Dua Sajak Rakai Lukman

Duduk Bersanding Sang Legislator

Bersanding kesah legislator miskin pekerti, tubuhku belagu berasa kaya imaji, imaji bulat bundar laksana purnama malam sura, sura yang dipintal dari darah juga air mata. Mata air-airmata pemilik suara-suara yang rapat disimpan dalam kantong jas legislator, legislator yang telantarkan tanah-tanah juga bibir pantai, pantai calon reklamasi penampung money londry, londry bagi baju sahwat dan dasi memanjang serupa lidah rakus, rakus yang menjelma lubang kakus.
Di samping sang legislator, wajahku memanen kelekar, rautnya resah selera kemiskinan bertumpukan di jidat dan tengkuk, tengkuk yang dalam, sedalam ceruk sisa galian tambang kapur, kapur yang menelan mimpi bocah-bocah dalam buai layar lima inci. Inci-inci peninabobok yang melahirkan mimpi-mimpi, mimpi menjadi buruh di tanah pojok desa. Desa yang dilumat desas-desas dari ruang kedap parlemen, parlemen yang mlete berebut angin pengap. Pengap campur aroma kegagapan yang tak bernyali.
Nyali liar kedigyaan kemiskinan, kemiskinan yang digoreng lidah tetangga pun saudara, saudara yang meringkuk dalam mangkok cemas, cemas yang meremas dada, dada gagu diguncang ramuan takdir yang tak lekas direguk. Sekali reguk lepaslah yang pantas lesat, lesat serupa anak panah menembus raung buldoser dan pekik rintih legislator.
Legislator menyembulkan desah, miskinku tak serupa miskinmu, kepalanya berasa amis, amis berlapis-lapis, menyerbu hidungku yang lupa kubasuh dalam wudhu. Wudhu yang menjemput doa-doa, doa malakut yang takut kuaminkan, sebab legislator di sampingku masih manusia, manusia pemangsa yang dimanja hutang negara.

Dukun, 30 Agustus 2020

Pohon Yang Dipanen Peradapan Dangkal

Pohon itu berbuah legit awal mula, begitu riuh, menyerbu remah dan remang ingatan. Berduyun-duyun datang mencicipi, memanten rasa disorot lampu-lampu pesta. Pesta yang ditunggangi pemanen enggan menanam, seolah kado perayaan berselubung kepalsuan.
Gelaran pesta buah pohon kata-kata, panen nyanyian juga tawa mesra. Mesra berselimut gundah derita yang dikirim dari kota sahwat. Sahwat makna yang menyalakan api dalam sekam, sekam hitam sisa pembakaran jerami usia. Usia belia yang dimainkan akrobat mimpi-mimpi, yang dibawa hijrah bulan muharam. Muharam yang lamat-lamat meninggalkan diri dalam sunyi.
Sunyi adalah buah lain dari perjuangan, perjuangan yang dikebiri wajah lain peradapan dangkal. Dangkal yang menelan mimpi-mimpi pinggiran jalan. Jalan menuju rumah pojok kesunyian. Lepaslah dalam buaian ruang lain. Ruang yang kelak kau tanami kata-kata. Yang dipanen anak-cucumu, yang jauh dari siul dan cabikan sekutu kedangkalan jantung kota, kota yang repot menata dan berbenah.

Dukun, 31 Agustus 2020


Rakai Lukman ialah nama pena Lukmanul Hakim, kelahiran Gresik 1983. Ikut berkecimpung di dunia kesenian semenjak SMA, berlanjut di Yogyakarta, lantas pulang ke kampung halaman. Di tanah kelahiran, masih ikut nimbrung di perhelatan alam estetika. Sempat nongkrong di Sanggar Jepit, Teater Eska, Roemah Poetika, Teater Havara, KOTASEGER (Komunitas Teater Sekolah Gresik), Gresik Teater, DKG (Dewan Kesenian Gresik), Lesbumi PCNU Gresik, dan Sanggar Pasir. Menjadi Guru SB di SMK Ihyaul Ulum, dan Guru BI di SMK al-Ihlas. Antalogi tunggal “Banjir Bantaran Bengawan.” Antalogi bersama, Kitab Puisi I Sanggar Jepit (2007), Burung Gagak dan Kupu-kupu (2012), dan Seratus Penyair Nusantara, Festival Puisi Bangkalan II, 2017. Juga terlibat riset dalam program pendampingan teater DKJT 2018, dan pengkajian sejarah lokal Desa Canga’an, Ujung Pangkah, Gresik 2019. Kini sedang mempersiapkan antalogi kedua, “Curhatan Bengawan” 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *