RENUNGAN SECANGKIR KOPI: KIREJI OH KIIREJI


Imron Tohari

Jika Anda merupakan salah satu penyuka puisi ayat pendek haiku, maka sudah sangat familiar dengan salah satu aspek mendasar seni menulis haiku, yakni “kireji”.

Secara garis besar, kireji merupakan batas antar gambar yang diwujudkan dalam bentuk pemotongan kata/gambar dengan menghadirkan gambar lain (cutting word–pendekatan Barat), atau posisi dimana kata/gambar mengalami kondisi jeda/terhenti untuk dilanjutkan dengan gambar baru lainnya, namun tetap tidak menciderai atau menghilangkan keberadaan gambar / kata sebelum dan sesudahnya (kireji–kurang lebih seperti jukto posisi), atau dalam istilah saya pribadi ibarat fungsi tali elastis dalam olahraga bungge jumping–lompatan gambar/kata, namun tetap tidak memutus keterhubungan dengan gambar sebelum atau sesudahnya.

Dari beberapa istilah pendefinisian di atas tentang kireji, secara jujur saya pribadi kurang sependapat dengan istilah cutting word (pemotongan kata) yang dipergunakan Barat, sebab dengan istilah pemotongan kata, artinya ada bagian kata, dari kata sebelumnya yang dipotong atau dihilangkan, dan itu artinya tidak ada lagi kelanjutan (bersifat selesai), dan seandainya muncul kata/gambar lain sebelum atau sesudahnya, logikanya, Itu sudah merupakan hal baru yang berbeda dan tidak ada hubungannya dengan kata yang dipotong tadi, sebab sudah selesai atau tuntas. Atau mungkin ini faktor perbedaan bahasa saja, karena secara maksud serta tujuannya, semua istilah yang ditawarkan di atas, memiliki satu kesamaan, yakni menciptakan bidang baru (metafisika — dikenal dengan istilah ruang ma), serta memberi impresi perluasan bidang sempit (personal) ke bidang lebih besar (universal).

Karakteristik bahasa kanji jepang, sangat unik, baik bentuk maupun tata tulis berbeda dengan bentuk dan tata tulis latin. Dan hal ini juga yang menjadi salah satu kesulitan para pemerhati haiku untuk mencari pendekatan yang bisa sama persis hasilnya dengan bahasa yang menggunakan penulisan dengan huruf kanji.

Kesulitan-kesulitan dalam pendekatan bentuk serta tatabahasa (gramatika), memunculkan beberapa perbedaan dalam sudut pandang terkait perwujudan bentuk yang mendekati fungsi kireji dalam huruf kanji, serta posisi dimana kireji sebagai tanda dan penanda titik terbentuknya bidang “ma”, sebab seperti diketahui, dalam haiku “kanji” tanda dan penanda kireji ada pada salah satu dipenghujung ketukan ke 5, atau ke 12, atau ke 17 (saya pergunakan istilah ketukan 5-12-17, dengan asumsi penulisan haiku “kanji” ditulis dalam satu larik vertikal atau horizontal) dengan menggunakan huruf iroha (ya, kana, mogana, dsb), dikarenakan tatabahasa kanji tidak mengenal adanya tanda baca. Sedangkan dalam bahasa latin (non kanji), semisal bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, tidak mempunyai huruf semacam huruf iroha yang berfungsi layaknya tanda baca (pada gramatika latin), namun juga berfungsi sebagai impresi nada (membedakan beragam bentuk ekspresi dalam sebuah teks), dan semua Itu tidak atau belum ditentukan pada karakter huruf maupun tanda baca non kanji.

Adanya perbedaan perangkat dan sarana bahasa latin dengan kanji, tidak salah jika ada perbedaan dalam pendefinisian istilah kireji, dan perbedaan dalam menyikapi letak posisi kireji, sebab jika ditulis dengan bahasa kanji jepang, mutlak kireji diletakan disalahsatu ketukan 5-12-17, namun jika ditulis dalam bahasa diluar kanji (jepang), yang secara perangkat bahasa serta secara gramatika berbeda, tidak menutup kemungkinan bisa berada dimana saja, tidak hanya terbatas pada simpul akhir larik 1, 2, dan 3, namun bisa diluar Itu, bisa di tengah larik 1, atau 2, atau 3. Mungkin juga di depan larik 1, atau 2, atau 3. Dan yang menjadi salah satu indikator kemungkinan-kemungkinan tadi terjadi, dikarenakan makna bentukan kata memiliki kedudukan yang sama kuat untuk dipekerjakan sebagai kireji, tanpa ada tanda dan penanda khusus semacam huruf iroha.

Pastinya akan muncul pertanyaan, bagaimana menyikapi hal tersebut?
Jika yang dipermasalahkan bentuk dan letak posisi kireji (penulisan non kanji), maka perdebatan tidak akan pernah usai. Namun demikian, bilamana bentuk dan letak posisi kireji didudukan pada fungsi dan esensi kireji–menyediakan ruang “ma”, serta memberi impresi perluasan bidang sempit (personal) ke bidang lebih besar (universal). Maka tidak ada lagi alasan untuk diperdebatkan.

Salam lifespirit!

Mataram 28 Agustus 2019
Keterangan gambar: kireji, foto dari nihonjapangiapponedotcom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *