Membaca The Kite Runner, Khaled Hosseini


Peresensi: Dedy Tri Riyadi
Judul: The Kite Runner
Penulis: Khaled Hosseini
Penerbit: Qanita
Tahun: 2006
Tebal: 616 hal

“Zendagi migzara (kehidupan terus berjalan)”, demikianlah filosofi orang Afghan, terutama suku Pashtun yang sangat memegang teguh “Nang” dan “Namoos”-nya (kehormatan dan kebanggaan). Maka dunia pun menjadi “kecil” di mata mereka, segala persoalan selalu ada jalan keluarnya, mulai dari runtuhnya monarki, pertempuran dengan Roussie (Rusia), pertikaian antar faksi, sampai dominasi Taliban. Akan tetapi tidak dengan kehidupan yang mengandung kesalahan. Karena biar bagaimana pun kita menyembunyikannya, dusta akan menjadi sebuah kenyataan yang menghancurkan.

Adalah jauh di luar pengetahuan saya, tanah Afghan yang memiliki tradisi yang sangat kuat, juga memiliki perbedaan agama dan kesukuan yang demikian menghancurkan masyarakatnya. Bahkan jauh sebelum perang berkecamuk di negeri dengan keindahan pohon-pohon poplar tersebut. Adalah suku Hazara yang dianggap “bukan manusia” oleh suku Pashtun. Bahkan di bagian-bagian akhir, diceritakan bagaimana mereka dibantai dalam sebuah “ethnic cleansing”. Akan tetapi, di balik kemelut negeri itu, ada suatu kisah yang sangat jelas benang merahnya. Seperti benang layang-layang yang dilumuri dengan bubuk gelas. Tajam menggores ingatan para pembacanya.

Kebencian bukan lah hal yang ditonjolkan semenjak awal. Teka-teki asal mula benci yang kemudian menjadi benih sebuah kejahatan pun digarap dengan baik. Hassan seorang hazara kecil menjadi sandungan bagi Amir untuk dipandang lebih baik di mata Baba (ayah)-nya. Juga menjadi ide bagi seorang Assef yang berdarah campuran Jerman – Afghan untuk menjadi seorang besar seperti Hittler. Namun yang mereka tidak pernah tahu bahwa Baba yang sangat dermawan dan keras hati memegang Nang dan Namoos menyimpan rahasia paling kelamnya di diri seorang Hassan kecil.

Novel ini sangat detail, menceritakan dengan terperinci siapa tokoh – tokoh yang terlibat di dalamnya. Namun tidak memaksa pembaca untuk mereka-reka, sebab penuturan tentang tokoh-tokoh itu tidak serta merta dalam sebuah narasi saja, tetapi juga lewat banyak perkataan. Sehingga dengan sangat mudah pembaca memahami bagaimana sebenarnya tokoh tersebut. Sebagaimana tokoh Baba yang samar profesinya, namun kita bias menduga-duga bahwa dia pasti orang yang mempunyai posisi lumayan tinggi di bidang politik. Tak jauh dari pesta, rokok, dan anggur, tetapi kadang dia sangat mengejutkan, seperti mendirikan rumah untuk yatim piatu. Bahkan sang penulis pun mengutip bahwa Baba ketika menjelang kematiannya mirip dengan Al Capone.

Tak hanya itu saja. Setiap tempat sepertinya mempunyai makna tersendiri dalam mewakilkan sebuah perasaan. Seperti kuburan di atas bukit dengan pohon delima yang selalu berbuah sepanjang tahun telah menjadi wakil dari dunia yang unik milik Amir dan Hassan sebagai “sultan-sultan Kabul”. Dunia yang lebih luas dan merdeka bagi dua anak berbeda suku itu. Di mana mereka saling berbagi cerita, keahlian, dan keberanian. Hassan sangat ahli dalam melempar dan menggunakan ketapel. Berulang kali dia mengajarkan keberanian kepada Amir, hal yang memang tidak pernah dimiliki olehnya.

Alih-alih tak bisa menaklukkan perhatian Babanya, Amir pun menggunakan keberanian yang sangat berbeda. Kelicikan dan dusta. Hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya. Pertentangannya dengan Assef yang tidak pernah bisa ia menangkan, membuatnya memilih jalur yang senantiasa berbeda dengan pikiran orang lain. Seperti ketika Babanya memintanya menjadi dokter, dia memilih menjadi penulis. Padahal dia tahu Baba dan sahabatnya Rahim Khan yang selalu mendukungnya, adalah orang-orang yang sangat berpotensial untuk sakit mengingat perubahan di Afghan yang demikian dahsyat.

Dusta adalah obat sementara. Sebab sekali orang menelannya, maka dia akan terus menerus mengkonsumsinya, sampai akhirnya keberanian untuk berkata jujur lah yang menghentikannya. Amir memilih jalan dusta, sepanjang hidupnya dia bergelut untuk membebaskan dirinya dari dusta itu. Dan ketika saatnya tiba, terlalu banyak harga yang harus dia bayar demi sebuah dusta berbentuk uang-uang kertas dan arloji berwarna biru. Ali saudara Hazara Babanya telah mati oleh ranjau darat, Hassan dan istrinya mati oleh Taliban yang mengira mereka mengambil rumah yang bukan haknya. Bahkan Sohrab, anak Hassan pun harus menjadi budak nafsu Assef dan teman-temannya. Semua karena dusta yang dilakukan.

Tapi ternyata ada banyak dusta di sekitar kita. Sampai hari ini pun masih ada. Seperti dituliskan jelas di dalam novel ini, di balik semua yang terjadi – dusta memegang peran yang sangat penting. Bagaimana demokrasi yang digembar-gemborkan Amerika tidak lah sama baiknya dengan Islam yang diusung oleh Taliban. Semuanya tergambarkan dengan baik. Sangat baik. Dalam porsi yang sama. Demikian pula ketika penulis mengupas tentang agama. Dituliskan bahwa Amir tidak pernah shalat selama 15 tahun. Tetapi ketika seorang diplomat Amerika menanyainya, “Anda Muslim? Apakah anda menjalankannya?” Tanpa ragu dia menjawab “Ya”. Ada banyak dusta di sekitar kita. Itu hal yang sangat jelas terbaca di novel ini.

Dan yang paling penting di dalam novel ini, meskipun tidak begitu jelas digambarkan sebagai happy ending, digambarkan dengan baik bagaimana selayaknya dusta itu ditebus. Amir pun harus menempuh perjalanan panjang, berbahaya, dan berakhir dengan luka-luka di sekujur tubuh hingga dia mengalami sendiri bagaimana rasanya seperti Ali yang pincang dan Hassan yang sumbing. Sebuah hukum karma yang dialami secara langsung sebagai penebusan dusta.

Dan dusta yang manis adalah pil yang sangat pahit bagi kejujuran hati. Tak mudah kita melakukannya, tak mudah kita menelannya, tak mudah kita menghapuskan efeknya. Sohrab tak pernah merasa terhibur tinggal di Amerika bersama Kaka dan Khala tirinya. Betapa pun Amir telah mencoba menerbangkan sebuah layang-layang sebagai cerita keceriaan yang selalu diterbangkan ke langit biru bersama dengan saudara tirinya, Hassan.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *