ETIMO-LOL-GI

Mikael Johani

tadinya tulisan di bawah ini buat reply diskusi antara ahmad yulden erwin (ga kenal) dan Sunlie Thomas Alexander di sebuah thread di page aye tentang antologi puisi (disusun aye) yang katanya mau mengumpulkan 100+ penyair modern indonesia terbaik (tapi kok ada j.e. tatengkeng (born 1907), modern apa modernist nih! XD). udah mulai banyak yang mengkritik proyek ini, salah satunya tentang kecenderungan kanonisasinya, hal yang lagi dibahas sunlie dan aye di thread itu. seperti biasa, saya jadi bingung kenapa sih hobi banget kalau lagi bahas sesuatu yang kayaknya pembahasnya sendiri ragu2, larinya selalu ke etimologi? sure it might help you understand the concept, tapi conceptnya sendiri kan sering udah berkembang menjauhi asal katanya?

saya memutuskan ga jadi reply tapi dipost sendiri aja karena kayaknya bro aye ini suka block orang, jadi daripada yang mungkin pengen baca, kayak Malkan Junaidi wkwkwk, jadi ga bisa baca mending di sini aja:

membahas proyek kanon2an seperti ini ga terlalu penting etimologi kata kanon, yang lebih penting adalah pengertian, terutama buat yang bikin, tentang konsep kanon sastra yang selama ini berkembang. simpelnya kanon sastra adalah daftar penulis/karya yang dianggap terbaik (bisa in general, bisa spesifik, per genre atau per school misalnya – “10 kutipan aan mansyur tentang cinta, menghujam hati” is an attempt at canonising his royal baperness sebagai pelopor angkatan hallmark). siapa yang menentukan? historically, orang2 yang mempunyai otoritas. h(arold) b(loom) jassin (western canon, angkatan 4566), tonggak 123 linus, nobel satra, booker prize, sayembara puisi dkj, salihara membual tentang novel saman, salihara/tempo mendiskreditkan puisi wiji thukul (walau memuji perjuangan politiknya, licin memang salihareus), kusala/khatulistiwa award, buku 33 tokoh sastra indo paling ga penting denny ja, mengkurasi sastrawan2 box office aja buat ubud makan2 foto2 sama v.s. naipaul eh ga jadi dateng eh writers festival, etc etc – semua adalah usaha untuk membentuk kanon sastra. poin utama artikel politik kanonisasi sastra saut yang terkenal itu tapi kok ya kayaknya masih aja banyak yang gak ngerti adalah membongkar politik di balik usaha2 membentuk kanon sastra di indonesia. kenapa ada penulis2 yang disingkirkan oleh otoritas2 pembuat kanon di indonesia? kenapa gm mendedikasikan seluruh hidupnya bitching tentang/mendiskreditkan pram dan penulis2 lekra? kenapa nirwan dewanto pernah dianggap masa depan sastra indon, bukan senjakalanya? seperti saut bilang, penulis/karya yang dianggap sebagai bagian dari kanon sastra indonesia selama ini seringnya menjadi kanonikal bukan karena kebaikan mutunya, tapi karena kongkalikong politis/ekonomis/cari kuasa (dan funding) dari para otoritas sastra yang menahbiskan mereka masuk kanon (in berarti yang beri julukan harold bloom jassin = paus sastra <-- genius!). kritik dea anugrah, misalnya, tentang penyair2 yang disisihkan dalam penyusunan sebuah daftar seperti ini menunjukkan betapa penting bagi penyusunnya untuk menyadari konsep dan perkembangan kanon sastra dalam sejarah sastra dunia (western literary canon udah diobrak-abrik sejak tahun 60-an oleh counter-canons dari black writers, women writers, queer writers, postcolonial writers, etc – hence the problem with so few women dalam daftar yang ada sekarang, apakah penyusun perlu baca lagi antologi selendang pelangi yang disusun toeti heraty? dan karena kanon sastra indonesia juga sudah sangat dimiskinkan oleh kemenangan berdarah manikebu atas lekra, apakah deklamasi penyusunnya bahwa dia akan mengambil posisi klise/klasik/new criticism kebablasan "udah, kembali pada karya aja" masih mungkin? bukannya justru posisi yang lebih bijaksana adalah melihat siapa saja penyair yang selama ini dimarjinalkan oleh otoritas sastra indonesia, dan kemudian mengangkat mereka (better still pass them the mic)? (kalau ga mau dicancel sebelum terbit wkwkwk). selain itu, daripada ceka-ceki kbbi, penyusun daftar ini harusnya mending mikirin dengan lebih dalam tentang sejarah kanon sastra indonesia biar dia sadar tentang posisionalitasnya dalam dunia sastra indonesia itu sendiri (apa saja kemungkinan bias2 penyusun, tema/ideologi/estetika macam apa yang disokong oleh penyusun, jika penyusun adalah seorang otoritas, dia udah dengerin pendapat yang sekarang bukan-otoritas belum?). kalau dalam menghadapi kritik tentang aspek kanonisasi dalam penyusunan antologi ini malah lari ke etimologi, kbbi, wikipedia, haduh, kenapa ga ke imdb aja sekalian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *