MENULIS PUISI
sudah lama rasanya aku tak menulis puisi
kata-kata yang kemarin menemaniku
sekarang berselingkuh dan menikam pisau karat
di dadaku
sebercak darah muncrat
menodai lantai kamarku yang lusuh
yang belum sempat aku bersihkan karena waktu
ia bercerita tentang luka
yang telah melahirkannya dalam sepi
dalam denyut nadi sendiri
tiba-tiba aku menulis puisi
dari kesetiaan darahku yang pasi
Balun, 2018
MEMBUNUH WAKTU
di tepi pantai aku membunuh waktu
dengan pisau rindu
aku menikam jantungnya yang basah
dan darah pun muncrat menjadi kenangan
dengan sengal napasku
aku seret tubuhya yang lelah
dan menghanyutkannya bersama ombak
biar tak ada lagi jejak berserak
Balun, 2018
TASBIH AIR MATA
aku pungut suara itu dari dalam kamarku
sebait rengek bocah yang menasbihkan air mata
kepada ibunya untuk sebutir permen pelangi
setelah hujan sore tadi
aku yang terusik suara itu
bergegas ingin tahu
berlari membuka pintu
yang sejak tadi terkunci jantungku
entah apa yang terjadi
bocah itu tak pernah hadir di mataku
aku hanya menyapa diriku tengadah di bawah lampu
sembari menjilat permen yang tinggal separuh waktu
Balun, 2018
MENGGAMBAR PELANGI
anakku, aku akan menggambar pelangi
di bawah terik matahari
setelah reda hujan ini hari
gambar ini sengaja aku buat untukmu
sebagai kado ulang tahun yang belum sempat
aku ceritakan kepada siapapun
termasuk waktu dan jantungku
anakku, aku ingin sendiri
kau mewarna gambarku
agar kau mengerti batas garis cakrawalamu
agar kau tahu lengkung mana yang kau sentuh
anakku, aku ingin di wajah senjaku
kau mengajakku bermain dengan pelangi itu
bersama darahmu. Seperti ini hari
aku yang mengajakmu berlari-lari
mencari separuh tubuh pelangi yang selalu sepi
ah tidak, esok aku hanyalah ringkih dan tak perlu berlari kembali, cukup kau pangku aku di bawah teduh pelangi
sesekali menembang asmaradana sembari menghapus pelangiku lelah
menanti rembulan dengan lesung pipi memerah
Balun, 2018
PENCURI, MALAM, DAN GERIMIS
sebuah malam dan sedikit gerimis
bertamu ke rumahku
mereka mengajakku bercanda dalam sepi
setelah lelah mengusik siang tadi
tiba-tiba seklebat bayang menyapa sunyi
dan mata-mataku menangkapnya.
dengan menjinjing kaki, mengendap-endap membuka
pintu belakang rumah yang masih terkunci
rupanya dua bayang-bayang yang sama,
sama rentanya.
mereka mengambil sebuah kotak dari brankas kamarku
aku pun berpaling dari teman candaku
membiarkannya dingin bersama secangkir kopi beku.
aku hadang bayang-bayang itu
tepat di depan pintu
“astaga, rupanya mereka adalah bapak dan ibuku”
ada rasa takut tumbuh di kebun matanya yang sayu
di dekapnya kotak itu, erat, hangat, seerat dan sehangat peluknya kepadaku
perlahan mereka benamkan kotak itu di dada kirinya;
“sebuah kotak yang berisi senyum, waktu, dan rindu”
Balun, 2018

Imamuddin SA, nama aslinya Imam Syaiful Aziz, lahir di Lamongan 13 Maret 1986. Aktif di Kostela, PUstaka puJAngga, FSL, FP2L, dan Literacy Institut Lamongan. Karya-karyanya terpublikasi di: Majalah Gelanggang Unisda, Majalah Intervisi, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, Majalah Indupati, Warta Bromo, dan Radar Bojonegoro. Puisi-puisinya terantologi di: Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Memori Biru, Khianat Waktu, Kristal Bercahaya dari Surga, Gemuruh Ruh, Laki-Laki Tak Bernama, Kamasastra, Tabir Hujan, Sehelai Waktu, Kabar Debu, Tabir Hijau Bumi, Bineal Sastra Jawa Timur 2016, Pengembaraan Burung, Ini Hari Sebuah Masjid Tumbuh di Kepala, dan Serenada. Prosa-prosanya terpublikasi di: Mushaf Pengantin, antologi cerpen Bukit Kalam, Hikayat Pagi dan Sebuah Mimpi, Bocah Luar Pagar, Hikayat Daun Jatuh, dan Tadarus Sang Begawan. Pernah dinobatkan sebagai Juara 3 Mengulas Karya Sastra Tingkat Nasional tahun 2010, Harapan 2 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Jawa Timur 2018, dan Juara 2 Lomba Menulis Puisi Se-Kabupaten Lamongan 2019. Nomor telepon 085731999259. Instagram: Imamuddinsa. FB: Imamuddin.
