BELAJAR SEJARAH

Aprinus Salam *

Dalam kesempatan yang berbeda, mungkin kita pernah mendengar pernyataan; makanya belajar sejarah. Salah satu ungkapan yang terkenal tentang ini diungkapkan oleh Soekarno, “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”, yang biasa disingkat dengan akronim Jasmerah. Pertanyaannya, sejarah seperti apa yang perlu dipelajari? Sejarah yang mana yang harus diingat?

Kita tahu, sejarah merupakan berbagai kejadian dan peristiwa yang terjadi pada masa yang telah berlalu. Pengertian telah berlalu pun sangat terbuka. Sebagai sesuatu yang telah terjadi, tentu demikian luas. Itulah sebabnya, sejarah menjadi demikian luas dan beragam meliputi ruang atau skala, jenis, bentuk, dan sebagainya. Sejarah dunia, sejarah nasional, sejarah di kampung kita masing-masing adalah juga sejarah. Apakah semuanya juga harus dipelajari? Atau yang mana yang harus dipelajari.

Secara spesifik kemudian kita mengenal sejarah politik, sejarah ekonomi, sejarah sosial, sejarah agama, sejarah hukum, sejarah demokrasi, sejarah kesehatan, sejarah intelektual, sejarah perbudakan, sejarah pendidikan, dan sebagainya. Apakah semua relevan untuk dipelajari? Atau bahkan kita kemudian juga mengenal sejarah keris, sejarah mobil, sejarah pesawat, sejarah kereta api, dan sebagainya. Yang mana yang perlu dipelajari, dipahami, apalagi untuk diingat?

Belum lagi yang juga cukup banyak adalah sejarah tokoh (biografi), sejarah organisasi atau lembaga-lembaga tertentu, terutama yang sukses, mungkin mengisahkan kegagalan. Demikian banyaknya hal yang disebut sejarah, apakah semua relevan bagi seorang manusia untuk menjalani hidupnya. Padahal, kenyatannya, setiap orang, setiap masyarakat mengalami kejadian, peristiwa, berita-berita, cerita-cerita, dalam posisi sosial, politik, ekonomi, budaya yang berbeda-beda.

Dalam buku-buku pelajaran sejarah di Indonesia, misalnya, kita masih sering, dan tampaknya masih prioritas, diperkenalkan (dan diingatkan) masa lalu yang hebat, dengan kisah-kisah kejayaan Kutai, Sriwijaya, Majapahit, Mataram awal hingga Mataram Islam, yang diintegrasikan dengan kisah kehebatan tokoh-tokoh tertentu. Di sisi lain, untuk sejarah yang lebih belakangan adalah sejara patriotisme melawan penjajahan yang diintegrasikan dengan kisah-kisah kepahlawanan.

Bukan hal baru, konstruksi pensejarahan seperti itu untuk membangun semangat patriotisme dan agar selalu ada gairah mencintai dan membela tanah air Nusantara. Baiklah, dalam posisi itu, sejarah yang perlu dipelajari dan diingat dimaksudkan agar tertanam rasa patriotik, nasionalis, dan cinta tanah air. Saya menduga untuk bagian ini sejarah yang kita pelajari dan kita ingin kita ingat-ingat memberikan keberhasillan yang baik. Setiap negara akan melakukan ini dan secara relatif juga sukses.

Masalahnya, apakah negara hanya membutuhkan warga yang patriotik dan cinta tanah air. Apakah patriotisme akan menyelesaikan banyak masalah? Begitu banyak warga yang cinta kepada tanah airnya. Banyak dari kita ketika ditanya, apa cita-cita kita, jawabannya mengabdi kepada Nusa dan Bangsa, atau bahkan mengabdi kepada Negara. Akan tetapi, apakah dengan cita-cita itu dapat menjadi modal menjalankan bangsa dan negara?

Tentu, cita-cita mengabdi yang dibayangkan itu adalah kelak menjadi orang dalam posisi tertentu yang berperan langsung dalam urusan-urusan pemerintahan atau kenegaraan. Mungkin dalam profesi-profesi lain, kita bercita-cita menjadi dokter, insinyur, guru, menteri, direktur dan menejer yang berkiprah di lembaga-lebaga swasta, yang dapat secara langsung hidupnya diabdikan kepada masyarakat.

Lantas, bagaimana mereka yang tidak bisa mendapatkan posisi itu? Bagaimana mereka yang kemudian menjadi petani di sawah, karyawan di pabrik, buruh serabutan, seniman dan penyair yang dianggap bukan profesi, apakah mereka tidak mengabdi pada negara sehingga hampir sangat jarang kita bercita-cita menjadi petani atau buruh.

Para petani, nelayan, buruh, pekerja serabutan, misalnya, tanpa belajar sejarah patriotisme, mereka sangat produktif, berguna, dan berbakti bagi kehidupan bangsa. Mereka tidak pernah menuntut untuk disebut sebagai patriotik. Merekalah yang menyangga hidup kita. Akan tetapi, kita tidak berani bercita-cita menjadi petani. Kita bercita-cita ingin menjadi, minimal, gurulah. Maaf, bukan bermaksud menjadi hierarkis.

Masalah lain, kita bukan hanya dalam posisi sebagai warga negara. Kita adalah juga warga masyarakat, warga agama, warga politik, warga budaya, warga kesukuan, warga akademik, dan sebagainya. Selain sebagai warga negara, jika kita dalam posisi sebagai warga agama, sejarah apa yang layak dipelajari dan diingat? Mengapa kita begitu banyak konflik dan bertengkar atas nama agama. Apakah sejarah agama telah menjadi demikian liar sehingga kita telah belajar kepada sesuatu yang salah?

Kita juga menjadi warga politik tertentu. Layaknya sebagai warga politik, kita perlu untuk menjadi hebat berpolitik, cerdas, santun, dan bijak? Sejarah politik yang mana yang kita pelajari dan kita ingat-ingat jika kita masih berkelahi antar-partai, masih menghina politisi yang haluannya berbeda. Apakah pelajaran sejarah yang kita pelajari dan kita ingat-ingat adalah sejarah bagaimana menguasai lawan-lawan politik. Kemudian, dalam berbagai cara kita siap melawan mereka yang politiknya berbeda.

Kita juga warga budaya tertentu. Belakangan, ada berita yang demikian heboh tentang ditemukan dan kembalinya keris Pangeran Dipanagara. Apa artinya kejadian tersebut harus dibesar-besarkan. Apa urgensi keris tersebut asli atau palsu bagi perjalanan hidup bangsa Indonesia ke depan. Anggaplah asli atau tidak asli, apakah dengan cara itu akan mengubah strategi perjalan hidup kita sebagai bangsa dan negara ke depan?

Ada dua grup washap yang saya dimasukkan begitu saja. Pertama, grup yang isinya hanya menjelek-jelekan pemerintah. Semua hal tentang pemerintah adalah salah dan busuk. Pemerintahan Indonesia yang mana yang menjalankan pemerintahannya dengan benar dan ideal? Pertanyaan saya, sejarah dan berita-berita yang mana yang mereka pelajari dan ingat-ingat?

Kedua, grup yang selalu mengagung-agungkan adat dan kerajaan masa lalu. Tanpa disadari, mungkin juga sadar, grup ini selalu mengagung-agungkan feodalisme. Mereka lupa dan tidak menempatkan bahwa kerajaan masa lalu itu adalah contoh negara gagal. Bukti kegagalan, kerajaan-kerajaan tersebut tidak ada yang mampu bertahan terhadap arus perubahan zaman. Bahkan sebagian besar dari kerajaan tersebut kalah berhadapan dengan segelintir kekuatan penjajah.

Apa yang harus dibanggakan dari masa lalu? Sejarah seperti apa yang selama ini kita pelajari dan perlu kita ingat-ingat?

24 Juli 2020

__________________
*) Aprinus Salam, mengajar di Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya UGM. Waktu kuliah mengambil skripsi (tahun 1992), dan tesis (tahun 2002), tentang puisi. Sedang disertasi dokternya (tahun 2010) tentang novel. Tahun 2012-2016 menjadi anggota Senat Akademik UGM. Menjadi kepala pusat Studi Kebudayaan UGM sejak 2013. Kumpulan puisinya yang pertama Mantra Bumi, disusul Suluk Bagimu Negeri (tahun 2017). Kumpulan esainya Biarkan Dia Mati (2003) dan, Politik dan Budaya Kejahatan (2015).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *