Satu Puisi, dan Tiga Catatan Ibnu Wahyudi tentang Sapardi Djoko Damono


KETIKA 70 TAHUN

ketika telah tujuh puluh tahun
pernahkah engkau menyihir detik
atau mendengar percakapan daun
sedang engkau tengah risau dalam rintik
dan angin mengabarkan sisa usia
yang masih satu dasawarsa?

mungkin elanmu memang seperti sungai
terus menggericikkan sekian sulapan
sampai orang-orang kehilangan abai
sementara carangan rela berjejalan
merayu dirimu untuk dijadikan kisah
tak peduli bahwa akan berakhir resah

dan engkau sungguh suka dongengan
yang tak dicurigai oleh kewarasan

28 Juli 2020

BUKAN HANYA DI DUNIA SASTRA

Yang mengenal Sapardi Djoko Damono ternyata bukan hanya kalangan budaya atau sastra. Jika para guru besar dari pelbagai fakultas di UI membacakan sejumlah puisi dan cerpennya, Sabtu (25/7/20), tentu wajar karena masih sejawat atau satu sivitas akademika. Namun, jika kalangan luas atau lingkungang yang tidak bersinggungan dengan sastra secara langsung menampilkan sosoknya, ini satu pertanda bahwa Sapardi memang mendapat tempat pula di hati banyak orang. Ditampilkannya Sapardi pada sampul muka tabloid “PasarInfo.com” ini hanya salah satu contoh.


(Ibnu Wahyudi bersama Sapardi Djoko Damono, foto 10 tahun lalu)

MUSIK YANG BERISIK

Tengah hari tanggal 8 November 1996, kami–aku dan Pak Sapardi–tiba di sebuah hotel di tengah kota Padang. Lapar terasa tapi kami memutuskan untuk makan di luar saja. Mumpung seminar sastra di Universitas Bung Hatta baru akan berlangsung esoknya, kami masih berkesempatan jalan berdua saja.

Malamnya ada undangan penyambutan di sebuah rumah makan sehingga kami memanfaatkan waktu siang hingga sore menyusuri seruas jalan di depan hotel. Banyak angkot yang gemuruh dengan musik, melintas. Kami sengaja jalan kaki karena menurut resepsionis hotel, ada pasar yang tidak jauh lokasinya.

Kami berjalan kaki dan tidak bertengkar tentang siapa yang harus di depan. Sesama buta akan kota Padang, kami jalan bersisian. Perut lapar dan pasar sudah kelihatan, rasa bahagia pun mengalir dalam sungai di tubuh kami.

Tentu saja kami tidak memesan ilalang atau rasa sakit tetapi sepakat menyantap lotek. Kami mencintai gado-gado atau lotek dengan sederhana tanpa mempersoalkan asal makanan itu. Mungkin karena lapar atau memang enak, lotek itu ludes kami makan.

Kami melanjutkan perjalanan dan sepakat mencari telepon umum. Di salah satu sudut jalan kami menemukan tiga kotak-kaca telepon umum. Kebetulan kosong, maka kami segera memanfaatkan telepon umum itu dengan penuh gairah.

Usai bertelepon, kami memutuskan kembali ke hotel. Karena lumayan lelah, kami memilih untuk naik angkot. Namun, setiap angkot yang berhenti, Pak Sapardi enggak naik.

“Kita tunggu yang gak ada musiknya, ya, Ben.”
“Baik, Pak,” jawabku.

Aku paham situasi; daya dengar Pak Sapardi sangat sensitif. Kebiasaan mendengar musik jazz dan sesekali klasik, menyebabkan telinganya lumayan peka akan bunyi. Hanya saja, mana ada kendaraan umum di kota Padang tanpa musik. (Yurnaldi, mantan pewarta Kompas, semalam mengiyakan kenyataan ini).

“Nah, ini Ben, ada yang tanpa musik,” ujar Pak Sapardi ceria.
“Betul, Pak,” jawabku.

Kami naik ke dalam angkot yang tanpa penumpang. Aku bertanya kepada sopirnya, karena takut tersasar; akankah angkot lewat hotel yang kami inapi. Sopir mengangguk sembari melajukan kendaraan. Sekejap kemudian, diputarnya pula lagu dengan amat lantang.***

28 Juli 2020

KETIKA DICARI, SEOLAH SEMBUNYI

Untuk keperluan tulisan yang disiarkan majalah Tempo terbitan 27 Juli 2020, Mbak Mel (Prof. Melani Budianta) menanyakan pidato pengukuhan guru besar Pak Sapardi tahun 1994. Aku yakin punya buku tipis itu. Aku cari pada deretan buku di beberapa rak di rumah, hasilnya nihil. Yang kujumpai malah orasi ilmiah Pak Sapardi yang berjudul “Dari Fakultas Sastra ke Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya” untuk peringatan 62 tahun FSUI.

Ketika kukirim sampul buku orasi ilmiah tersebut, Mbak Mel hanya membalas pesanku dengan “Ok Ibnu, tak apa Ibnu. Terima kasih banyak sdh cari. Saya coba tanya ke mbak Riris”. (Yang dimaksud Riris adalah Prof. Riris K. Toha Sarumpaet).

Aku merasa kesal dengan diri sendiri sebab naskah yang kucari tidak ketemu. Aku yakin punya naskah itu bahkan masih ingat judulnya, “Sastra, Politik, dan Ideologi”. Kucari juga buku Pak Sapardi berjudul Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida yang di dalamnya memuat tulisan itu, tidak kujumpai juga. Mereka seperti bersembunyi.

Aku curiga, mungkin ada yang pinjam buku itu tapi belum mengembalikan. Aku tepis pikiran ini sebab aku ingat persis masih menjumpai buku dan tulisan lepas itu beberapa waktu lalu. Namun, karena aku mendapat “limpahan” buku dari Prof. Multamia RMT Lauder tahun lalu, aku memang agak membongkar susunan buku di rumah.

Kemarin, usai zuhur, masih duduk di kaki sajadah, ketika mataku menyapu deretan buku di depan dan kiri-kananku, tiba-tiba mataku tertumbuk pada punggung buku terbitan Pustaka Firdaus tahun 1999. Dan di dalam buku itu juga terselip naskah pidato pengukuhan guru besar Pak Sapardi tahun 1994 itu.

Segera aku foto sampul naskah pidato itu dan aku kirim ke Mbak Mel. Aku tahu Mbak Mel tidak lagi perlu naskah itu tapi aku kirim juga foto itu sebagai kabar telah kutemukannya benda itu.

Menanggapi kiriman WA-ku, Mbak Mel membalas, “Ya Ibnu untuk bahanmu saja sekarang buat tulisan.” Dan pagi ini, saat aku merapikan buku-buku puisi tipis terbitan Yayasan Indonesia, yang menerbitkan Horison di masa lalu, aku menemukan lagi naskah pidato Pak Sapardi. Ada dua jadinya, hehehe….***

27 Juli 2020.

______________________
Ibnu Wahyudi, sastrawan kelahiran Ampel, Boyolali, Jawa Tengah 24 Juni 1958. Mengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (d/h Fakultas Sastra) Universitas Indonesia (UI), selain itu menjadi pengajar-tamu di Jakarta International Korean School (sejak 2001), di Prasetiya Mulya Business School (sejak 2005), di Universitas Multimedia Nusantara (sejak 2009), dan di SIM University Singapura. Pendidikan S1 di bidang Sastra Indonesia Modern diselesaikan di Fakultas Sastra UI (1984). Tahun 1991-1993, mengikuti kuliah di Center for Comparative Literature and Cultural Studies, Monash University, Melbourne, Australia dan peroleh gelar MA, serta menempuh pendidikan doktor (Ilmu Susastra) di Program Pascasarjana UI. Tahun 1997-2000, menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *