Sajak-Sajak Kedung Darma Romansha

Kedaulatan Rakyat, 30 Okto 2016

Pesan Suami Kepada Istrinya

di hidup yang sekali ini
aku tak ingin kau cemberut
nanti kucubit mulutmu
dengan mulutku
agar terbang rasa sakit
dan lapang hati yang sempit

di hidup yang sekala ini
kita mesti berdandan rapi dan wangi
agar jam tanganmu tak dicuri hari.

(tak ada yang boleh tahu isi kamar kita
kecuali kenangan yang menempel di dinding rumah kita)

cinta yang ganjil ini
digenapi sunyi
kita berharap tuhan datang setiap hari
menjenguk kita
mengajak kita bicara
agar hati tak diikat yang fana

di hidup yang sekali ini
aku tak ingin hari kita kusut
sebab kau tahu
tangan takdir lebih panjang dari nasib

jangan tergesa
toh di depan ada lampu merah menunggu
kita tunggu sampai lampu hijau menyala
agar perjalanan tak hilang di pos penjaga

di hidup yang sekali ini
aku tak ingin kau takut
gelap itu sebab
sementara etrang niscaya
mari kubawa kau
ke tempat anak-anak menunggu
anak-anak bandel dan lucu
yang akan mengajari kita tertawa
dan bertahan menjaga cinta.

Tembi, 2016

Suatu Ketika di Depan Hotel Kozi

di depan hotel
seperti kawanan domba
mobil-mobil diikat oleh waktu
seorang satpam tertidur di kursi
lalu terbangun
ia ingin meringkas malam
dan menonton film india di rumahnya
di seberang jalan
kawanan remaja tionghoa mengulur malam
mereka ingin memakai lipstik sampai gelap padam
sementara di belakang restaurant
di kabel-kabel telepon yang melengkung
seekor gagak berkoak minta bangkai
di depannya dua lelaki india menunggu matahari
yang menyeruak dari aroma babi panggang
malam aberjaga di bangku di resepsionis
tak ada telpon berdering
lampu-lampu menunggu cahaya
kamar penuh dan menyimpan rahasia

di luar, malam merelakan dirinya tak pernah utuh
seperti perempuan menyeret-nyeret masa lalu
dan menceritakan kecemasannya
pada lelaki di depannya

di depan hotel,
Engkau datang di sepertiga malam
menatapku tak penuh-penuh
tak sudah-sudah

Johor Baru, 2016

Cinta Yang Lupa Ingatan

ketika melihat matamu
lampu kota padam oleh soriot magismu
sebab senyummu
sanggup menjinakkan jalangnya kota ini
manakala setiap paha perempuan terbuat dari keju
dan gedung-gedung dibangun dari kosmetik eropa

tak ada yang lebih harum dari perangaimu
ketika tuhan cemburu pada wajahnya sendiri
aku cepat-cepat mencurinya darimu

aku ingin memakan keju
dengan selai bibirmu
dan buah apel dadamu yang montok

aku ingin tersesat di hatimu
dan sengaja kau hapus alamatnya

aku ingin kau memaksaku dengan kasar
masuk ke dalam rumahmu
dan membuang kuncinya

aku ingin hidup bukan untuk masa silammu
karena kau bukan takdir kenanganku

dan untuk terakhir kali
aku ingin kau membangunkanku
dari mimpi tolol ini

Yogya, 2016

Kedung Darma Romansha, lahir pada tanggal 25 Februari 1984 di Indramayu, Jawa Barat. Alumni jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY, 2009) serta pascasarjana Ilmu Sastra di Universitas Gajah Mada (UGM, 2017). Sebagai sastrawan, karya-karyanya dipublikasikan di pelbagai media massa, baik lokal maupun nasional serta antologi bersama. Ia juga aktif dalam seni peran, teater dan film. Pada Agustus 2018, bersama Saturday Acting Club diundang oleh Asia Theatre Directors Festival TOGA, Toyama, Jepang, membawakan “The Decision” karya Bertold Brecht. Novelnya “Kelir Slindet” merupakan buku pertama dari dwilogi Slindet/Telembuk (2014), dinobatkan karya terbaik Tabloid Nyata. Novel keduanya “Telembuk, Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat,” masuk short list Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, serta menjadi buku yang direkomendasikan majalah Tempo kategori prosa, 2017. Novel itu juga salah satu yang terpilih dalam Market Focus, London Book Fair (Komite Buku Nasional, 2019). Dua buku puisinya, “Uterus” (2015), dan “masa lalu terjatuh ke dalam senyumanmu” (Rumah Buku, 2018). Yang segera terbit, buku kumcer perdananya “Rab(b)i”, dikonsep tidak seperti kumcer pada umumnya. Ia mengelola gerakan literasi di Indramayu, Jamiyah Telembukiyah, yang beberapa anggotanya terlibat dalam gerakan literasi jalanan, penyuluhan, dan pendataan terhadap Pekerja Seks Komersial di Indramayu. Anggota yang lain terlibat dalam gerakan sastra dan budaya di Indramayu. Program ini atas kerjasama dengan Universitas Wiralodra, telah mengundang beberapa sastrawan dalam negeri dan luar negeri, di antaranya Joko Pinurbo, Katrin Bandel, Afrizal Malna, Sosiawan Leak, dan Mubalmaddin Shaiddin dari Malaysia. Ia juga mengelola komunitas Rumah Kami/Rumah Buku di Yogyakarta.
https://klipingsastra.com/id/puisi/2016/10/pesan-suami-kepada-istrinya-suatu.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *