CAP JEMPOL, SENI CETAK GRAFIS DARI NOL


CAP JEMPOL
SENI CETAK GRAFIS DARI NOL
AC Andre Tanama
Cetakan I, 2020
282 halaman (xxvi+256 hlm)
15,5 x 23 cm
ISBN 978-602-60395-8-3
Pemesanan: bit.ly/bukucapjempol

Apa itu Seni Cetak Grafis? Banyak orang belum mengenalnya. Padahal hakikat seni cetak senantiasa sangat dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari.

Buku lokal yang membahas seni cetak grafis masih terbatas jumlahnya—untuk tak dikatakan sedikit. Hal itu telah menjadi keresahan tersendiri yang—ketika disadari—sudah tercetak sejak lama di benak & sanubari. Kebanyakan buku tentang cetak-mencetak berbahasa Indonesia yang diterbitkan adalah buku praktis tentang cetak saring/sablon.

Tahun 1988 pernah terbit buku Seni Cetak Cukil Kayu oleh M. Dwi Marianto. Dan kekosongan waktu selama 30-an tahun, tetap minim diterbitkan buku yang khusus membahas Seni Cetak Grafis. Kini, 32 tahun sejak buku Seni Cetak Cukil Kayu (1988), lahirlah buku “Cap Jempol: Seni Cetak Grafis dari Nol” yang ditulis secara komprehensif khusus bagi siapa pun yang berminat belajar seni cetak grafis. Jadi, buku ini tak hanya bermanfaat bagi akademisi seni belaka. Pendekatan keseharian yang dibahas secara sederhana dapat dipelajari oleh khalayak. Kendati muatan buku ini bisa dimanfaatkan pembaca secara umum yang berminat belajar seni cetak secara otodidak, ide menulis tentang seni cetak grafis dari nol ini pun lantaran banyak pelajar dan mahasiswa seni (khususnya mereka yang mempelajari bidang ini) kebingungan ketika memerlukan referensi buku cetak.

Bagi para mahasiswa tingkat pertama, mungkin kepentingan itu belum terasa. Namun, biasanya para mahasiswa mulai kelabakan ketika menyusun makalah ilmiah, laporan tugas akhir atau skripsi. Mereka disarankan agar menggunakan referensi dari buku, jurnal, makalah, dsb. Sumber acuan dari internet boleh dikutip oleh mereka, namun dibatasi dan diminimalisir berdasarkan aturan. Ikhtisar sejarah, teknik, material, dan falsafah seni cetak grafis yang dipadu dengan halaman bonus Vade Mecum serta panduan grafis dapat dimanfaatkan bagi para pembaca awam juga. Siapa pun bisa mempelajari dan menguasai praktik seni cetak grafis—yang selain bernilai budaya, juga akan bernilai ekonomi.

Barangkali itulah sebabnya, kehadiran buku tentang seni cetak grafis ini masih diperlukan dan penting.

Jika keresahan awal tadi dianggap ‘utang’, maka selayaknya ‘utang’… harus ditebus.


***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *