Tujuh Puisi Dody Yan Masfa

PERTUNJUKAN SARIP DI KOTA YANG KERING

Kini senyap peradaban disergap
Malam yang kering puisi disadap
Lingkaran pikiran meratap
Sebab pelarangan yang kerap

Tak seperti malam kemarin
Cahaya begitu meluap pada bibir jalan
Menelan semua keindahan
Akupun terlena pada cerita
Tentang alunalun yang hilang
Penjual obat dengan sulapnya
Kemerdekaan kanakkanak berlarian
Usai menangis minta arummanis
Ruang riang tempat pikiran
Ditumpahkan dengan bebas

Mak….
Suara Sarip bangkit dari mati
Setelah berkali kali dipanggil
Jasad tertelungkup dikali, sepi
Bakal jadi lagi penyaksi kelicikan
Menjadi pertunjukan menjengkelkan

Panggung terbuka satu imagi berhambuaran
Penonton sibuk membakar ikan acuh disudut riuh
Sang pembestir yang biasanya bersimbah darah didada
Tampak batang hidungnya bengkok dihajar kesepian
Kali ini darah menyembur dari otaknya, meluber
kemana mana sampai dikursi penont

Sementara ratusan mulut menganga membentuk
abjad ayat paling sakti dari sekian pertanyaan

Aku tak mengerti, kalian mementaskan apa…?

2019

2020

Puisiku angka sakti
Tercipta dari ruh waktu
Langkah pertama menuju
hatimu

Pintu terakhir tutup beku
Dipalang pintu tertulis :

“Berjalanlah degup jantung tanpa
tolehan meski sekejap, tak ada lagi keteduhan
disini telah menjadi lampau, segala musim lenyap
menjadi kenangan tak penting”

2020

MAKAN MALAM BUATKU

seusai hujan angin tenang
jiwa lapar, pikiran kenyang oleh
berita kebanyakan, khalut maut

: makan malam ini senyum manismu
tanpa syarat apapun, hanya malam
hening kugenggam untukmu

– tak harus tuan..! ini malam panjang
bersama diintip kematian tibatiba terkam
jika kita lengah, maka musti bersyukur
masih ada waktu senggama dan
malam restui segala kisah cinta
yang tersirat sepanjang waktu bersama

: aku senang seluruh hatiku lapang
didera harapan surga, menatap langit
kian cerah, hujan tak jatuh lagi didada
yang berdetak, oleh maut mengancam

2020

SANG BAYANG

Tulisan merah serupa bayang
Berkelebat, jiwanya riang gelimang
Wajah tak tirus, disimpannya duka
Berabad cerita tersirat ruh penerang

: aku menafsirkan pertentangan dari
babad leluhur di ranah negeri wayang
Dimana sang tokoh disebutkan tak
mempunyai jasad, berupa bayang

Sastra Jingga namanya, selalu berubah
Tak pernah tepat tempat, diikutinya
sang tuan, setiap beringsut

Tak pernah merebut, selalu bayang
Dan sang tuan pengembara penyelaras
semesta raya

2020

SELAYAKNYA SEBUAH PERJALANAN

Tak pernah berhenti pada waktu
Tak kan sudah berakhir pada ruang
Tak bergeming dihempas badai
Tak lepas selalu syukur pada bumi
Tak ingkari tapak kaki karunianya

Laju terus laju jangan runtuh
Selagi Tuhan masih dikandung badan
Sebab setapak langkah adalah sedekah
Bagi sejarah

2020

KEKASIH HUJAN

Akulah kekasih hujan
Memintal embun setiap malam
Untuk kubagikan dipagi hari
Dari tubuhku bertumbuhan lengan
Jarijemari menghimpun angin
untuk menemani panas siang

Tak jarang pula aku menjadi rimis
Berbagi sejuk pada senja, mengantar
tidur sore sepasang kekasih dalam
gelegak asmara, pengharapan
pertumbuhan

Akulah kekasih hujan
Merangkum air mata kubawa ke langit
Kutabur merata kebumi, hendaklah terasa
Kepahitan adalah juga kita yang pernah
menangis dalam gelap

Kebahagiaan adalah kita pernah susuri
sungai sampai bertemu muara

Akulah kekasih hujan
Mengiringi langkah siapa menuju cakrawala
Mengenalkannya pada matahari tenggelam
Memberitahukan esok selalu datang lagi

Bila musim kering aku beristirahat menemani
ikanikan dibawah tanah, juga akar pohon
Bersama mereka melantunkan doadoa
membisikankannya pada manusia

“dalam tubuhmu, air akan mencair
bersama tanah. Menemaniku
melantunkan pujian,
pengharapan
Surga”

2020

MATHILDA SANDRA LUSIA

Ooo… Sandra Lusia, hari ini untukmu
Dikesendirian tanpa aku dan gurauan senja
Bermain puisi bersama saling bersaut
Dari kata ke kalimat, menjadi bait indah

Betapa langit telah banyak memberi
Dari ufuk matahari terbit dan tenggelam
Cakrawala, awan, bulan gemintang
Berjuta bait sanggup tercipta

Ooo..kekasih laluku, kupersiapkan seratus bait
Kuuntai dengan gelimang rindu, hati syahdu
Jangan ragukan hidup, kita diberi karunia
Ketidakbertemuan, mengajari kita dewasa

Alangkah masalalu talah berjibun kegaiban
Berbonceng kayuh sepeda bersama
Saling genggam jemari, kita pernah marah
Berpeluk seduh sedan, airmata menyatukan

Ooo.. kau pelangi satu warnaku, hari ini untukmu
Melangkah kedepan tanpa aku disampingmu
Pernah kau tepis, kugamit lenganmu, wajahmu beku
Sebab cemburu adalah caramu memberi cinta

2020

Dody Yan Masfa, lahir di Surabaya 15 Juni 1965, menulis puisi adalah kegemarannya sejak remaja, sebagai ngudo roso, katarsis, dan meneliti diri sendiri sejauh mana ia memiliki kepekaan rasa keindahan tentang bahasa tulisan. Prestasi karya bukan menjadi prioritas bagi dirinya. Menekuni teater sejak usia muda, sampai sekarang aktifitas itu menyeretnya untuk terus menulis. Dody adalah aktor dan sutradara teater Tobong. No Kontak: 085732439089 email : dodyyanmasfa@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *