MANTRA DARI LANGIT YANG MEMBUMI


Taufiq Wr. Hidayat

Mohammad Afifi, penulis buku “Mantra dari Langit”, adalah santri. Tulisan-tulisan di buku perdananya ini, meski belum menemukan bentuk orisinil gaya penulisan, cukup menarik dipertimbangkan. Terutama pada tema-tema yang ia angkat.

Afifi menaruh minat pada agama. Juga masalah-masalah sosial dan kebangsaan. Kebanyakan tulisan bertema agama sangat dangkal. Hanya berkutat pada perihal halal-haram, pahala-dosa, surga-neraka. Sehingga membosankan. Namun dalam buku “Mantra dari Langit” ini, Afifi dapat menguraikan persoalan agama secara cukup mendalam. Tidak dangkal. Tidak berkutat pada “acara rutin” keagamaan. Ia memandang persoalan sosial dan politik dari sudut pandang agama dengan kekhasan seorang santri: penuh dalil. Tapi itu menarik, lantaran penulis yang seorang Gusdurian ini, mempunyai penguasaan Bahasa Arab yang baik. Sehingga dalil-dalil agama Islam menjelma sebentang pengertian yang mendalam. Ia mencoba mengoperasionalkan dalil-dalil agama itu guna menjawab persoalan sehari-hari. Mudah, ringan, mendalam.

Buku “Mantra dari Langit” diterbitkan secara swadaya. Itu menggambarkan militansi gerakan, sederhana, dan tak mudah dilakukan oleh mereka yang segenerasi dengan Afifi. Gerakan teks. Gerakan yang diawali Gus Dur muda dulu.

Dalam bukunya itu, Afifi menulis cerita khas pesantren dengan tokoh Nyai Surti. Tokoh ahli agama Islam yang salaf, tetapi kontroversial. Afifi mengeksplorasi logika beragama yang khas Gusdurian secara tepat lewat seloroh dan ucapan-ucapan Nyai Surti dalam bukunya. Ia memosisikan agama sebagai pencerahan. Dan itu digali dari pemahamannya terhadap agama secara tekun di dunia pesantren tradisional.

Tokoh Nyai Surti dalam buku ini, melukiskan sosok yang ndeso. Sosok yang sakral di kalangan orang-orang pesantren NU. Karakter Nyai Surti sebenarnya adalah karakter yang menyimpang. Penyimpangan itu terjadi lantaran logika berpikirnya menabrak kelaziman pandangan keagamaan yang dianggap mapan, baku, dan tak bisa diotak-atik. Pendobrakan cara pikir Nyai Surti terhadap kemapanan doktrin agama itu, justru terbangun dari penguasaannya yang mendalam terhadap agama itu sendiri. Sebentuk “pengkhianatan keilmuan”. Atau—boleh dibilang, kritik agama yang dilakukan dari dalam agama bersangkutan. Nyai Surti menggoyahkan doktrin agama dengan logika keilmuan agamanya yang rasional. Tetapi di sisi lain, sosoknya disakralkan. Dan tampaknya, Nyai Surti menikmati pensakralan itu. Sehingga dengan entengnya ia membenturkan agama yang formal dengan realitas agama yang kultural. Ini mengingatkan kita pada sosok Gus Dur, atau para ahli-ahli agama yang dianggap nyeleneh di kalangan pesantren tradisional.

Tetapi sosok Mohammad Afifi, penulis buku “Mantra dari Langit” ini, juga unik. Seunik pola pikir tokoh rekaannya, Nyai Surti sebagai tokoh sentral dalam beberapa narasi dalam buku tersebut. Ia anak muda pecandu Gus Dur dan bola. Dibesarkan dalam tradisi pesantren yang kental dengan kaidah-kaidah “ilmu alat” atau Lughatul Arabiyah yang diuraikan dengan bahasa dan kearifan lokal. Namun pandangannya tak tertinggal perubahan. Ia mengidap gairah belajar yang menakjubkan. Ia dengan cepat menguasai tata cara kepenulisan yang ribet, diam-diam belajar filsafat, dan gemar bersenda gurau.

Berdiskusi dengan Afifi menarik. Ia menyimpan kecermatan terhadap tema-tema pembicaraan. Dan, terutama, sangat cerdas menangkap rasa humor. Inilah “santri Gus Dur” yang menyimpan kekhasan tokoh yang dipanutinya itu. Ia bergerak bersenjatakan teks. Dan itu luar biasa! Afifi bergerak di bumi. Meski bukunya berjudul “Mantra dari Langit”, namun teksnya tumbuh dari bumi. Berbicara hal-hal ringan sehari-hari. Membincangkan tema-tema mainstrem dengan sudut pandang yang anti-mainstrem. Sangat Gus Dur banget! Dari sisi itulah, buku “Mantra dari Langit” ini cukup menarik untuk dipertimbangkan.

Muncar, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *