Dua Puisi Wahyu Hidayat

WAJAH PUISI

/Halaman Belakang/
Hujan lebat membenam sepenuh tanah pada pot-pot kembang. Aku meringkas seluruh peralatan yang berantakan. Engkau mendekat dan pantulan matamu mengeriap sebagaimana pualam.

/Mata/
Air telah membuyar di sebagian wajahmu. Di kejauhan, perciknya mengaburkan pandangan. Aku mengusap kening. Engkau menyilap kenang.

/Wajah/
Wajah kita telah kontan dibasuh hujan. Aku berdiri memegang belati yang runcing. Engkau berdiri menyayat batin.

/Air/
Telah menggenang air di lubang tanam. Sebagian meluber, mengalir ke tikungan tanah yang lebih curam. Kita berjalan ke arah perteduhan. Sesampainya di beranda rumah: dadaku telah begitu basah.

/Beranda/
Aku baru hendak duduk. Suaramu pecah dan merambat melalui medium udara.

“Maafkan saya.”

/Bangku/
Aku batal menumpukan tubuh di bangku panjang. Sebab hujan telah mengakibatkan cermin di matamu teramat genang.

Mataku melesat ke pohon durian. Salah satu daunnya lepas–tepat saat hujan begini deras.

/Beranda/
Kita tak tengah mencangkok tanaman. Tapi, siapakah yang telah mengiris bawang?

Tegalsari, 2020

KHAT

Cinta yang biasa belaka
menggaris merah di bibirmu
kaki-kaki kecil yang riq’ah
melengkung rindu pada alismu

Jemari yang runcing seperti diwani
menghitam tinta
dan mengekal di dada.
Bacalah.
Bacalah
o, kekasihku,
Dada yang berjubel huruf atasmu.

Tegalsari, 2020

* Diwani dan riq’ah adalah jenis bentuk tulisan dalam seni kaligrafi arab.

__________________
Wahyu Hidayat, lahir di Banyuwangi 28 Oktober 1995. Pendiri Komunitas Tulis Graps, dan bergiat di Komunitas Tobong Karya. Beberapa kali mendapat penghargaan, di antaranya: Juara 2 Radar News Competition, Juara 3 lomba cipta puisi Dewan Kesenian Blambangan, masuk 20 besar sayembara manuskrip puisi Dewan Kesenian Jawa Timur, dan Juara 2 lomba cipta puisi 7 kota (Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan) yang diadakan Universitas Jember (UNEJ). Puisi-puisinya termuat di koran, majalah dan antologi: Banyuwangi dalam Langgam, Merangkai Damai, Sastrawan Jilid III, Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa, Puisi Sakkarepmu, Balada Tanah Takat. Kumpulan puisi pertamanya, Kesaksian Musim (2016). Santri Darussalam Blokagung. Dapat berkomunikasi melalui Facebook: Wahyu Lebaran atau Instagram: @wahyulebaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *