KETIDAKRELEVAN KEARIFAN LOKAL MENUJU KEARIFAN NASIONAL DAN GLOBAL

Aprinus Salam *

Pembicaraan tentang apa itu kearifan lokal, peran dan fungsinya, sudah sering dilakukan. Biasanya kearifan lokal secara normatif dipahami sebagai satu sistem dan mekanisme nilai-nilai leluhur masyarakat lokal-lokal tertentu yang telah teruji kemuliaannya. Biasanya kearifan lokal terpelihara dalam tradisi, seni dan ritual-ritual, cerita rakyat, berbagai peribahasa, dan berbagai kebiasaan yang masih dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Secara kekinian, kearifan lokal diposisikan sebagai nilai-nilai dan praktik pemahaman yang perlu dipertahankan untuk menjawab berbagai masalah masyarakat sekarang dan mungkin ke depan. Strategi dan politik kebudayaan yang dikelola Kemendikbud juga punya keberpihakan kepada nilai-nilai, pengetahuan, dan kearifan lokal.

Walaupun banyak masalah, tulisan ini hanya mempersoalkan dua hal. Pertama, apakah masyarakat dulu dan kini sama sehingga kearifan lokal dimungkinkan fungsinya dalam posisi yang lebih kurang sama. Kedua, apakah yang dimaksud dengan kelokalan, bagaimana relevansi atau ketidakrelevasian kearifan lokal, dan kemungkinan kearifan apa yang perlu dikondisikan.

Kita sering membayangkan bahwa masa lalu adalah dunia yang nyaman dan tentram, tidak semrawut, mat-matan, jarang ada kericuhan, dan itu dikarenakan mereka memiliki kearifan. Kita juga sering menduga bahwa pada masa lalu itu orang hidup tidak tergesa-gesa, hidup apa adanya, alam yang masih asri, hidup bersahabat, dan tidak dipacu untuk sukses kaya, berbagai penyakit juga sangat minimal.

Bayangan itu tentu tidak terlalu salah. Dulu penduduk masih sedikit. Tuntutan persaingan kerja dan mencari nafkah belum terlalu berat. Iptek belum semassif sekarang.

Dalam perjalanan, baik masyarakat maupun individu, secara historis dan kultural membawa dan menyimpan masa lalunya. Hal itu selalu diingatkan dalam buku-buku pelajaran Sejarah dan IPS. Bahkan dititipkan ke dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, juga sebagian pelajaran agama. Berbagai nilai masa lalu tersebut menjadi pegangan bagaimana masyarakat dapat bertahan terhadap tantangan bagaimana mereka harus hidup. Nilai-nilai tersebut di antaranya prinsip-prinsip etis dan kepercayaan, sistem pengetahuan dan keilmuan, serta hal-hal teknis dalam cara hidup (ketetrampilan hidup).

Akan tetapi, masyarakat sekarang dan ke depan, mau tidak mau harus pula menyerap dan mengaplikasikan nilai-nilai baru, sistem pengetahuan dan ilmu baru, dan cara-cara modern untuk hidup dan bertahan. Hal itu disebabkan sumber daya alam semakin terbatas, jumlah penduduk terus bertambah, penyakit baru bermunculan, sehingga perebutan terhadap sumber daya dan bertahan hidup semakin tinggi bersaing.

Dalam kehidupan dengan nilai-nilai baru dan hidup kekinian, nilai-nilai lama tidak dapat dihandalkan. Siapa yang tidak kerja keras atau malas, akan terlindas. Bahwa alam-dunia telah berubah, kemampuan alam dalam mengakomodasi kehidupan nyaman tenteram sudah tidak bisa lagi. Siapa cepat dia dapat, siapa lambat dia terjungkal. Hidup semakin dipacu agar mempraktikkan nilai-nilai efisiensi dan efektivitas, hidup harus rasional, bertarget, dan sistematis.

Tegas kata, dulu dan kini tidak sama. Harus ada penyesuaian, dan itu artinya kearifan lokal juga tidak bisa dihandalkan begitu saja. Saya tahu, bahwa tentu kita menginginkan dan memimpikan agar kehidupan masa lalu seperti yang kita bayangkan bisa kita alami lagi. Akan tetapi, hal itu tidak akan pernah terjadi lagi.

Kelokalan sering dipersepsi (atau didefinisikan) sebagai satu ruang yang homogen, yang secara spesifik mengatur dan membatasi batas-batas kultural, termasuk batas-batas etnis, bahasa, dan identitas tertentu lainnya, agama misalnya. Pada umumnya, kelokalan dilawankan dengan kenasionalan, atau bahkan keglobalan (keinternasionalan).

Yang merepotkan jika kelokalan terjebak dan dimanfaatkan politik identitas. Bawaan politik sebagai aspek mengelola, menyiasati, dan memanipulasi kekuasaan, menyebabkan identitas menjadi medan kontestasi dan sekaligus konflik. Belum lagi jika kemudian kelokalan itu dibungkus atas nama agama, maka persaingan akan menajam. Untuk beberapa hal kondisi ini lumayan mencemaskan.

Namun, saat ini, teknologi komunikasi telah menghubungkan dan memediasi banyak hal. Proses yang terjadi adalah mekanisme antar-lokal, antar-etnis, antar daerah, antar-bahasa, antar-identitas, dan sebagainya. Sejumlah persoalan yang muncul dalam masyarakat kekinian, tidak muncul dalam satu ruang yang homogen, karena ruang kelokalan terinterseksi. Kalau toh masih ada yang dapat dibayangkan sebagai kelokalan adalah masyarakat yang tertutup, terisolasi, dan tidak bersentuhan dengan budaya dan daerah luar.

Dengan demikian, konsep kearifan lokal, dengan penekanan pada lokalnya mau tidak mau dianggap tidak relevan lagi. Pasti konsep kearifan akan selalu relevan kapan pun dan dimanapun. Namun, yang kita butuhkan sekarang bukan kearifan lokal, tapi kearifan antar-lokal, atau kearifan nasional, atau bahkan kearifan global. Yang dimaksudkan dengan kearifan antar-lokal (kearifan nasional, kearifan global) adalah satu sistem dan mekanisme nilai-nilai kebajikan yang bisa mengatur kehidupan antar-manusia, antar-masyarakat, yang hidup dalam antar-lokal.

Perlu penjelasan dan kajian yang lebih spesifik, misalnya, apa yang dimaksud dengan kearifan nasional dan kearifan global. Hal yang dimaksud dengan kearifan nasional adalah kearifan untuk menempatian diri sebagai warga nasional, tidak mengedepankan kelokalan. Banyak hal menjadi bahasa konflik dan persaingan karena kita masih mengedepankan kelokalan.

Dalam kerangka yang sama, demikian pula yang dimaksud dengan kearifan global. Kearifan global terutama sangat diperlukan untuk tidak menempatkan negara lain sebagai saingan. Bahwa kemampuan alam dalam mengakomodasi kehidupan manusia adalah tanggung jawab bersama, tanggung jawab global. Jika hal tersebut tidak diperjuangkan, maka alam-dunia terus menerus dieksplotasi dan sedang menuju kehancuran bersama.

Demikian pula halnya dengan keasyikan terhadap kearifan dan budaya lokal, tanpa mempertimbangkan kemungkinan bahwa dunia sedang bergerak menuju kehancuran bersama. Di samping itu, paling tidak kearifan nasional atau global membantu untuk menjadi payung yang lebih besar terhadap kemungkinan terjadinya jebakan politik identitas yang memanfaatkan kearifan lokal.

Terlepas dari itu, sangat mungkin banyak dari konsep dan praksis kearifan antar-lokal, atau kearifan nasional pun mungkin tidak dapat menyelesaikan masalah. Kearifan antar-lokal tidak bisa berbuat banyak karena bagaimanapun ia hanya bergerak pada tataran paradigma filosofi dan etis. Ujung-ujungnya, bagaimanapun juga, kita akhirnya harus memperjuangkan kepastian dan penegakkan hukum. Karena hanya itu yang bisa mengatasi kelokalan-kelokalan yang tidak lagi relevan.
***

*) Dr. Aprinus Salam, M. Hum., Sastrawan kelahiran Riau, 7 April 1965. Dosen FIB UGM, Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM sejak 2013, Anggota Senat Akademik UGM 2012-2016, Konsultan Ahli Dinas Kebudayaan DIY (2013-2016). Pendidikan S1, Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UGM (Lulus 1992), S2 Program Studi Sastra Pasca Sarjana UGM (Lulus 2002, salah satu wisudawan terbaik), S3 Program Studi Sastra (Program Studi Ilmu-Ilmu Humaniora, Pascasarjana FIB UGM, lulus 2010). Dst…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *