Penolakan Saut Situmorang, dan Dea Anugrah

Pada Antologi Puisi 100/100 Lebih Penyair Indonesia Modern

Saya Saut Situmorang MENOLAK nama dan puisi saya diikutkan dalam antologi puisi di bawah.

Alasan-alasan saya:

1. Saya menolak Nama dan Puisi saya disandingkan dalam satu buku dengan Sitok Srengenge, seorang tersangka kasus pemerkosaan yang kasusnya tidak disidangkan sampai hari ini. Apakah Sastra Indonesia ingin menutup matanya atas kasus kejahatan yang memalukan ini?!

2, Di mana sih hebatnya puisi Sitok Srengenge hingga harus diikutkan dalam antologi di bawah sementara Agam Wispi dan para penyair LEKRA lain, misalnya, tidak diikutkan?! Absennya nama-nama penyair LEKRA dalam antologi di bawah merupakan sebuah ahistorisme politis yang melanjutkan proyek politik sastra kaum Manikebu dan Orde Baru padahal, kata orang, Orde Baru itu sudah runtuh dan kita sudah hidup di zaman demokrasi bla bla bla.

3. Saya juga menolak Nama dan Puisi saya disandingkan dengan Isbedy Stiawan ZS yang merupakan salah seorang pendukung utama usaha manipulasi Sejarah Sastra Indonesia yang dilakukan seseorang bernama Denny JA dengan proyek puisi esai bayarannya. Apakah Sastra Indonesia ingin juga menutup matanya atas kasus kejahatan yang memalukan ini?!

4. Saya perhatikan begitu banyak nama penyair dari Lampung dimasukkan dalam antologi di bawah sementara dari Sumatera Utara sangat minim. Mosok sih daerah penghasil penyair-penyair macam Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan Sitor Situmorang ini gak menghasilkan penyair-penyair kontemporer layak terbit kecuali BY Tand?!

5. Absennya nama Afrizal Malna dan Putu Vivi Lestari dari antologi di bawah membuat usaha penerbitan antologi puisi di bawah makin mencurigakan.

Demikianlah. Saya tidak sedang mabuk atau birahi atau keduanya saat menulis ini. Saya justru sedang dipenuhi semangat perayaan hari kemerdekan Indonesia yang membuat saya ingin melihat kondisi kehidupan sastra yang lebih sehat dengan karya-karya yang memang bermutu bagus secara artistik di Indonesia kontemporer.

Jogja, 20 Agustus 2020
***

Dan…
Di bawah adalah rencana antologi yang dimaksud Saut. Dea Anugrah (bukan Anugerah seperti ditulis penyusunnya) juga sudah menolak terlibat dalam antologi yang sama. Alasannya bisa dibaca di bawah ini:

Para penyusun naskah ini tidak perlu repot-repot mempertimbangkan, apalagi sangat mempertimbangkan, kelayakan nama saya untuk masuk daftar. Saya menolak karya-karya saya dijadikan bagian dari “kanonisasi” semacam ini. Tentu kelak tim editor bisa menjelaskan pilihan mereka; mengapa, misalnya, hanya ada sedikit nama penyair perempuan dan lain-lain. Namun, terus terang saja, saya tidak peduli. Saya pikir, setiap upaya pencatatan nama-nama selalu (disengaja maupun tidak) disertai penghapusan nama-nama lain, yang boleh jadi lebih penting ketimbang yang tercatat.

Oh ya, selain itu, saya juga tidak berkenan menjadi bagian dari proyek yang sama dengan Sitok Srengenge (penyair dalam daftar) dan Nirwan Arsuka (calon penulis catatan penutup).

Terakhir, saya berharap pernyataan ini tidak menyinggung Sunlie Thomas Alexander, yang sejak lama saya anggap sebagai kakak, dan Ahda Imran, yang dianggap kakak oleh sejumlah kawan baik saya dan tentu saya hormati pula.
***

100/100 LEBIH PENYAIR INDONESIA MODERN
Ahmad Yulden Erwin

Jika saya harus memilih beberapa nama penyair Indonesia modern, yang karyanya bagus secara estetika dan bisa dipertanggungjawabkan secara teoritis, baik dari ideologi kiri atau kanan atau tengah, maka akan ada 100/100 lebih nama penyair Indonesia modern. Saya menafikan diri saya, karena saya yang memilih 100/100 lebih nama ini. Jika saja seratus nama/seratus lebih nama itu dikumpulkan puisinya (paling banyak 10 puisi untuk 1 penyair, maka akan ada buku setebal 1.000 halaman lebih yang siap dicetak). Kiprah mereka dalam dunia sastra dan karyanya sudah teruji pada masanya. Penerbitan buku itu merupakan bentuk penghargaan kepada mereka, karena mereka telah menuliskan karya-karya sastra berupa puisi yang bagus dan inovatif secara estetika. Nama-nama mereka itu adalah:

1. Abdul Hadi WM
2. Abdul Wachid Bs
3. Acep Zamzam Noor
4. Agit Yogi Subandi
5. Agus R. Sarjono Full
6. Ahda Imran
7. Ahmad Faisal Imron
8. Ahmad Nurullah
9. Ahmadun Yosi Herfanda
10. Ajip Rosidi
11. Amir Hamzah
12. Aslan Abidin
13. Asrul Sani
14. Ari Pahala Hutabarat
15. Ayatrohaedi
16. B.Y. Tand
17. Beni Setia
18. Beno Siang Pamungkas
19. Binhad Nurrohmat
20. Budiman S. Hartojo
21. Chairil Anwar
22. Cecep Syamsul Hari
23. D Zawawi Imron
24. Darmanto Jatman
25. Dedy Tri Riyadi
26. Dina Oktaviani
27. Dorothea Rosa Herliany
28. Eka Budianta
29. Emha Ainun Nadjib
30. F. Rahardi
31. Frans Nadjira
32. Goenawan Mohamad
33. Gus TF
34. Hamid Jabbar
35. Hartojo Andangdjaja
36. Ibrahim Sattah
37. Idrus Tintin
38. Isbedy Stiawan Z S
39. Iswadi Pratama
40. Inggit Putria Marga
41. JE Tatengkeng
42. Jamal D. Rahman
43. Jimmy Maruli Alfian
44. JJ. Kusni
45. Joko Pinurbo
46. John Kuan
47. K.H. A. Mustofa Bisri
48. Korrie Layun Rampan
49. Kuntowijoyo
50. Kriapur
51. Leon Agusta
51. L. K. Ara
52. M Faizi
53. Malkan Junaidi
54. Mochtar Pabotinggi
55. Moh. Wan Anwar
56. Nirwan Dewanto
57. Nezar Patria
58. Ook Nugroho
59. Piek Ardijanto Soeprijadi
60. Radhar Panca Dahana
61. Ragil Suwarna Pragolapati
62. Ramadhan K.H.
63. Raudal Tanjung Banua
64. Rendra
65. Rida K Liamsi
66. Rivai Apin
67. Roestam Effendi
68. Saini K.M.
69. Sanoesi Pane
70. Sapardi Djoko Damono
71. Saut Situmorang
72. Sides Sudyarto D.S.
73. Sitok Srengenge
74. Sitor Situmorang
75. Slamet Sukirnanto
76. Soni Farid Maulana
77. Sosiawan Leak
78. Subagio Sastrowardojo
79. Suminto A. Sayuti
80. Sunlie Thomas Alexander
81. Sutan Takdir Alisjahbana
82. Sutardji Calzoum Bachri
83. Tan Lioe Ie
84. Taufik Ikram Jamil
85. Taufiq Ismail
86. Tia Setiadi
87. Timur Sinar Suprabana
88. Toety Herati Noerhadi
89. Toto St Radik
90. Toto Sudarto Bachtiar
91. Triyanto Triwikromo
92. Umbu Landu Paranggi
93. Upita Agustine
94. Warih Wisatsana
95. Wayan Jengki Sunarta
96. Wiji Thukul
97. Wing Kardjo
98. Yudhistira ANM Massardi
99. Zeffry Alkatiri
100. Zen Hae

Serta masih ada beberapa nama penyair lagi yang musti sangat dipertimbangkan untuk masuk ke dalam daftar ini berdasarkan karya dan kiprahnya di dalam dunia sastra, misalnya:

1. Agam Wispi
2. Gunoto Saparie
3. Abidah El Khalieqie
4. Ulfatin Ch.
5. Matori A Elwa
6. Ahmad Syubhanuddin Alwi
7. Aspar Paturusi
8. Boy Riza Utama
9. Diah Hadaning
10.Tengsoe Tjahjono
11. Riki Dhamparan Putra
12. Indrian Koto
13. Dinulah Rayes
14. Fikar W. Eda
15. Gunawan Maryanto
16. Iyut Fitra
17. Kiki Sulistyo
18. Thompson Hs
19. Wowok Hesti Prabowo
20. Yusrizal KW
21. Linus Suryadi AG
22. Oei Sien Tjwan
23. Acep Syahril
24. Fitri Yani
25. Hasan Asphani (Juru Baca)
26. Dea Anugerah
27. Heru Joni Putra
28. Jamil Massa
29. Kurnia Effendi
30. Hanna Fransisca
31. Norman Erikson Pasaribu
32. Esha Tegar Putra
33. Marhalim Zaini
34. Putu Fajar Arcana
35. Pranita Dewi
36. Komang Ira Puspitaningsih
37. Oke Rusmini

Dari fb Mikael Johani
***

2 Replies to “Penolakan Saut Situmorang, dan Dea Anugrah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *