KEBAJIKAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Apakah kebenaran atau kebajikan selalu berada dalam terang? Apakah tak ada kebenaran atau kebajikan di dalam apa yang disebut kegelapan atau yang disebut sebagai yang terbuang? Apakah hanya seorang dokter atau tenaga medis yang dapat menentukan seseorang kena virus atau tidak kena virus? Jika iya, maka alangkah mudahnya seseorang dipastikan kena virus atau penyakit tertentu oleh petugas yang memang secara formal sebagai tenaga medis, tanpa satu pun pihak lain yang dapat membantah dan mengkritisinya.

Nazaruddin Hoja menyindir perilaku itu berabad-abad lampau. Suatu hari sang mullah yang jenius ini mencari-cari sebutir jarum di halaman rumahnya tepat di bawah sinar matahari. Seseorang bertanya kepadanya.

“Apakah gerangan yang tuan cari?” tanya seseorang.
“Saya sedang mencari sebutir jarum,” jawab Nazaruddin Hoja.
“Kenapa dicari di halaman rumah di bawah terik matahari? Apakah jarum tuan jatuh di halaman rumah?” tanya seseorang itu kembali dengan heran.

“Oh tidak! Ketahuilah olehmu, wahai orang tidak berpikir. Coba Anda dengarkan dan pikirkan dengan benar. Jarum saya jatuh di dalam kamar. Sedangkan kamar saya gelap gulita. Mana mungkin saya dapat melihat sebutir jarum dalam kegelapan? Maka saya cari sebutir jarum itu di halaman rumah yang terang ini,” jawab Nazaruddin Hoja dengan mantap.

Orang pun heran, apakah “jarum kebenaran atau kebajikan” itu harus ditemukan di tempat terang, sedangkan ia jatuh di tempat yang gelap? Apakah hanya seorang dokter atau tenaga medis yang secara mutlak dapat melakukan tindakan medis dan menentukan penyakit? Apakah orang lain tidak bisa melakukan hal itu dengan tingkat kejujuran (obyektivitas) yang sama? Barangkali ini pertanyaan yang ditanyakan Nazaruddin Hoja beradab-abad lampau di tengah masyarakat yang tidak terkena pandemi. Apakah kebenaran atau kebajikan harus berwajah kaku seperti wajah Batman yang tak pernah tertawa cair dan menyenangkan? Dan apakah bukan kebenaran atau kebajikan jika ia berada di wajah Joker yang tak pernah serius, selalu tertawa terbahak-bahak menertawakan nasib sial dan mengolok-olok kemujuran?
***

Sahdan, tatkala Begawan Wisrawa mengajarkan “sastrajendra”, pusaka kearifan hidup, pada Dewi Sukesi, ia tak kuat menahan “pusaka” kelelakiannya. Sang dewi pun tak kuasa menahan gemuruh dadanya pada pesona gaib sang begawan. Keduanya lalu terlibat pergulatan tubuh yang terlarang. Tapi, menyesallah keduanya setelah tubuh lemas bermandi keringat. Dalam pengusiran dan pengutukan, Dewi Sukesi melahirkan tiga putra. Ia melahirkan Dasamuka, Kumbakarna, Sarpakenanga.

Orang Jawa menyimbolkan kepemimpinan dengan telinga Kumbakarna yang lebar dan besar sebesar gunung. Seorang pemimpin ideal adalah perpaduan serasi dari ketiga putra Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi itu, tergambar dalam diri anak keempat, yakni Gunawan Wibisana. Dalam mistik Jawa yang telah diramu dengan ajaran Islam, itulah lambang nafsu, yakni “amarah” (angkara), “lawamah” (rakus), “supiyah” (kelamin), “mutma’innah” (ketenangan). Hendak disampaikan pesan, pemimpin baik dapat memfungsikan kekuatannya melindungi si lemah, menjaga kehormatan diri dan bangsanya, mendengar dan bertanggujawab atas keluh-kesah penderitaan. Ia lebih banyak mendengar, berdialog, bukan monolog. Kemudian bertindak mengentaskan penderitaan dengan cerdas dan tepat waktu, tak membuat orang menunggu, bersikap humanis sebagaimana dilambangkan Gunawan Wibisana (kebijaksanaan). Bagi Jawa, pemimpin banyak mulut itu “saru” (tak terhormat), berpidato berjam-jam, nerocos penuh kebohongan, bahkan batuknya pun dusta.

Tapi apa yang sesungguhnya terjadi di puncak kekuasaan? Tak lain, kesepian dan kesendirian. Kita tahu, Kolonel Aureliano Buendia dalam novel Marquez, ternyata tidak tewas sebagai pahlawan di hadapan regu tembak. Namun, ia mati dalam kesepian, terasing, dan sendiri yang menyayat hati. Keluarga dan capaian kekuasaan, sia-sia kemudian. Tak melipur hati yang muram. Segala simbol kekuasaan lenyap, diganti kekuasaan berikutnya. Tak ada lagi jalan yang diberi nama dengan namanya. Tak ada lagi patung tubuhnya, telah dirobohkan orang selanjutnya. Apa pun simbol kekuasaan yang dibanggakan, tanpa kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat, akan lenyap setelah si penguasa jatuh, sedih, tua menjelang ajal. Dan itu pasti!

Barangkali memang kekuasaan bukan roda yang berputar, yakni di atas atau di bawah. Tapi ia melonjak, turun, jatuh, pudar, musnah, dilupakan. Dalam sendiri tanpa dialog, kekuasaan jadi angkuh, kekerasannya melampaui batu. Di saat lain, menjadi penjara dingin dan menyakitkan seperti kisah dalam dongeng. Orang tak terus-menerus memuja bagai berhala, tapi mencari cacat dan memusnahkan jejaknya. Dan yang tertinggal dari kekuasaan hanyalah kesepian. Dan setiap kekuasaan—apakah itu kekuasaan politik atau uang, akan membuat manusia penat, sibuk. Hidupnya penuh basa-basi. Pergaulan di antara orang-orang yang melihat segala sesuatu cuma urusan uang, membuat manusia jadi bajingan bahkan sampai pada caranya menyapa keluarga, kawan, dan dirinya sendiri.

Maka kekuasaan harus “diruwat”, kata orang Jawa. Yakni diarifi, buat apa sesungguhnya kekuasaan itu, dan apalah arti kekuasaan jika ia hanya menghasilkan kesenangan-kesenangan singkat bagi diri sendiri, kebanggaan-kebanggaan, dan kebakhilan yang diam-diam? Barangkali kekuasaan yang diarifi, membuat manusia longgar dari kesempitan waktunya, mengalir, dan melepaskan kesuntukan dari perbudakan profesi dan perputaran materi. Buat apa minum bergelas-gelas air, tapi tak sedikit pun menghilangkan dahaga? Bukankah itu kebajikan yang sia-sia?

Tembokrejo, 2020


*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *