MENGULANG DAN PERASAAN


Bandung Mawardi

Majalah warisan Orde Baru. Siapa masih mau membaca dengan ikhlas dan berhasrat mengerti pemikiran-pemikiran masa lalu? Pembaca bakal menemukan diksi-diksi khas Orde Baru. Pembaca berulang disodori pemikiran-pemikiran usang berselera Orde Baru. Majalah telanjur terbit memuat tulisan-tulisan jarang enak dibaca dan dipelajari. Konon, para penulis di situ terpilih. Honor besar. Masalah honor itu disampaikan oleh penulis bermukim di Solo. Selama puluhan tahun, majalah itu jarang dicantumkan menjadi sumber kutipan bagi esai-esai bertema “kebudayaan”. Apa majalah-majalah terbit dan beredar di kantor atau perpustakaan tanpa pembaca memanggul 1 ton penasaran? Ah, majalah-majalah itu masih beredar di pasar buku-majalah loak. Sekian orang jarang mau memegang, membeli, dan membaca. Telantar!

Kita membuka halaman-halaman majalah Analisis Kebudayaan, No 3, Tahun III, 1982/1983. Majalah terbitan Depdikbud. Penjelasan redaksi: “Naskah yang dimuat diberi honorarium yang menarik. Dewan redaksi berwenang menyempurnakan bahasa dan sistematika penulisan tanpa mengubah isi.” Kita buktikan tanpa jengkel. Daftar isi memuat artikel berjudul “Seni dan Tehnologi” oleh Goenawan Mohamad. Kita jangan menduga itu esai mengenai seni dan ilmu “teh”. Kita membuka halaman 47. Oh, judul sudah dibenarkan: “Seni dan Teknologi.” Esai bukan terbaik dari Goenawan Mohamad tapi kita mengutip saja: “Mesin dan pabrik tiap kali hanya mengulang suatu taraf kesempurnaan. Sementara itu, melukis, membuat puisi, serta menciptakan suatu komposisi musik tidak pernah sebelumnya merumuskan atau pun mengakui suatu taraf kesempurnaan apa pun; dan oleh karena itu, mereka tidak dapat dikatakan mengulangi.”

Kita simak esai di halaman 65-71. Ali Audah berbagi pengisahan dan penjelasan tentang penerjemahan. Ia sering menerjemahkan buku-buku, diterbitkan oleh Pustaka Jaya dan Pustaka Firdaus. Ali Audah menerjemahkan buku-buku agama dan sastra. Kita membaca penjelasan: “Bahasa Indonesia dalam berhadapan dengan penerjemahan bahasa sastra juga merupakan ujian; sampai berapa jauh kemampuan bahasa perasaan dalam penerjemahan itu berkomunikasi dengan perasaan bahasa sumber. Ungkapan perasaan dan majasi yang tersimpan dalam bahasa sumber itu tidak sama dengan ungkapan perasaan dan majasi dalam bahasa Indonesia.” Kita memilih dua esai saja sengaja mengelak dari sekian esai tampak berselera Orde Baru. Begitu.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *