KISAH DUA LELAKI BIMBINGAN PAK SAPARDI


Sunu Wasono *

Suatu sore di tahun 1984 dua mahasiswa yang sama-sama sedang menulis skripsi meluncur ke Depok dengan vespa tua untuk tujuan yang sama: konsultasi. Keduanya sama-sama dibimbing dosen yang sama: Pak Sapardi Djoko Damono (SDD). Yang satu membahas novel “Siklus” , sedangkan yang seorang lagi membahas novel “Pulang”. Yang membahas “Siklus” membawa bundel skripsi yang hampir mencapai 100 halaman, sedangkan yang membahas “Pulang” tidak membawa apa-apa.

Perjalanan Rawamangun-Depok dengan vespa tua lumayan membuat capek. Sampai di Jalan Komodo keduanya mengisi perut di warteg. Selesai makan, mereka meneruskan perjalanan. Selepas magrib sampailah mereka di rumah Pak SDD. Seperti biasa, sebelum masuk ke inti soal, waktu diisi dengan jagongan (ngobrol) ngalor ngidul seraya guyon. Setelah dirasa cukup, konsultasi pun dimulai.

Lelaki yang membawa bundel melaporkan pekerjaannya. Panjang lebar ia menjelaskan apa yang sudah dikerjakan. Di akhir penjelasannya, dia dengan gagahnya menyerahkan bundel kepada Pak SDD. Dibacalah sekilas halaman demi halaman bundel itu. Setelah sejenak memeriksa, Pak SDD melepaskan kacamatanya.
“Kamu sebenarnya mau menulis skripsi atau mau menulis yang lain?” tanya Pak SDD
Yang ditanya pun bingung. “Maksud Bapak?”
“Loh kok malah balik tanya.”
“Saya ingin menulis skripsi, Pak.”
“Kalau mau nulis skripsi, bukan begini caranya. Untuk apa kamu mengumpulkan definisi alur segini banyaknya. Ambil saja satu definisi, yang lain buang.”

Lelaki yang membahas “Siklus” langsung lemas. Apa yang masuk ke perutnya di warteg seperti tak ada gunanya. Dia sudah sekian bulan menjelajahi perpustakaan di ibu kota untuk mengumpulkan definisi alur, tapi ternyata tak berguna. Panjang lebar Pak SDD menjelaskan langkah-langkah yang mesti ditempuh. Intinya: baca karyanya dengan teliti, lalu analisis. Kalau akan membahas alur cerita, tak perlu mengumpulkan definisi alur.

Tibalah giliran yang satunya lagi melaporkan apa yang sudah dikerjakan. Dia melaporkan bahwa sejumlah perpustakaan sudah dikunjungi untuk mencari telaah tentang novel “Pulang”. Karena novel itu pernah difilmkan, dia juga mendatangi Pusat Perfilman Usmar Ismail untuk mencari informasi yang relevan. Lelaki pembahas novel “Pulang” itu juga telah membaca buku-buku tentang tanah. Sempat pula diterangkan ungkapan “sedumuk bathuk senyari bumi.” Referensi yang bertalian dengan konsep nasionalisme dan patriotisme telah ditemukan dan dibaca. Bab demi bab skripsi yang masih ada di benaknya diutarakan. Semua dilaporkan.

Mendengar laporan itu, Pak SDD hanya bilang ya ya ya. Begitu yang melaporkan berhenti bicara, Pak SDD bertanya, “Mana tulisanmu?”
Lelaki yang membahas novel “Pulang” menjawab pelan, “Belum ada, Pak.”
“Ha ha ha ha. Sontoloyo.” Pak SDD ngakak. “Kalian itu lucu. Sama-sama ngawurnya. Yang satu membawa segepok tulisan, tapi isinya cuma definisi alur. Yang satu gak bawa apa-apa, tapi ngomongnya banyak. Kalau gak ditulis, buat apa. Percuma.”

Hampir saja si pembahas novel “Pulang” mau bilang bahwa ia belum punya mesin tik dan baru mengajukan permohonan Kredit Mahasiswa Indonesia, tapi urung. Ia kuatir dibilang cari alasan. Alhasil malam itu tiga lelaki: pembahas “Siklus” , pembahas “Pulang”, dan Pak SDD asyik ngobrol yang lain. Saking asyiknya, mereka lupa waktu. Tahu-tahu sudah jam11 malam.

Dua lelaki itu, Zainal Muttaqien (si empunya Vespa yang membahas “Siklus”) dan saya (pembahas “Pulang”), pun akhirnya berpamitan pulang. Alhamdulilah, setelah sebuah mesin tik terbeli pada 7 Januari 1985, penulisan skripsi saya lancar. Demikian juga dengan Zainal Muttaqien (senior saya). Setelah mendapat pencerahan dari Pak SDD, dia selesaikan skripsinya dengan cepat. Entah definisi alur menurut siapa yang dia kutip: Foster, W Keney, atau yang lain. Yang jelas, dia malah selesai lebih dulu, jauh sebelum saya.
Kini lelaki yang dibimbing dan yang membimbing sudah kembali ke haribaan Allah SWT. Saya doakan keduanya mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.
***

_______________
*) Sunu Wasono lahir di Wonogiri 11 Juli 1958. Taman SMAN Wonogiri tahun 1976, S1 di Jurusan Sastra Indonesia Fak. Sastra Universitas Indonesia (UI) tahun 1985, S2 di Program Pascasarjana UI (1999), dan S3 di Program Studi Ilmu Susastra FIBUI (2015). Sejak April 1987, staf pengajar di Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI, mengampu mata kuliah Sosiologi Sastra, Pengkajian Puisi, dan Penulisan Populer. Tahun 1992 (6 bulan) menjadi dosen tamu di La Trobe University, Melbourne, Australia. Mulai Oktober 2016, menjadi Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *