pernah dipujanya, Mukimin dan cintanya pada Safitri yang timbul tenggelam, perasaan-perasaan yang muncul di benak mereka masing-masing, semua berkelindan dan membentuk jalinan cerita yang kian kelam dan makin suram.

Aku buka perutku di hadapan semua orang dan aku teriak kalau aku memang hamil. Pasti kalian ingin tahu siapa yang menghamiliku. Kenapa kalian harus tahu? Sepenting itukah aku bagi kalian? Lalu ketika kalian tahu siapa yang menghamiliku, kalian akan merasa puas? (halaman 192).

Membaca novel TELEMBUK ini akan membawa kita mengenali dunia prostitusi, panggung dangdut yang seronok, pergaulan para pemabuk dan tukang kelahi. Sudah pasti adegan seks dan kata-kata kasar bertaburan sebagaimana bau asap rokok, wangi parfum murahan, alkohol, suara dangdut tarling, perkelahian dan segala hal yang memiliki kaitan dengan dunia telembuk. Semoga penggambaran ini bukan menjadi kekurangan dari novel TELEMBUK.

Novel ini juga memberikan pandangan bagi pembaca bahwa telembuk dan prostitusi, punya sisi lain yang kerap membuat orang tutup mata dan telinga. Tidak ingin melihat dan mendengar. Padahal tidak ada yang tahu alasan, kenapa Safitri memilih menjadi telembuk? Sringnya orang-orang terlalu mudah menghakimi dan tergesa-gesa memberikan kesimpulan akan sebuah penilaian kehidupan.

Gaya penceritaan penulis dalam novel ini sesungguhnya menjadi daya tarik tersendiri. Penulis menempatkan beberapa sudut pandang. Satu dari pencerita atau narator dan beberapa dari para tokohnya. Dari sisi pencerita atau narator, penulis menyajikan kisah dalam posisi netral. Tidak menghakimi ataupun membela para tokoh. Tidak ada penilaian moral apapun. Sedangkan dari sisi para tokohnya; Safitri, Sapitri, Saritem, Sukirman, Mukimin, Kaji Nasir, Abah Somad, Kiai Sadali, Kaji Darmawan, Kaji Warta, Sondak, Govar, Kriting, Casta, Carta, Mak Dayem, Mang Alex, Kartam, Beki dan Aan lebih pada pergulatan batin mereka sendiri. Yang paling menarik dari menarik adalah justru tokoh Aan adalah pencerita atau narator itu sendiri.

Menyelesaikan membaca novel ini pada akhirnya bukanlah untuk menghakimi Safitri, Mukimin, Carta, Mang Alex, Mak Dayem, Govar, Sini, Saritem, Sondak atau siapa pun juga. Pembaca akan masuk ke kisah panjang perjalanan seorang telembuk yang dikemas Kedung Darma Romansha dengan eksperimental namun berdasarkan riset lapangan yang tidak sebentar. Masuk berarti mencoba memahami, masuk berarti berusaha menjadikan rahasia dari kelok kehidupan Safitri sebagai pelajaran hidup. Pilihannya adalah menyimpannya untuk diri sendiri atau menyebarkan cerita ini kepada orang lain.
***

https://www.harianbhirawa.co.id/potret-pantura-dalam-karya-sastra-telembuk/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *