Pendefinisian Sastra Nusa Tenggara Timur (NTT)

Mendiskusikan Konsep Sastra NTT Versi Yohanes Sehandi


Yohanes Berchemans Ebang *
Flores Pos, 10 Maret 2016

Dalam lima tahun terakhir, geliat seni khususnya sastra di Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin ramai. Selain perbincangan, diskusi dan apreasi sastra di komunitas-komunitas sastra, hal ini juga ditandai dengan publikasi karya sastra para penulis NTT baik di media-media massa maupun penerbitan buku-buku sastra berupa kumpulan puisi, cerpen dan novel. Hal tersebut memberikan suatu gambaran bahwa ada perkembangan dan langkah maju terkait budaya dan peradaban masyarakat NTT. Bahwasanya, di tengah komunitas masyarakat NTT, ada dan hidup serta tumbuh juga seni khususnya sastra.

Tidak dapat dipungkiri bahwa geliat sastra tersebut sekaligus menyediakan atau paling kurang menawarkan semacam lahan studi dan aktivitas ilmiah yang menjanjikan tidak hanya bagi ilmu(wan) sastra tetapi juga ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Pada saat itu, aktivitas dan karya sastra di NTT akan selalu berdampingan bahkan bergesekan dengan ilmu-ilmu lain. Bertolak dari alasan tersebut, maka konsep dan pendefinisian sastra (di) NTT harus jelas. Paling kurang definisi yang dibangun memberikan gambaran yang padat, terstruktur dan inheren serta dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi latar budaya, logika historis maupun ilmu kebahasaan.

Tulisan ini merupakan sebuah diskusi lanjut atau pandangan dialektis atas konsep dan definisi sastra NTT yang pernah dibangun (dan ditawarkan) Yohanes Sehandi.

Sastra NTT Menurut Yohanes Sehandi

Pada tahun 2012 yang lalu, penerbit Universitas Sanata Dharma menerbitkan sebuah buku berjudul Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT karya Yohanes Sehandi seorang pengamat sastra dan Dosen Sastra di Universitas Flores (Uniflor) Ende, Flores NTT. Prolog buku tersebut ditulis Norbertus Jegalus (seorang ahli filsafat Universitas Widya Mandira Kupang), sementara Yoseph Yapi Taum (dosen sastra Universitas Sanata Dharma) menulis epilog.

Buku tersebut merupakan hasil lacakan Sehandi mengenai keberadaan sastra dan sastrawan NTT sekaligus memberikan definisi terhadap sastra NTT dan sastrawan NTT. Atas usaha Sehandi tersebut, apresiasi patut diberikan kepada beliau.

Sebagaimana tujuan tulisan ini (sebagai wacana lanjut dialektis), maka pada kesempatan ini definisi tentang sastrawan NTT diabaikan untuk sementara. Saya memusatkan bahasan ini terkait definisi Sehandi tentang Sastra NTT.

Menurut Sehandi, sastra NTT adalah sastra tentang NTT atau sastra yang dihasilkan oleh orang NTT dengan menggunakan media bahasa Indonesia (Sehandi, 2012:12-14, 18-19). Ada tiga patokan dari definisi sastra NTT yang dipakai Sehandi, antara lain sastra tentang NTT, sastra yang dihasilkan orang NTT, dan sastra yang menggunakan media bahasa Indonesia. Sementara yang menjadi acuan definisi adalah definisi tentang sastra di daerah-daerah lain di Indonesia (ibid).

Atas dasar acuan dan patokan yang dipakai, pendefinisian tentang sastra NTT yang dibangun (dan ditawarkan) Sehandi tampak agak ‘pincang’. Kepincangan itu (sejauh analisis kritis saya), disebabkan oleh dua hal yang merupakan bagian penting dari sastra (di) NTT, namun belum disentuh dan diselisik secara serius dan mendalam baik dalam patokan, acuan maupun definisi.

Pertama, pertalian waktu dalam rentang sejarah (history) dari tradisi lisan (sastra lisan) suku-suku dan masyarakat lokal NTT, ritus dan sistem kepercayaan (religi) hingga sastra NTT terkini seakan terputus. Kedua, bagaimana atau sejauh mana) sastra dari luar NTT berpengaruh terhadap karya sastra yang dihasilkan penulis NTT (sastra NTT).

Sebagai perbandingan, hasil penelitian kesusastraan Jepang membuktikan bahwa selain berawal dari sastra lisan (dijelaskan dengan proses, sejarah dan rentang waktu), puisi-puisi Jepang, misalnya, turut dipengaruhi oleh unsur lain di luar kebudayaan Jepang. Waka adalah puisi Yamato yang dibuat untuk mengimbangi puisi-puisi Cina. Kindaishi merupakan puisi modern Jepang yang dipengaruhi oleh kesusastraan Eropa yang turut mengubah puisi Jepang dari puisi bersajak menjadi kogjiyushi, sebuah bentuk puisi yang lebih modern (bdk. Daimah, 1992).

Kedua hal tersebut, hemat saya, merupakan bagian penting sekaligus merupakan aspek dan acuan untuk membuat konsep dan definisi tentang sastra NTT.

Sastra Lisan hingga Sastra NTT Terkini

Kantor Bahasa NTT dalam beberapa tahun belakangan terus menggelorakan berbagai program berkaitan dengan urusan kebahasaan termasuk pengembangan bahasa dan sastra lisan di NTT. Selain melalui seminar dan program sastra masuk sekolah, buletin tribulanan Lembar Informasi Bahasa dan Sastra NTT (LISAN), Kantor Bahasa NTT secara konsisten memberikan informasi dan rumusan tentang bahasa dan sastra lisan di NTT serta tempatnya dalam pengembangan bahasa serta program literasi yang digagas Pemprov NTT.

Misalnya, sastra lisan bahasa Dawan (Atoin Meto): Nua’n yang merupakan cerita-cerita lisan berbahasa Dawan (Timor) dalam bentuk prosa, puisi-puisi berirama khas, indah dan magis dalam upacara atau ritus Vera oleh etnik Rongga, syair adat dalam Wulla Poddu (Sumba) dan sastra atau doa tradisional dalam tola kaba (Manggarai).

Tentang ini, Marsel Robot dalam opininya Sastra dan Agama Kemanusiaan yang diterbitkan Pos Kupang (Rabu, 20/1/2016) merumuskan sastra dalam masyarakat tradisional sebagai aktivitas religius, sastra merupakan agama tanpa instansi. Sementara menurut bahasa Hengky Ola Sura, “sastra dan akar tradisi merupakan dua entitas yang tali temali” (Dari Avontur ke Wasihat Kemuhar, 2015:105).

Pernyataan Ola Sura tersebut semacam sebuah penegasan (tidak boleh tidak) memisahkan budaya termasuk sastra lisan dalam perkembangan dan pendefinisian sastra NTT. Sastra NTT paling tidak memiliki pijakan, dan pijakannya adalah tradisi (bahasa dan berbagai kearifan lokal).

Kembali pada buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT , Sehandi menyinggung hal ini namun menurut pembacaan saya, Sehandi belum menarik benang merah atau jembatan penghubung antara dua medan sejarah ini. Hal ini juga tampak dalam publikasi Sehandi terbaru (Flores Pos, 10/10, 12/10, 13/10/2015) yang berjudul Periodisasi Sejarah Sastra NTT. Dua hari kemudian, tulisan tersebut dipublikasikan Sehandi dalam blog pribadinya (15/10/2015). Pada sisi yang penting, sastra NTT terkini harus memiliki sejarah yang terunut dan pijakan yang kuat, namun dalam publikasi terakhir tersebut, Sehandi membuat periodisasi sastra NTT tanpa menyinggung sastra lisan yang sudah ada jauh sebelum sastra NTT dalam bahasa tulis.

Tentang sastra NTT terkini, membaca karya-karya dan publikasi sebagaimana gambaran Sehandi dan berbagai publikasi sastra belakangan ini sambil mengintip sejarah kesusastraan Bali, Jawa, Sumatera dan kesusastraan Jepang yang sempat disinggung di atas, saya sangat yakin (sejauh pengamatan bukan penelitian ilmiah) bahwa karya-karya penulis NTT sangat dipengaruhi oleh sastra dari luar NTT termasuk sastra mancanegara. Hal ini harus dibuktikan dan diiris-bedah dengan teori sastra bandingan dan sebagainya.

Namun secara sepintas Mario F. Lawi sempat ‘mencurigai’ hal ini dalam sebuah pembacaannya terhadap komentar Chriistopher Wodrich yang menyandingkan Catatan Sunyi karya Monika N. Arundhati (penyair asal Lembata) dengan puisi Amir Hamzah (Dari Avontur ke Wasihat Kemuhar, 2015:34-35). Menurut Mario, sandingan Wodrich menjadi semacam pedang bermata dua. Namun menurut pembacaan saya, karya sastra (syair) penulis NTT mungkin saja turut dipengaruhi oleh karya-karya lain dari luar NTT. Katakan saja, penyair Monika N. Arundhati yang mengagumi Arundhati Roy, seorang novelis dan aktivis India yang pada tahun 1997 pernah memenangkan Booker Priz (Kris da Somerpes dalam Floresmuda.com), paling kurang kekaguman itu menyisakan jejak ekstrinsik dalam karya-karya Monika.

Mengemukakan pandangan semacam ini sama sekali tidak bertendensi untuk menyebut penulis NTT sebagai ‘pengintip’ karya orang lain di luar NTT, tetapi lebih merupakan sebuah pembacaan kritis (pengaruh karya luar) untuk pada akhirnya menempatkan karya penulis NTT pada sebuah wadah (pendefinisian) yang tepat. Ketika karya sastra NTT menjadi lahan studi, itu tidak akan menimbulkan ambiguitas pada ilmuwan.

Sebagai sebuah wacana dan dialektika, pada kesempatan ini, saya akan menutup tulisan ini dengan merangkul dan menempatkan kedua konsep di atas (sejarah tradisi satra lisan dan pengaruh sastra dari luar NTT) dalam konsep tentang sastra NTT. Kedua konsep tersebut sekaligus menambah patokan pada tiga patokan yang ditawarkan Sehandi sekaligus membuat pendefinisian baru.

Kalau Sehandi menyebutnya sebagai sastra NTT, maka saya menambahkan kata ‘modern’. Sastra NTT modern adalah sastra yang ditulis penulis NTT (tentang/latar NTT) yang berakar pada sastra lisan NTT dan yang turut dipengaruhi oleh sastra dari luar NTT, dipublikasikan dengan media bahasa Indonesia. Perihal ‘tentang’ atau ‘latar’ NTT, perlu didiskusikan lebih mendalam karena tidak sebatas latar (intrinsik sastra), tetapi juga tentang budaya, nilai dan hal-hal lain yang berkaitan dengan unsur ekstrinsik suatu karya.
***

*) Yohanes Berchemans Ebang (Hans Ebang), Mahasiswa Unwira Kupang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *