Teater Populer Mencoba Menghibur di Antara Kepalsuan Hidup

Doddi Ahmad Fauji *
Media Indonesia 07/12/2004

Adakah seorang penyair identik dengan si pemberontak? Adakah si perajut kata itu –sekalipun ia seorang hipokrit– dapat menjadi personifikasi dari si penguak kemunafikan? Kita bisa saja setuju, tapi boleh juga ragu.

Yang jelas, dalam lakon Julieus Caesar-nya Shakespeare, penyair itu diibaratkan duri dalam daging yang harus segera dicabut. Tidak mematikan memang, tetapi menyakitkan bila dibiarkan. Maka Caesar pun bertanya, ”Siapa kamu?” “Saya penyair!” ”Negara tidak membutuhkan penyair. Gantung dia!” Dan penyair itu pun diseret ke tiang gantungan. Dan di masa Orde Baru, si Burung Merak menjadi simbol dari perlawanan. Dan pada pertunjukan Pakaian dan Kepalsuan (PdK) oleh Teater Populer, pembacaan puisi Chairil Anwar bertajuk Sia-sia pun menjadi pembuka tontonan.

Untuk lebih menegaskan bahwa penyair dalam lakon PdK adalah orang-orang kritis yang dengan berani membongkar hipokrisi, ditampilkan wajah almarhum Munir dengan menggunakan alat proyektor. Wajah Munir tampil di bagian awal dan akhir pertunjukan.

Ambiguitas itu terlihat pula pada pertunjukan PdK yang disutradari aktor Slamet Rahardjo Djarot, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Kamis (2/12) malam kemarin.

Pada babak-babak awal, diperlihatkan, si penyair itu (dimainkan oleh Alex Komang) ternyata ‘demen’ juga kepada si penjaja seks komersial (Ria Probo). Tetapi di pertengahan pertunjukan hingga akhir, si penyair itu dikisahkan menyerupai seorang santo. Ia tidak betah melihat kemunafikan orang-orang yang mengaku diri sebagai veteran perang kemerdekaan, yang menikmati hari tua sebagai orang sukses.

Ke sebuah rumah makan Bakmie Djawa/Stup Alpuket, berkunjunglah para pembohong itu, yaitu Abu, pejabat tinggi di sebuah kementerian (Slamet Rahardjo Djarot), Samsu, saudagar kaya (Muhammad Sunjaya), Sumantri, calon duta besar (Eric MF Dayoh) dan istrinya (Niniek L Karim). Di warung itu telah hadir lebih awal pengunjung setia, Hamid (Alex Komang) dan Rustam (Andi Bersama). Berkisahlah mereka mengenai masa-masa di saat mereka berjuang mengusir penjajah. Kisah mereka begitu heroik, dan pantaslah kalau kini bisa menikmati hidup.

Di meja yang lain, penyair dan temannya yang sedang main catur, merasa terganggu oleh bualan-bualan mereka. Akhirnya penyair mendatangi meja mereka, dan mengatakan supaya mereka jangan membual, dan sebaiknya segera mengakui diri mereka yang sesungguhnya.

Orang-orang itu tersinggung dan melecehkan penyair. Di luar dugaan, penyair mengeluarkan pistol kuno yang tidak berpeluru, dan menodongkannya ke mereka. Kini mereka dipaksa mengakui eksistensi yang sesungguhnya.

Lakon PdK sering dimainkan oleh berbagai kelompok teater di seluruh Tanah Air, termasuk kelompok teater mahasiswa. Tiap kelompok tentu memiliki interpretasi dan memperlakukan lakon PdK dengan beragam. Sebab pertunjukan Teater Populer ini digelar dalam rangka festival Panggung Teater Realis Indonesia yang diselenggarakan Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta pada 26 November hingga 2 Desember, tentu Slamet Rahardjo memanggungkan PdK dalam corak realis.

Pada sepekan festival teater realis itu, pertunjukan Teater Populer adalah yang paling berhasil memberikan pencerahan sekaligus menghibur penonton. Teater Populer berhasil meyakinkan penonton, bahwa ada pesona dalam pertunjukan teater yang bercorak realis. Ada gereget yang menggetarkan, ada hiburan yang menggelitik.

Semua itu, tentu saja, lahir dari suatu keterampilan akting para aktor Teater Populer dalam PdK yang bisa dikategorikan telah sampai pada tingkat kewajaran berperan dengan takaran yang pas.

Boleh disebut, semua aktor bermain dengan sangat wajar. Tidak indikatif, juga tidak artifisial. Walau kita tahu teater adalah sandiwara, tetapi para aktor itu seperti sedang menjalani kehidupan yang sesungguhnya.

Pada pertunjukan PdK itulah tampak kematangan para aktor. Teater Populer dikenal sebagai grup yang berkiblat pada jenis komedian. Tetapi di atas panggung, mereka tidak berkomedi. Mereka benar-benar berteater. Sehingga respons penonton dalam bentuk aplaus maupun tawa yang membuncah, tidak membuat mereka lantas lupa diri, dan kemudian melakukan improvisasi untuk menonjolkan diri, hal yang sering dilakukan oleh aktor-aktor komedian yang belum matang.

Kalaupun ada yang mengganggu pada pertunjukan PdK itu, adalah akting Alex Komang yang kurang intens di bagian pertengahan. Pada saat membuka pertunjukan, akting Alex begitu meyakinkan dan realistis. tetapi saat menggenggam pistol dan menodong para pembohong, akting Alex terlihat mengendur. Bahkan cara dia menggenggam pistol kurang meyakinkan. Alex memperlakukan pistol itu seperti mainan, bukan sebuah benda yang bisa mencabut nyawa. Sehingga, kalau pistol itu digantikan dengan mainan yoyo dan diandaikan sebagai pistol, rasanya tidak terjadi perbendaan.

Setelah hampir 10 tahun tidak tampil di panggung, kemampuan Teater Populer ternyata tidak melorot. Penonton GBB pun penuh, hingga harus ada yang lesehan hingga tiga baris di bagian depan panggung. Seandainya semua pertunjukan teater di TIM memiliki kualitas standar seperti Teater Populer yang dikenal banyak mencetak aktor film handal, tentu dunia teater dan film di Tanah Air akan lain ceritanya. Sayangnya, kita baru bisa berandai-andai.
***

*) Doddi Ahmad Fauji, penulis buku Menghidupkan Ruh Puisi, Sastrawan Angkatan 2000 versi Korrie Layun Rampan, dan mantan redaktur sastra Koran Media Indonesia (1999 – 2001).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *