Puisi-Puisi Rakai Lukman

Merdeka Kok Cuma

Berikanlah wewenang bukan pada ahlinya, lalu haturkan ia pada penistaan.
Hantarkan ia pada luka yang dicabik seribu kata-kata, agar lukamu sendiri beranak pinak dalam sepimu.
Pandai-pandailah bermain luka dan menimbun bangkai, lalu masukan pada kantong baju saudaramu, agar ia ditelan nyinyir seribu berita.
Sudah lama berdengung “Merdeka”, kok cuma pamer luka dan bangkai ke seantero semesta. Saling berebut serpihan kulit dan belulang. Berpesta belatung juga rayap yang ditanak di rumah katulistiwa.
Silahkan hamburkan kertas dan koin-koin yang berlumur darah campur nanah di halaman rumah. Rumah yang ditata dengan didih keringat dan air mata.
Sekali lagi berikanlah pada yang bukan ahliya, agar rumah itu terbakar, lalu kita lahap menelan bara dan abu, kita pun sama-sama bermake up arang, terkam-menikam sebab terlanjur tak saling tak mengenal lagi.

2020

Lereng Bukit

Datangku dari lereng bukit, bukit kapur yang berhambur
dicengkram tangan-tangan pendusta
pelahap batu-batu dan debu-debu
pencabik cita moyang-moyang yang asyik-masyuk di kayang
anak-cucu terburai mimpi-mimpi di bangku sekolah
terseret adonan lumpur yang semburat dari lidah televisi
dilahap adidaya iklan, baligho baligho gagah di pertigaan desa
pojok pasar bersimbah sampah dan duka-duka
masjid-musholah mengantongi doa-doa yang berlumut.
kadaluarsa

Datangku dari tenggara bukit
bukit kapur yang dikepung tegalan dan sawah-sawah
yang menumbuh gedung dan pabrik-pabrik
padinya melenggang ke negeri atas angin
jagung berlayar ke laut yang pekat penuh karat
kacang tanah menuju dasar bumi digerus sungai bawah tanah
jangan kenti kacang panjang berpesiar ke samudera kenang
lupa jalan pulang.

Datangku dari pojok bukit
bukit kapur yang dijangkit rindu dendam
berselimut kabut serakah, berawan gundah gulana
kambing-kambing berwajah sendu
tak lagi menari di jalanan menuju bukit
melahap daun-daun sekedarnya
pagar-pagar tegal-sawah berganti batu bata dan kawat berduri
lenguh sapi-sapi lenyap dilahap cekam raung srekel
truk dan buldoser
kokok ayam subuh sirna dilipat radio dan televisi.

Datangku dari jendela bukit
berbaju keringat dan air mata
kusulam dari timang ibu dan senyum ramah ayah
pohon mangga ditebas angin kepicikan
jambu air berlarian di pinggir jalan raya
sembari merintih menanggung letih
jambu monyet melacur di pingiran kota-kota garang
pohon nangka tersungkur di kolong trotoar
pepaya-pepaya hanyut ditelan banjir bandang industri
bunga-bunga lemas diremas-remas
bunga plastik yang konon abadi.

Dukun, 01 November 2016

Rakai Lukman ialah nama pena Lukmanul Hakim, kelahiran Gresik 1983. Ikut berkecimpung di dunia kesenian semenjak SMA, berlanjut di Yogyakarta, lantas pulang ke kampung halaman. Di tanah kelahiran, masih ikut nimbrung di perhelatan alam estetika. Sempat nongkrong di Sanggar Jepit, Teater Eska, Roemah Poetika, Teater Havara, KOTASEGER (Komunitas Teater Sekolah Gresik), Gresik Teater, DKG (Dewan Kesenian Gresik), Lesbumi PCNU Gresik, dan Sanggar Pasir. Menjadi Guru SB di SMK Ihyaul Ulum, dan Guru BI di SMK al-Ihlas. Antalogi tunggal “Banjir Bantaran Bengawan.” Antalogi bersama, Kitab Puisi I Sanggar Jepit (2007), Burung Gagak dan Kupu-kupu (2012), dan Seratus Penyair Nusantara, Festival Puisi Bangkalan II, 2017. Juga terlibat riset dalam program pendampingan teater DKJT 2018, dan pengkajian sejarah lokal Desa Canga’an, Ujung Pangkah, Gresik 2019. Kini sedang mempersiapkan antalogi kedua, “Curhatan Bengawan” 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *