CATATAN atas SEBUAH MIMPI YANG ANEH

Sunlie Thomas Alexander *

SEPERTI yang aku bilang ke Nona Janeetha dinihari tadi, aku tergolong orang yang jarang bermimpi dalam tidur.

Aku belum tidur sekitar pukul 4 lewat WIT ketika ia mengabariku bahwa ia baru saja bermimpi buruk: Di rumahnya ada dua orang mamanya. Keduanya sama persis sehingga ia jadi kebingungan mana mamanya yang asli. Tapi kemudian bisa ia temukan perbedaan itu setelah coba mengamati dengan lebih saksama. Wajah mamanya di dalam rumah (mungkin di kamar) nampak tenang dan rendah hati, katanya. Sementara wajah mama yang berada di dapur itu meski sekilas juga terlihat demikian, namun si nona akhirnya bisa melihat sesamar bayang-bayang dusta yang tersembunyi di sana.

“Kau bukan mama!” teriaknya. Dan si mama palsu langsung berbalik menghadapnya dengan pisau dapur di tangan.

“Ia berbalik sambil memegang pisau tinggi-tinggi, mau dilempar ke saya. Saya menyebut ‘Darah Yesus’! Ia mau menggendong Jordan tapi bisa saya rebut…,” kata si nona.
***


(Janeetha Jordan dalam foto)

KUKIRA tak ada relasi antara mimpiku kemudian dengan mimpi Nona Janeetha. Ya, akhirnya tadi pagi saat tertidur telat, aku bermimpi lagi. Memimpikan tempat-tempat yang kurasa sudah pernah kumimpikan sebelumnya entah berapa kali.

Dalam mimpiku ini, aku dan seorang teman (yang agaknya berusia jauh lebih tua, seorang kepala keluarga) bermotor hendak pergi ke suatu tempat yang entah–tempat yang samar-samar antara berbau lendir birahi dan beraroma klenik atau seperti diselimuti oleh makhluk-makhluk mistik.

Untuk ke sana, dari seruas jalan yang nampaknya merupakan jalan di depan pasar baru kota kecamatanku di Bangka sana, kami harus masuk (memotong) ke sebuah lorong padat berliku-liku seperti labirin yang aku tahu itu tidaklah ada di Belinyu. Lalu kami akan melewati rumah-rumah yang saling berhimpitan juga sebuah pemakaman yang nampak begitu padat, yang darinya terpancar aura keangkeran.

Di jalan pasar baru kota kecilku memang ada sebuah pemakaman tua Belanda. Beberapa kali aku sempat datang ke sana untuk sekadar memotret nama-nama di batu nisan yang masih terbaca. Namun makam di lorong aneh ini agaknya bukanlah kuburan Holland, tetapi kuburan Muslim yang kurang lazim.

Kuingat, dalam mimpi-mimpiku sebelum ini, sekeluar dari lorong remang ini nantinya kami akan bersua dengan seruas jalan yang lebih ramai dan semarak dengan toko-toko, kendaraan bermotor, dan reklame. Dan itu juga bukanlah pemandangan jalan di kota kecilku atau di manapun. Ada lorong lain di depan jalan ini, dan tujuan kami ada di ujung lorong lain itu.

Namun di samping pemakaman aneh di lorong pertama tadi, sepeda motor kami tiba-tiba berhenti entah sebab apa. Mungkin mogok atau kami nampaknya tidak tahu harus keluar ke arah mana. Agaknya kemungkinan kedua yang benar. Dan di sana, di muka sebuah rumah tua besar yang dulunya cukup mewah di samping pemakaman itu, ada seorang nyonya berumur sekitar 50an dengan pakaian yang tak kalah aneh, semacam gaun panjang selutut model era kolonial. Tidak jelas yang ia lakukan di muka rumahnya itu, tetapi kami kemudian turun dari motor dengan niat hendak bertanya arah jalan.

Dan ia menjawab kami dengan bahasa yang tidak kami mengerti, dengan ekspresi wajah yang agak menakutkan antara marah, sinis, dan sedih berputus asa. Kurasa itu seperti campuran antara bahasa Belanda, Portugis, dan Spanyol. Suaranya keras dan ketus.

Tak lama kemudian muncullah seorang anak laki-laki berusia 6 tahunan. Berambut keriting coklat agak pirang. Tetapi wajahnya wajah pribumi. Ia menyapaku dengan ramah dalam bahasa Inggris. Kedua matanya tampak liar. Kujawab ia dalam bahasa Inggris juga. Kesimpulanku dalam mimpiku itu, keluarga aneh ini tidak mau berbahasa Indonesia dengan orang asing.

Lalu tahu-tahu kami sudah berada di dalam rumahnya. Sebuah rumah tua yang muram, kekurangan cahaya, dengan desain interior dan perabotan ala jaman kolonial yang berdebu. Di sana ada dua orang lelaki, satu tua satu lagi berumur 40an, sedang duduk bercakap-cakap. Namun mereka tidak mengubris kami.

Entah kenapa tiba-tiba teman yang bersamaku itu jadi begitu akrab dengan si nyonya aneh. Sepertinya mereka sudah lama saling kenal atau bahkan berkerabatan. Dan si nyonya yang tadinya begitu ketus itu kini berubah jadi jauh lebih bersahabat setelah dikasih oleh-oleh berupa minuman cokelat dan biskuit oleh temanku. Kelihatannya ia sangat senang pada oleh-oleh tsb, dan sepertinya memang sudah lama tidak minum cokelat dan makan biskuit.

Kemudian ia mulai bercerita dengan mata yang berlinang air mata dalam bahasa Indonesia. Aku tak ingat persis semua yang ia ceritakan itu. Rasa-rasanya ia bercerita tentang kejayaan keluarganya di masa silam, di jaman kolonial Belanda. Ketika keluarga itu merupakan sebuah keluarga kaya yang terpandang saat papanya terlebih opanya masih hidup. Dan ia adalah seorang noni primadona yang digilai oleh banyak lelaki Belanda maupun Indo (blasteran) yang terpelajar dan terhormat karena kecantikan dan kepintarannya menari. Ia bilang bahwa ia selalu diundang untuk menari di acara-acara penting kaum terpandang itu dan ditepuktangani dengan penuh decak kagum oleh pria-pria necis nan tampan. Ia lalu memeluk temanku sambil menangis dan mengucapkan terima kasih atas pemberian minuman cokelat dan biskuit yang sudah sangat lama ia rindukan.

Perhatianku kemudian tertuju kepada anak umur 6 tahunan tadi (yang kayaknya anak si nyonya). Aku bilang ke si nyonya dan lelaki temanku, bahwa bocah lelaki itu tidak boleh tinggal di sana terus, di rumah dan lingkungan suram itu.

“Anak ini anak yang cerdas, ia harus keluar dari sini, mungkin ia bisa diadopsi oleh sebuah keluarga dan bersekolah baik-baik di sekolah yang lebih layak di tempat lain,” kataku. Si nyonya sepertinya menjawab bahwa anak itu baru saja putus sekolah atau tepatnya lari dari sekolah. Ia tidak punya teman, di sekolahnya ia sering dibully lantaran dianggap aneh oleh anak-anak yang lain.

Aku berlutut di hadapan anak itu, memegang kedua bahunya.

“Kau mau kan keluar dari sini? Kau harus sekolah lagi di tempat lain, biar kau bisa mengembangkan dirimu. Kau anak yang pintar, nanti kau bisa menjadi apapun yang kau mau. Kau bisa jadi orang hebat kelak,” kataku padanya.

Ia tertawa sinis dan menjawab dengan penuh dendam dan kemarahan: “Ya, aku mau. Biar nanti aku bisa membalas dendam kepada orang-orang. Kalau aku sudah jadi orang hebat nanti, akan kuhancurkan orang-orang itu!”

“Tidak, tidak begitu. Kalau sudah jadi orang hebat nanti, kau akan disukai orang-orang, dikagumi. Kau akan punya banyak teman dan masa depan yang cerah. Kau bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang banyak,” potongku buru-buru.

Kemudian aku terbangun. Ada pesan dan foto manis si Nona Janeetha yang masuk ke WA-ku. “Kayak artis,” balasku dengan emotion senyum sembari menatap kecantikan Timor-nya yang khas pada foto itu.

Ah, kukira aku harus membaca ulang Carl Gustav Jung!


(Janeetha Jordan dalam foto)
***

____________________
*) Sunlie Thomas Alexander memiliki nama lahir Tang Shunli, (lahir di Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung, 7 Juni 1977), sastrawan berkebangsaan Indonesia keturunan Tionghoa. Ia dikenal melalui karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, kritik sastra, catatan sepak bola, dan ulasan seni yang dipublikasikan di berbagai surat kabar serta jurnal yang terbit di Indonesia dan di luar negeri: Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison, Suara Merdeka, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Poetika, Kedaulatan Rakyat, DetikSport, Jurnal Ruang, Gong, Lampung Post, Bangka Pos, Hai, Nova, Hakka Monthly, dll. Tahun 2016, menerima beasiswa residensi penulis di Taiwan dari Menteri Kebudayaan Republik China Taiwan, dan tahun 2018 menerima beasiswa residensi ke Belanda dari Komite Buku Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *