PUISI BAWANG MERAH DAN KOTA-KOTA YANG TERTAWAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Ada puisi yang mengusung persegi sepi, keperihan, dan patah hati.
Ada ingatan,
wajah-wajah datang,
meleleh di sungai usia,
menghanyutkan sehelai hati manusia ke lautan kenangan.

Mereka merayap. Dan gagap.
Kota-kota pun senja. Dan tetap saja.
Tertawan luka.
Senjakala.

Ada kota selalu gemerlap, tapi memberat. Tak pernah kehilangan siapa saja. Derita dan kesibukan, menciptakan keterasingan. Apa yang harus ditunggu selain usia, pensiun, tua, mati seorang diri. Tak ada yang mengenang siapa tertimbun dalam lupa, budak-budak masa, merana dalam penjara sosial-media.
Tanpa sejarah,
tanpa ingatan,
tanpa catatan-
catatan.

Di pintu dini hari, penanda waktu yang lelah, begitu fana melungsurkan sunyi ke sayat hati. Ada keteduhan ditegur keadaan, membawa serta mimpi-mimpi. Mimpi-mimpi yang lelap di dalam malam, tapi yang dicampakkan di dalam siang. Derita asing, diludah tiada tara.
Wajah-wajah purba,
melanjutkan hidup,
dengan luka di kepalanya.
Ada diri jatuh sepotong roti.
Dan mimpi yang dikerjakan mesin. Manusia berdesak bagai ternak.

Pertanyaan-pertanyaan membentur malam, seperti salak anjing jalanan. Perihal kehilangan, keganjilan-keganjilan,
dan tipu daya yang menjelma rutinitas. Kenangan siapa melintas di antara busuk mulut kekuasaan dan nabi-nabi palsu,
yang memandang manusia kerumunan binatang dan tiang-tiang.

Kota menyimpan peperangan dalam tubuhnya. Di antara tumpukan kertas-kertas tagihan, uang sehari-hari, wabah yang mirip tahayul, pendidikan, pil pegal-linu dan ketertinggalan yang tak ditemukan. Di antara harga-harga yang menggorok leher atas kehormatan manusia,
dalam korsleting peristiwa yang tak terselesaikan cukup dengan khotbah dan nasehat-nasehat gombal, atau cita-cita politik yang percuma.

Hujan memang belum datang, Jendral. Tapi malam belum pulang. Kata tak menyampaikan cerita, meninggalkan pelabuhan tua dari sejarah luka.

Hujan belum datang, malam berseteru kesepian, Jendral. Bahasa menggigil tanpa siapa-siapa. Dunia bagai kehilangan pengasuhnya.

Orang malam mencucup malam mengasing malam sudut malam,
terkapar malam,
ke lambung malam.

Perjalanan bagai tak pernah terselesaikan. Arloji tua dan angin mendesah. Di seberang sana, kemegahan menegakkan diri di antara tanda tanya dan malapetaka. Apakah kita sedang berperang, Jendral? Apakah kita tengah mengusir atau membungkam musuh-musuh negara? Apakah semua ini bukan kepentingan emas, anggur, dan hari tua?

Jalanan menyimpan tikungan dan persimpangan.
Tapi bahasa di layar sentuh, tak melepas derita yang fana.
Dan gelisah pun baka.
Seperti ingatan masa lalu yang selalu berdarah dan berdebu.

Lihatlah, Jendral.
Kota malam itu. Dibangun dari nestapa kata dan luka bahasa.
Huruf dan tanda baca menjelma bangkai nanah yang membeku, menjadi belulang berdebu, mengusung keluh dari waktu.
Cemas pelan-pelan menjadi candu yang lezat dan ganas.

Lokomotif peninggalan Belanda membayang di dua mata.
Kuasa pada kata menyisakan koyak-moyak percintaan kita, kekasih.
Dalam jejak derita.

Tukang!
Siapakah kamu?
Pesulap?
Badut gendut?
Pandai mengerjakan pertukangan. Jutaan mata terpesona, ringkuh, takjub, dan angkuh. Udara gerah. Hujan belum tiba,
malam belum mengemasi kisah-kisah air mata dan menanggalkan bajunya.

Selamat berakhir pekan, Jendral. Silakan melepas lelah di sofa darah, merenggangkan otot-otot, dan
mengurung hidung dalam akuarium. Siapa hendak mengembalikan kata pada ibunya. Menuliskan pesan pada secarik kertas perihal sesuatu yang harus segera.

Lupakan perjalanan dan kenangan yang pernah dikirimkan ke meja negara dengan setangkai bunga.
Ada gigi seorang pelacur yang tanggal, Jendral. Aromanya masih terkenang dalam sebilah dusta kuasa. Menjadi ketagihan pada nanah.

Kota malam lampu malam jalan malam, perih kelam, benam malam ke gelap malam. Orang-orang masih memperebutkan kemenangan, Jendral. Sebab kemenangan adalah di atas segala-galanya. Malam kandas di bawah sepatu petugas.

Tak kau sisakan kenangan dari tanda baca, tak kau tegaskan tanya dari yang tak terpecah.

Kata-kata senantiasa menjelma pidana, menebar di udara, menelan pil vitamin A, cairan pengharum lidah, dan kapsul anti-biotika.
Kuasa angkara yang fana,
menebar tanda bahaya dan wabah di udara.

Kau,
aku,
kita,
anak-anak kita menghirupnya.
Setiap tanya.
Punah.

Segala kenang sudah benam di tiap persimpangan jalan, Jendral. Seseorang menyusun rencana di dalam ruang gelap. Menghitung harap, bagai meletakkan ketakutan pada dirinya sendiri.
Apa yang kau pinta dari sunyi?
Penungguan yang kehilangan.
Ketakpastian yang mencekam.

Ada orang asing datang padamu, diam tak berparuh. Arloji tua mendetak. Sebuah dunia yang lalu, kopor berdebu dan surat-surat perjalanan yang rumit. Sepatu lusuh. Wajah kita. Di situ. Meluruhkan resah hujan. Dan waktu yang menua. Jendela-jendela retak cerita. Luka-luka yang saja menjelma. Duka, katanya. Masih menggantung di alis mata. Suara-suara bagai datang dari kegaiban.
Garis-garis mengiris.
Ada tanda tanya,
menyelinap ke bayang gerimis.

Keperihan tinggal kisah tak terpecahkan. Langit sedia menerima pula; pesan gelisah dari kemah-kemah derita. Tangis-tangis layu membayang udara berdebu. Kawanan ketakrelaan menggantung di tiang-tiang lampu merah, aneka tanda marabahaya, dan lengket di balik tas tua yang tak punya warna.

Ingatan yang jahanam, dan ketertindasan di kaki meja peradilan. Sejarah kita tak menegas batas yang terus diretas.
Tangan-tangan ungu.
Lepuh.
Mulut-
mulut menubuhkan keluh.

Sungai usia. Ini negeri siapa, membawa pergi kenangan tua.
Malam yang hina,
tanda silang.
Dan nasib sial.

Waktu menua,
kekasihku.
Kuasa masa,
masihkah
di
tangan
kita?

Tembokrejo, 2020

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *