Membaca “Dari Belinyu Ke Jalan Lain Ke Rumbuk Randu”

(Dari Parodi Sampai Black Komedi)


Juan Kromen *

Adalah sebuah kegembiraan, sekurang-kurangnya bagi saya ketika buku yang berisikan enam naskah kritik sastra ini terbit. Di tengah gegap gempita perayaan para pencinta sekaligus penikmat sastra akan lahirnya sejumlah karya sastra Indonesia (dan terjemahan), karya Sunlie Thomas Alexander ini hadir sebagai salah satu rujukan kritik sastra: menjadi oase yang menyegarkan di tengah gersangnya iklim kritik sastra tanah air.

Harus kita akui dengan jujur bahwa sejauh ini, salah satu kelemahan terbesar dalam dunia sastra tanah air ialah kurangnya antusiasme atau minat para pembelajar, sarjana, dan akademisi yang berkecimpung dalam dunia sastra untuk menghasilkan sebuah kritik yang mampuni terhadap karya-karya sastra yang terbit. Tentu saja bobot atau kualitas suatu karya sastra, dapat diukur dari kritik yang objektif terhadapnya. Harapannya, semakin banyak kritik berbobot yang muncul, semakin banyak pula penulis yang menghasilkan karya-karya sastra yang berbobot.

Usaha-usaha untuk membangun iklim sastra yang sehat ini pula, saya kira menjadi salah satu tugas mahapenting kampus-kampus (dalam hal ini kampus-kampus yang mempunyai fakultas dan atau jurusan sastra Indonesia), karena bagaimana pun juga, hal-ihwal yang berkenaan dengen ekses terhadap dunia sastra dalam konteks akademik, diperoleh secara langsung oleh para penstudi sastra. Bisa saja, komunitas-komunitas sastra menjadi salah satu alternatif, tetapi hemat saya, kultur akademis di kampuslah yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam urusan mencetak para sarjana sastra (Indonesia) yang mampuni.

Menurut saya, ini penting ketika mendudukkan sekaligus meletakkan sastra sebagai sebuah Sains/ Ilmu yang sejajar dengan ilmu-ilmu lain. Jika tidak demikian, apa bedanya fakultas dan atau jurusan sastra dengan komunitas-komunitas sastra yang tersebar di mana-mana itu? Hal ini tentu tidak mengecilkan peran komunitas-komunitas sastra sebagai ruang untuk mendapatkan tambahan ilmu, lingkaran pergaulan dengan sesama pencinta sastra, dan sebagai wahana untuk meyalurkan kreativitas dalam bersastra. Jika melihat banyaknya pribadi yang justru berkembang dalam gemblengan di komunitas-komunitas sastra, fakultas/jurusan sastra harusnya bertanya diri, “Kontribusi apa yang sekurang-kurangnya telah diberikan bagi perkembangan (kritik) sastra Indonesia?” atau “Apa yang sebenarnya salah dengan pola pembelajaran di jurusan/fakultas sastra di tengah minimnya kritik atas karya-karya sastra?” Anggaplah ini kritikan terhadap kultur akamedis di kampus.

Asumsi di atas, mengandaikan juga militansi atau kegigihan dari para penstudi sastra untuk mau berkembang. Jika usaha untuk meningkatkan kualitas dalam bersastra merupakan sebuah proses panjang, formasi awal sebagai fondasi yang ideal menurut saya, bisa ditemukan di ruang-ruang kelas di kampus. Amunisi selanjutnya bisa dicari, lantas ditambahkan di luar jalur (akademik) itu, tentu saja dengan proses panjang yang juga melelahkan dan berdarah-darah.

Dari Belinyu Ke Jalan Lain Ke Rumbuk Randu

Kembali ke buku karya Sunlie Thomas Alexander ini. Saya menamatkannya nyaris sebulan yang lalu. Sebagai sebuah buku kritik sastra, buku ini terasa menyenangkan untuk dibaca, setidak-tidaknya bagi saya, seorang yang suka membaca karya-karya sastra, entah itu novel, cerpen, ataupun puisi. Pilihan-pilihan diksi yang ciamik, kekayaan kosakata dan juga ragam referensi, entah itu yang menyodorkan referensi teoretis ataupun karya-karya sastra (novel) pembanding, hemat saya menjadi kelebihan dan kekuatan buku ini.

Selain itu, jalinan dan analisis yang dibentangkan dengan gaya bahasa yang lugas sekaligus mengalir lancar, membuat karya ini tidak tampak sebagai buku/diktat ilmiah sekelas kritik sastra yang kaku lagi membosankan untuk dibaca, selepas halaman pertama. Saking menikmati membacanya, karena ia seperti bertutur dengan lincah, saya menyelesaikannya dalam dua hari. Saya kira, buku ini memuat sejumlah ‘amunisi’ bagi isi kepala para penikmat sastra dan para penulis pemula. Ia tidak berisi kiat-kiat ataupun trik-trik untuk menulis, tetapi ia membentangkan unsur-unsur penting yang berkelindan dalam memperkaya sebuah tulisan. Tentu saja, amalan terpenting lainnya ialah memperbanyak referensi bacaan dan mulailah menulis dan menulis dan menulis dan menulis!

Barangkali, kita sering mendengar, “Tak ada yang baru di kolong langit. Yang ada hanyalah pengulangan-pengulangan (repetisi).” Demikian juga dalam dunia sastra. Salah satu aspek penting yang saya temui dalam buku ini, yang mungkin dianggap biasa dalam kepenulisan ialah soal intertekstualitas. Strategi intertekstualitas ini diperkenalkan oleh Julia Kristeva sebagai sebuah tafsir ulang atas teks-teks lain dalam rangka memberi ke-baru-an sehingga karya itu didapuk sebagai milik si empunya penulis (yang memberi ke-baru-an itu). Mengadopsi strategi ini berarti menjadi seorang ‘pencuri’ yang baik, yang tak ingin meninggalkan jejak pada karya yang ia hasilkan. Ada ke-baru-an yang ia ciptakan meskipun inspirasi yang ia timba sudah ada sebelumnya.

Dalam buku ini pula, Sunlie juga mendedah beberapa karya yang ia anggap memuat parodi maupun black comedy dan atau tragedi yang ditulis dengab ‘nada’ banyolan. Mengenai itu Anda bisa membacanya sendiri di buku bagus ini. Juga tentang arsitektur kota sebagai bentuk kerinduan akan sebuah kota impian (imajinatif?) di tengah lanskap kota kita yang amburadul dan kaku akibat perangkap modernisme. Atau yang berkaitan dengan arsitektur prosa yang mengalami perombakkan terhadap kemapanan — bentuk baku (dalam konteks sastra) yang menjadi spirit dan watak postmodernisme. Sekali lagi, Anda dapat menemukan uraiannya dalam buku ini.

Yang saya cermati dalam pembacaan saya, Sunlie tampaknya sangat akrab dengan genre realisme-magis. Uraian mengenai realisme-magis ini saya kira mendapat porsi yang lumayan banyak dan tampak ia ulangi di beberapa naskah kritiknya. Barangkali, pengulangan ini di satu sisi menjadi ‘kekurangan’ di buku ini, tapi juga di lain sisi ‘terpacak’ kuat di ingatan pembaca. Terlepas dari itu, bukankah kita memang lebih fasih dan meyakinkan ketika menulis apa-apa yang kita kuasai dengan baik?

Mencermati uraian realisme-magis yang dibeberkan oleh Sunlie, tentu saja menambah wawasan kesusastraan saya ihwal genre yang diidentikkan dengan ‘sastra dunia ketiga’ ini. Betapa tidak, dalam wacana pasca-kolonial, tatapan ‘Orientalis’ yang selalu memandang Timur beserta kompleksitasnya dari kacamata Barat pun sadar tidak sadar sering kita jumpai dalam banyak segi kehidupan di Indonesia. Dikotomi Barat vs Timur, core vs pheriferi, maju vs berkembang (miskin) telah terlampau mengendap di kepala kita.

Barat kerap dipuja sebagai yang unggul, superior, dan rasional. Sedangkan Timur dengan balutan eksotisme dan magis-mistisnya sering dilekatkan dengan yang irasional dan pasif. Identitas Timur akibat kolonialisme didefinisikan oleh Barat. Lantas setelah kolonialisme gaya lama berakhir, terjadi semacam benturan atau gegar kebudayaan, di mana kita kocar-kacir untuk mendefinisikan kembali identitas kita yang sebelumnya telah didefinisikan oleh Barat. Usaha-usaha untuk menyusun kembali historiografi kita tentu sangat dibutuhkan.

Realisme-magis menampilkan unsur-unsur magis sebagai bagian dari realitas-aktual yang wajar. Yang riil dan yang magis ditampilkan sejajar, atau dalam realisme-magis, sebuah ‘dunia’ tercipta, katakankah dalam lingkaran akibat irisan antara yang riil dan yang magis. Sebagai genre yang lahir dalam khazanah sastra Amerika Latin yang juga adalah negara-negara bekas koloni, realisme-magis menggambarkan pencarian akan identitas yang terombang-ambing akibat kolonialisme. Selain itu, realisme-magis juga bisa tampil sebagai alternatif untuk menggugat sejarah yang telah dimapankan oleh negara-negara penjajah.

Jika dikerucutkan dalam konteks Indonesia, bisa jadi genre ini dipakai untuk memotret lanskap kesusastraan Indonesia. Masih adakah dikotomi antara sastra dengan lanskap Jakarta misalnya, yang diperhadapkan dengan sastra berlabel etnografis daerah? Kota vs daerah? Pusat vs pinggiran?
Akhirnya, selamat membaca…

PM, 140920

*) Juan Kromen, lahir di Waibalun, Flores Timur, NTT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *