W.S. Rendra, Suatu Ketika…


DS Priyadi *

Di suatu siang bolong pada tahun 1998, saya datang ke Bengkel Teater Rendra di Cipayung-Depok dan mengutarakan maksud ingin belajar di sana. Waktu itu aku baru saja keluar SMA. Semangatku sungguh membara, tapi teramat lugu dalam pengetahuan dan wawasan.

Setelah menunggu sekian lama, saya ditemui kepala kampus Bengkel Teater[1]. Orangnya tinggi-kurus, gondrong, dan terkesan galak.

”Aku ingin belajar di sini,” kataku.

Kepala kampus tertawa terbahak-bahak. Ekspresi wajahnya nampak meremehkanku.

”Kamu tak ada tampang seniman!” kepala kampus berteriak.

Panas bukan main hatiku. Misal aku ini jago kungfu, tentu sudah kuajak duel dia.

Dengan ekspresi lempeng kepala kampus terus nerocos bicara, memberikan pemahaman tentang apa itu kesenian. Dan pula, apa maknanya belajar di Bengkel Teater. Semacam wanti-wanti, bahwa belajar di Bengkel Teater itu tidak main-main. Tapi keluguanku tak mampu memahaminya. Dengan argumen yang buruk aku tetap ngotot mendesakkan maksud kedatanganku. Dan kepala kampus tetap saja tak menggubris niatanku itu.

Aku jadi linglung dan bingung karena tak ada alternatif tujuan yang lain. Untuk pulang kampung, jelas tidak mungkin. Di samping malu dengan orang tua yang sudah kupamiti penuh gegap-gempita, aku juga sudah tak punya ongkos lagi buat pergi ke sana ke mari.

Setelah melampaui berlusin dampratan kepala kampus, akhirnya aku diperbolehkan menginap di Bengkel Teater, di aula. Ya. Hanya boleh di lingkungan aula saja, tak boleh ke mana-mana. Tugas saya: mengepel lantai, menjaga kebersihan WC, menyapu daun-daun nangka di samping aula, merapikan pagar, membersihkan sampah-sampah got, membabat rumput halaman dan sesekali memijit kepala kampus.

Aku berusaha bersemangat mengerjakan tugasku, berharap agar bisa diterima sebagai anggota Bengkel Teater. Tapi kerjaku—yang menurutku sudah mati-matian—dipandang teman-teman di Bengkel Teater tak ada yang beres. Kurang tangkas, kurang total, kurang ini, kurang itu, harusnya begini, harusnya begitu. Pokoknya salah melulu. Dimaki-maki melulu. Dan kian hari kian tak ada kejelasan, apakah aku akan diterima belajar di Bengkel Teater atau tidak. Jengkel jadinya. Kalau aku punya uang banyak, pasti sudah kabur ke tempat lain.

Setelah 3 bulan aku lewati, suatu ketika aku dipanggil kepala kampus untuk ikut berkumpul di rumah panggung, tempat Rendra dan keluarga tinggal. Di rumah itu pula kawan-kawan Bengkel Teater biasa berkumpul saling evaluasi. Dan itulah kali pertama aku keluar dari area aula dan kali pertama satu ruangan dengan Rendra, penyair dan dramawan top itu. Si Burung Merak itu.

Orangnya gagah dan berwibawa. Pandangan matanya tajam. Rambutnya gondrong sebahu. Mengenakan hem lengan panjang warna hitam yang bagus modelnya ala anak muda.

Teman-teman Bengkel Teater duduk melingkar. Semua menundukkan kepala, menunggu Rendra berbicara. Kepala kampus yang sehari-hari paling kutakuti juga menundukkan kepala. Khusyuk, seperti orang mengaji.[2]

Dan Rendra pun berkata, ”Mumpung kalian masih muda, belajarlah yang baik. Lakukan tugas-tugasmu dengan kerja keras dan penuh tanggung jawab. Padahal kerja keras saja sebenarnya tak cukup, lho. Harus juga ikhlas. Kalau sudah ikhlas, itu pun belum cukup. Harus sampai mencintai apa yang kamu kerjakan.”

Jantungku berdegup lebih semangat. Darah di tengkukku terasa alirannya. Baru kali itu aku mendengar orang berbicara demikian. Aku suka benar caranya bertutur. Begitu indah dan penuh makna. Begitu tenang tapi menggelombang. Kata-katanya terasa menyegarkan, walaupun sejujurnya waktu itu aku tak begitu faham maksudnya. Namun hingga kini dengan jelas aku bisa mengingatnya.

Ia juga berkata, “Di sini kalian mengolah daya hidup dan daya cipta. Bukan kok terus harus jadi orang terkenal. Bukan. Apa sih popularitas itu? Yang sesungguhnya popularitas itu hampa. Yang utama, kalian fahami denyut nadi hidupmu sendiri. Lalu kalian perbaiki setiap hari mutu hidup kalian itu. Karenanya, janganlah bosan jika aku mengingatkan terus. Kalau aku keliru, kalian juga perlu mengingatkanku. Kita kan perlu saling berwasiat di dalam kebaikan, dan saling berwasiat di dalam kesabaran[3],” begitu kata Rendra mengutip surah Al-Ashr. Dan seterusnya, dan seterusnya. Terakhir, ia meminta kepala kampus untuk memberiku tugas-tugas baru.

Wah. Girang betul aku. Habis ketemu si Burung Merak badanku rasanya hangat. Seperti habis di-charge. Jiwaku yang lembab dan kumal pun turut menjadi hangat.

Kepala kampus lalu mengajakku jalan-jalan ke kebun belakang. Ia bilang, aku sudah diterima untuk belajar di Bengkel Teater karena sudah melalui matrikulasi 100 hari. Mataku terbelalak. Gembira dan haru. Aku baru sadar kalau selama ini menjalani matrikulasi. Yang kufikirkan selama itu adalah wajah kepala kampus yang setiap saat mendamprat keliru dan kemalasanku. Sudah lupa soal aku akan diterima di Bengkel Teater atau tidak. Segera aku membayangkan tugas-tugas yang asyik, semacam tugas berlatih drama atau kegiatan sastera—tidak seperti tugasku di aula yang sudah lalu.

Tapi aku lalu terbengong-bengong. Tugasku ternyata masih senada. Justru lebih berat dan berlipat. Di ujung kebun, di bawah pohon matoa, kepala kampus menunjukkan padaku lahan tanah cukup luas yang alang-alangnya tinggi-tinggi. Ia bilang, aku harus membabat alang-alang itu. Aku harus mengolah tanah itu dengan baik, mencangkuli dan membersihkan akar alang-alangnya. Kepala kampus memberi saran, jika tanah telah siap, supaya aku menanaminya dengan jagung dan kacang.

Lalu, aku diajaknya ke kandang samping kolam ikan, dekat rumah gubug yang biasa dipakai menginap tamu-tamu. Di situ ada ternak sapi, kambing dan unggas. Nah, tugasku yang lain memelihara unggas-unggas itu. Aku juga mendapat jatah piket dapur—membersihkan dapur, belanja ke pasar serta memasak. Pendek kata, tugasku banyak, sebagaimana rekan-rekan Bengkel Teater yang lain. Dan setiap hari tugas-tugas itu terus beranak-pinak.

Syahdan, jadilah aku orang super sibuk. Bangun pagi-pagi sekali, solat subuh berjamaah, latihan yoga, memasak, mengurus angsa dan ayam, sarapan, berangkat ke ladang, mencuci pakaianku yang kotor, solat dzuhur, makan siang, beres-beres aula, latihan bahasa Inggeris, latihan silat, solat ashar, ngurus unggas lagi, check and recheck semua kerjaan, solat magrib, lalu makan lagi… !

Habis magrib jadwalnya tentatif—kadang bedah buku, baca koran, latihan gerak indah—tergantung kesepakatan. Lepas jam sembilan, bebas. Biasanya kawan-kawan Bengkel Teater sibuk dengan aktifitas masing-masing. Yang mendalami musik jrang-jreng dengan gitar latian menyanyi. Yang suka teater latian akting di panggung aula. Ada yang tekun memahat patung, melukis, dan menulis. Ada pula yang bersantai ngobrol. Begitu terus. Dari hari ke hari. Dari waktu ke waktu. Pokonya, syaraf dilatih untuk stand by terus.

Selang dua bulan kemudian, Rendra berkata kepadaku, “Kalau kamu memang sungguh-sungguh ingin belajar, hayatilah kenyataan hidup di sini”. Aku masih ingat, kata-kata itu diucapkan Rendra di tangga menuju dapur, saat secara kebetulan kami sama-sama pulang dari Jum’atan. Bagiku, itu adalah kata-kata yang dahsyat, sebab dalam jangka waktu dua bulan, sejak aku diterima di Bengkel Teater, itulah kalimat pertama yang secara pribadi diucapkan Rendra padaku. Entahlah, rasanya bungah disapa demikian. Biasanya, sehari-hari hanya review-review bersama perihal tugas harian saja. Sapaan yang pribadi demikian adalah sapaan yang diam-diam aku idam-idamkan. Di Bengkel Teater, murid baru biasanya dicuekin oleh Rendra, untuk menguji ketekunan dan kesungguhannya belajar.

Aku bukan murid yang menonjol di antara yang lain. Biasa-biasa saja, bahkan relatif lamban dan cenderung kaku. Ini tentu menjadi kegelisahanku. Gelisah, sebab fikiran sering mengganggu: dengan keadaanku yang seperti itu, hendak menjadi apakah aku nantinya? Seusai mengerjakan tugas-tugas grup, biasanya aku menundukkan kegelisahanku itu dengan membaca atau menulis.

Hal yang kemudian sungguh membesarkan hatiku adalah, ternyata Rendra memerhatikan semua kegiatanku. Ia tahu kalau aku sering membaca dan menulis. Dan bisa jadi, barangkali ia juga tahu saat hatiku dalam suasana gelisah dan kurang bergembira.

Suatu ketika, di malam lebaran, ia datang menjengukku di kamar aula. Aku sendirian saja karena kawan-kawan yang lain ijin mudik. Terkejut setengah mati aku melihat Rendra yang tahu-tahu berdiri di muka pintu. Waktu itu pikiranku sedang melayang di kampung karena mendengar suara takbir berkumandang dari mesjid seberang aula. Ingat pula ibuku yang baru saja menelpon sambil menangis karena telah dua kali lebaran aku tak pulang.

“Silakan, Mas Willy….” reaksiku kikuk, tak membayangkan Rendra akan njedul di muka pintu seperti itu—semua kawan-kawan di Bengkel Teater memanggil Rendra dengan Mas Willy.

Rendra tersenyum santun. Ia melangkah masuk dan duduk di sebelahku. “Aku dulu waktu muda juga jauh dari keluarga,” begitu ia berkata. Disusul kata-kata serupa yang hangat dan menghiburku. Hingga akhirnya sampai pada kata-katanya yang tak kuduga, “Puisimu ada yang bagus. Tapi kebanyakan masih jelek. Mesti berlatih lebih baik dalam sehari-hari: bekerja keras dan banyak memperhatikan lingkungan.”

Berdeburan darahku. Kepalaku langsung membesar empat kali lipat. Seorang Rendra mengatakan kalau puisiku ada yang bagus. Meski ia pun mengatakan banyak yang jelek. Sebenarnya aku curiga, jangan-jangan Rendra hanya menyenangkan hatiku saja. Tapi di luar itu semua, yang jelas, sejak itu gairahku belajar dan bekerja menjadi berlipat ganda.

Maka, pagi harinya, seusai subuhan aku berjalan dengan rasa lega dan hati berbunga-bunga. Kutemui angsa dan ayam-ayam di kandang dengan bahagia. Kuberi makan mereka lebih banyak dari hari biasa. Kambing dan sapi juga yang dititipkan kepadaku sementara, mereka kuberi dedak yang kucampur dengan potongan rumput hijau. Mereka nampak bergembira, dan akupun menjadi bergembira karenanya.

Kutengok pula jagung dan kacang tanamanku di ladang. Mereka tumbuh segar dan berbinar, bagai jiwaku di hari itu. Di kebun itu, Rendra pernah nyamperi saya dan berkata, “Perhatian dan kecintaan sungguh penting. Kelak kamu akan rasakan manfaat baiknya. Perbaikilah terus perhatian dan kecintaanmu itu. Karena itulah rahasia dari kharisma.[4]”

Hari berganti. Bulan berlalu. Tahun pun melaju. Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti artinya cangkul, ladang, pohonan, ternak, memasak, dan segala kegiatan di Bengkel Teater Rendra. Dengan caranya Rendra meresapkan pemahamannya kepadaku. Dengan caranya Rendra berusaha membongkar ‘kesadaran’-ku. Sungguh, bagiku ia adalah guru. Selebihnya ia bagaikan sahabat, kakak sekaligus bapak. Kadang-kadang ia tampil bagai sang ibu. Dan kadang pula ia angker bagai raksasa yang siap memberantakkan kebekuan, kemalasan dan kemacetan pikiranku.

Suatu ketika lagi, di satu sore yang bagus Rendra memanggilku. Ia sedang asyik sendirian bermain kartu di ruang perpustakaan. Tak kutahu kenapa hari itu ia bercerita panjang kepadaku. Ia bercerita layaknya teman sebaya. Ia bercerita kenangannya waktu belajar di Amerika. Tentang kenangan bersama teman-temannya HB Jassin, Subagyo Sastrowardoyo (Rendra memanggilnya Mas Bagyo), Goenawan Mohamad, Taufik Ismail, dan Umar Kayam (Rendra memanggilnya Mas Kayam).

Cerita tentang mereka lucu-lucu. Ya. Apa saja diceritakannya. Panjang. Bertambah panjang lagi ketika kutanyakan soal tulisan Subagyo Sastrowardoyo Kerancuan Pribadi Rendra-Lorca[5]. Rendra bagai membentangkan masa lalunya. Ia bercerita bagaimana ia ketika remaja. Ia juga bercerita saat-saat ia menulis Ballada Orang-orang Tercinta dan Empat Kumpulan Sajak.

“Aku waktu itu mendapat honor dua belas perak. Lalu kupakailah nama kumpulan puisiku, Sajak-sajak Duabelas Perak,” kata Rendra mengenang, sambil matanya memandang keluar jendela, dimana nampak berjuluran ranting-ranting rambutan dan pohon duren. Ah, jika aku sedikit saja tanggap, dengan cerita-ceritanya itu sebenarnya Rendra ingin mengatakan, betapa karya adalah pancaran integritas fikir manusia dengan kehidupannya.

Suatu ketika, di kesempatan yang lain. Saat malam menampakkan bulan bulat sempurna, Rendra mendatangiku di emper aula tempatku tidur[6]. Waktu itu sudah tengah malam, tapi aku masih terjaga. Rendra berkata kepadaku supaya aku punya rutin tiap malam menegur pohon nangka, pohon sukun, pohon salam, pohon sawo, pohon duren, bunga kenanga, pagar beluntas dan rerumputan di halaman, setiap malam. Ia juga memberikan contoh kecil bagaimana cara menegur pohon itu. “Dalam Alqur’an[7], pohon-pohon itu bertasbih kepada Allah, lho. Pokoknya lakukan saja dengan ridho, supaya nanti kamu gampang bergaul,” katanya tak kumengerti. Maksudku, apa hubungannya menegur pohon dengan bergaul?

Suatu ketika yang lain, Rendra memintaku untuk memanggil janda-janda tua warga kampung yang ada di sekitar Bengkel Teater ke rumahnya. Sekitar selusin janda tua terkumpullah akhirnya di ruang tamu. Selesai memberikan suguhan minum dan kue sekedarnya kepada mereka aku duduk di sebelah Rendra yang membagikan sedekah kepada janda-janda itu. Kemudian Rendra menepuk-nepuk bahuku dan berkata kepada janda-janda itu, “Ibu. Ini dia muridku. Doakanlah dia supaya menjadi orang yang baik dan berguna bagi sesamanya.”

Wajah para janda itu menjadi gilang-gemilang dan mengucurlah doa dari mulut mereka. Tapi, karena semangatnya, doa itu malah ditujukan untuk Rendra dan bukannya untukku. “Iya pak Haji, semoga pak Haji tambah kaya, banyak uangnya. Semoga pak Haji sehat dan panjang umurnya,” demikian doa ibu-ibu janda tua yang lebih mengenal Rendra sebagai pak Haji Rendra.

Rendra melirikku dan terkekeh tertawa. Lalu kepada janda-janda tua itu Rendra berkata, “Waduh ibu…, terima kasih banyak atas doanya. Kalau saya doakan jadi orang baik saja, dan selalu diberi bimbingan oleh Allah, ya…!”

“Amin pak Haji. Amin, amin!” nyaris serempak janda-janda tua itu mengamini.

Suatu ketika yang lain, saat subuh membuka gerbang kedamaian dan kesejukan, Rendra mengajariku tata-cara bermeditasi. Bagaimana mengendurkan limpa, jantung, paru-paru, kelenjar pineal, kelenjar pituitary, pankreas, lambung, dahi, pipi, bola mata, kuping, dada, meluruskan tulang punggung. Bagaimana seyogyanya kaki bersila. Bagaimana mengatur nafas. Bagaimana meraba dunia, dan seterusnya[8].

Dan di suatu ketika-suatu ketika yang lain, Rendra memberikan apa saja yang ia punya. Ya, semua itu kini tergambar jelas di depan mataku. Kini, Rendra telah berpulang ke haribaanNya, tapi budi baiknya telah terpatri di dalam hati. Sungguh, ia bukan hanya seorang dramawan. Ia juga seorang yang amat dermawan. Dan sungguh. Hingga saat ini, aku masih terbata-bata membaca segala pemberiannya.

Bunga itu telah gugur
ketika bulan bijak
menyebrangi langit hening

Bunga itu telah gugur
di tanah bunda tercinta
di antara tasbih tenteram
angin dan pohonan.

Yogya, 2009

Keterangan Foto: Repro Burungmerak Press

[1] Kepala Kampus waktu itu Agus Mahesa atau dikenal juga dengan nama Gus Jur Mahesa. Kini aktif berteater di Bandung.
[2] Suasana khusuk sebagaimana dilukiskan di atas tidak selalu terjadi dalam setiap pertemuan. Sehari-hari Rendra lebih sering bersikap akrab, santai dan saling bertukar kelakar dengan teman-teman Bengkel Teater.
[3] Lihat Qur’an surat Al-Ashr ayat 3.
[4] Kharisma disepadankan Rendra dengan istilah Jawa Katresnan, yaitu “hubungan” kasih sayang antara benda, lingkungan maupun manusia. Berbeda makna dengan istilah charm dalam bahasa Inggris yang berarti pesona atau daya tarik. Seseorang pernah menanyakan kepada Rendra perihal “pesona” yang dimilikinya, ketika TIM merayakan ulang tahunnya yang ke-70 di Teater Kecil. Rendra mengatakan, bahwa ia tak pernah berpikir soal pesona itu. Ia mengaku, sejak kecil ia justru orang yang gampang terpesona. Lebih jauh lagi Rendra menjelaskan bahwa pesona lebih terkait dengan daya somatic (badan), yang dalam latihan di Bengkel Teater disebut sebagai kesadaran badan (panca indera). Tetapi semata-mata kesadaran badan dilatih bukan demi mengejar pesona, melainkan untuk meningkatkan kepekaan kepujanggaan seseorang, supaya memiliki kekayaan ekspresi yang tidak melulu pikiran dan metafora-metafora yang didominasi oleh penglihatan.
[5] Membaca Kepenyairan Rendra, editor Edi Haryono, Kepell Press Yogyakarta.
[6] Saya dan kawan-kawan Bengkel Teater memiliki kamar, tetapi Rendra memberi kami latihan kepekaan panca indera dengan menganjurkan tidur ngemper, yaitu tidur di emperan. Rendra sendiri jarang tidur di dalam kamarnya, tetapi lebih sering tidur di ruang tamu, dengan jendela dalam keadaan terbuka.
[7] Lihat surat Ar-Rahman ayat 6: Dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (bersujud) kepada Allah. Lihat juga surat-surat yang lain: Al-Hasyr ayat 1 dan 24, surat An-Nur ayat 41, surat Al-Isra’ ayat 44, surat Al-Hadid ayat 1, surat Al-Jumu’ah ayat 1, surat Ash-Shaf ayat 1, surat At-Taqhabun ayat 1.
[8] Anggota Bengkel Teater selalu rutin bermeditasi. Di Bengkel Teater lebih dikenal sebagai latihan pagi al: Nggrayang Raga (Meraba Raga) dan Nggrayang Donya (Meraba Dunia) dll. Pada awalnya latihan tersebut merupakan latihan yang diterima oleh Rendra pada masa kecilnya yang secara khusus diberikan oleh Mas Janadi pengasuhnya. Latihan ini juga merupakan disiplin latihan yang ditempuh oleh Sultan Hamengkubuwana I, yang berakar pada tradisi spiritual Jawa yang notabena ramuan dari Taoisme, Buddhisme, Hinduisme yang menjelma menjadi keunikan Kejawen. Elaborasi setelahnya, Rendra mengadopsi pula tradisi dzikir Islam, yang dilafalkan secara sirri sebagaimana tarekat Naqsabandiyah yang di Jawa banyak penganutnya.
***

08 Agustus 2020 Yogyakarta.

*) DS Priyadi lahir di Pati, Jawa tengah 11 Januari 1977. Pernah memimpin Komunitas Giring-Giring Jakarta, yang dulu pernah beberapa kali mendukung pementasan Bengkel Teater Rendra, dan ikutan aktif di Bela Studio. Menulis esei dan puisi. Judul kumpulan puisinya “Terali dan Gerbang” diterbitkan Jejak Publishing Yogyakarta (2011). Menyelenggarakan pelbagai kegiatan di Kamar Budaya Yogyakarta. Mengampu channel Youtube Akademi Puisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *