BAGAIMANA MEMBACA TEKS (SASTRA)

Ardy Kresna Crenata *

Membaca sebuah teks (sastra) semestinya seperti ini. Pertama-tama, kita melihatnya sebagai sebuah komposisi. Itu artinya, kita memosisikan teks tersebut sebagai bentukan dari berbagai unsur yang saling berelasi dan berinteraksi satu sama lain. Di sini kita bicara soal posisi, porsi, bahkan hierarki–jika ada. Bermodal ketekunan kita pun akan tergoda untuk mencurigai setiap bentuk relasi dan interaksi yang kita temukan itu. Dan kita pun tentu akan tergiring juga untuk menilai komposisi itu, bentukan atau sajian itu, apakah ia telah cukup “estetis” atau belum. Dan jika belum, kita terdorong untuk bertanya-tanya apakah itu semacam kesengajaan yang berpotensi mengusik konsepsi yang kadung kita miliki soal estetika, dan mungkin berpeluang juga menawarkan sebuah estetika baru. Yang terakhir ini, umumnya, kita hadapi saat melakukan pembacaan atas sebuah teks (sastra) yang tak biasa, eksperimental, nyeleneh, dan yang semacamnya.

Kemudian, kita memasuki tahap kedua pembacaan, yakni mencari keterhubungan si teks dengan konteks yang melatari kelahirannya. Di sini, kita mulai menggunakan pisau-pisau bedah di luar teks, entah itu psikoanalisis, antropologi, psikologi, sosiologi, filsafat, seni rupa, sejarah, politik, teologi, sains; yang mana pun itu sesuai kebutuhan kita dalam membedah teks untuk menemukan–dan mengemukakan–“makna” yang mungkin dikandungnya. Bahkan bisa juga kita menggunakan biografi pengarang, jika itu dirasa akan membantu. Dalam hal ini, kita memosisikan–juga memperlakukan–si teks sebagai “Dasein”, sebagai sesuatu-dengan-konteks, bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul begitu saja, tanpa sejarah dan tanpa konteks. Dan ini baik, salah satunya untuk menghindarkan si teks dari terjebak pada semacam alienasi yang cenderung membuatnya statis dan mati–padahal ia sejatinya hidup dan dinamis. Ia, teks sastra itu, tak ubahnya kita, si pembacanya.

Tahap berikutnya dari pembacaan sebuah teks (sastra) adalah mencoba memosisikannya dalam konteks saat ini, yang lebih kekinian, yang secara langsung terhubung dengan kita. Ini dilakukan supaya pembacaan atas teks tersebut tidak terasa sia-sia atau nirguna. Tentu saja, ketika kita bicara soal konteks, kita bicara juga soal realitas kesusastraan di mana teks tersebut beredar–atau diedarkan–kembali. Membaca sebuah teks dengan demikian adalah membaca juga keterhubungan si teks dengan waktu. Ini setidaknya sejalan dengan apa yang dikemukakan David Damrosch dalam How to Read World Literature.

Dan selanjutnya, ini jika kita tergerak untuk menjadikan pembacaan kita atas si teks menjadi lebih komprehensif, dan karenanya lebih adil (baik bagi si teks, penulis, maupun pembaca), yang perlu kita lakukan adalah mencari pembanding, melakukan pembacaan lewat strategi perbandingan. Ada baiknya lingkup yang kita tetapkan tidak hanya “lokal”, melainkan juga “global”. Dengan begitu, kita pun telah memosisikan teks yang kita baca itu dalam semesta yang lebih luas lagi, yang mestilah lebih kaya dan menantang lagi, dan karenanya baik bagi si teks. Dan kita pun, sebagai si pembaca, kemungkinan besar akan terselamatkan dari melontarkan klaim-klaim yang memalukan–jika tidak memilukan. Namun tentu, di sini, kita harus senantiasa berhati-hati agar sudut pandang yang kita gunakan untuk menjalankan strategi pembacaan ini tidak berbau orientalisme, chauvinisme, rasisme, atau yang semacamnya. Satu hal yang harus kita ingat adalah kita melakukan pembacaan atas si teks sebagai manusia pascamodern, di sebuah realitas pascamodern.

Seperti itulah semestinya kita membaca sebuah teks sastra. Urutannya mungkin relatif cair, tapi tahap-tahap tersebut mesti ditempuh–setidaknya hingga tahap ketiga yang dipaparkan tadi. Dan sayang sekali, ini jika kita bicara soal kesusastraan kita dalam beberapa tahun terakhir, kita seringkali mendapati pembacaan komposisi diabaikan; sehingga, dengan sendirinya, teks tersebut, setelah pembacaan dilakukan atasnya, tidaklah ternarasikan sebagai dirinya, tetapi perpanjangan-perpanjangannya saja, atau bayangan-bayangannya saja. Saat Goenawan Mohamad membaca Maryam-nya Okky Madasari di dalam salah satu Caping-nya, misalnya, ia tidak membahas komposisi Maryam. Ketika Katrin Bandel melakukan pembacaan kritis atas Saman-nya Ayu Utami, misalnya, tidak dibahas komposisi Saman secara keseluruhan–hanya sebaian kecil saja yang berkaitan erat dengan apa yang dipermasalahkan Katrin dalam pembacaannya itu. Atau, ketika sejumlah orang melakukan pembacaan atas fiksi-fiksi Faisal Oddang, sastrawan muda kita yang tengah naik daun ini, kita mendapati bahwa persoalan komposisi, yang justru sangat mencolok dan mengganggu, seperti dianggap sesuatu yang tak penting dan tak perlu.

Di tengah realitas kesusastraan seperti ini, saya kira, kita sebenarnya patut cemas. Barangkali ini adalah efek samping–jika bukan warisan–dari begitu merajalelanya Seni Rupa Konseptual (Conceptual Art) dalam beberapa dekade terakhir. Katakanlah, sastra adalah bagian dari seni. Dan ketika seni sudah terlampau menekankan kekuatan atau kualitas karya pada konsep si seniman, dan cenderung permisif bahkan abai terhadap eksekusi bentuk, maka begitulah sebuah teks (sastra) pun seolah-olah dimaafkan begitu saja kendati ia, jelas-jelas, dalam hal eksekusi bentuk, masih sangat lemah–untuk tidak mengatakan mentah. Nirwan Dewanto dalam salah satu esainya di Senjakala Kebudayaan mengatakan bahwa metodologi adalah sesuatu yang penting (baca: perlu ada) dalam proses penciptaan sebuah karya (baca: teks), sebab jika ia tidak ada maka proses penciptaan tersebut cenderung mengarah kepada mannerisme, peniruan demi peniruan bentuk yang dangkal, dan pada akhirnya akan membuat kita–penikmat maupun pencipta–lelah. Saya sependapat dengan Nirwan. Dan itu artinya, ketika seseorang melakukan pembacaan atas sebuah teks (sastra), tak pelak lagi, ia pun harus memberi perhatian yang paripurna terhadap bentuknya, terhadap komposisinya. Sebab sebuah teks tanpa komposisi adalah kesewenang-wenangan belaka. Ia tak ubahnya sebuah lukisan bergaya Dada yang dibuat ketika Surrealisme telah melamlauinya.

Bekasi-Bogor-Jonggol, 24 Juni 2018

*) Ardy Kresna Crenata dilahirkan di sebuah desa di Cianjur pada 16 Desember 1986. Ardy kuliah di Institut Pertanian Bogor dengan studi Matematika, yang menyenangi sastra sejak di bangku sekolah menengah, terutama cerita dan puisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *