PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (6)

: PEMBABAKAN SEJARAH SASTRA INDONESIA

Djoko Saryono

Perbincangan dan penulisan sejarah sastra Indonesia selalu riuh rendah dengan persoalan pembabakan sejarah dan babakan sejarah sastra Indonesia: tak putus dirundung pergumulan periodisasi dan periode sejarah sastra Indonesia. Pembabakan sejarah sastra Indonesia di sini mencakup penentuan dan penetapan waktu ( selanjutnya disebut periodisasi) dan angkatan (selanjutnya disebut generasi) sastra Indonesia. Periodisasi dan generasi ini sampai batas-batas tertentu ditentukan oleh konsepsi tentang sastra Indonesia. Longgar dan lunaknya konsepsi tentang sastra Indonesia mengakibatkan periodisasi dan generasi sejarah sastra Indonesia menjadi longgar dan lunak pula. Tidak mengherankan, ihwal periodisasi dan generasi ini setakat ini masih menjadi masalah krusial, dan selalu diramaikan.Meskipun demikian, semua historiografi sastra Indonesia menggunakan atau melakukan pembabakan dan babakan sejarah sastra tertentu. Seperti apakah?

Buku Kesusasteraan Baru Indonesia karya Zuber Usman, terdapat trikotomi pembabakan waktu sejarah sastra Indonesia. Di dalam pembabakan ini diikutkan pula kesusasteraan Melayu sebelum terbentuk negara-bangsa Indonesia karena hubungan historis bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu. Diungkapkan oleh Zuber Usman (1961:7), “Adapun perpustakaan bahasa Indonesia boleh dibagi atas 3 bahagian besar: (1) kesusastraan lama, (2) kesusastraan peralihan, dan (3) kesusastraan baru”. Hal ini menunjukkan bahwa dalam KBI terdapat 3 pembabakan besar atau dasar sejarah sastra Indonesia dengan memperhitungkan akar-akar historis sastra Indonesia dan selanjutnya hal ini mengisyaratkan adanya tiga angkatan atau generasi dasar, yaitu (i) generasi kesusasteraan lama, (ii) generasi zaman peralihan, dan (iii) generasi kesusasteraan baru. Ketiga generasi ini dipilah-pilah-kan lagi ke dalam generasi yang lebih detil. Dalam KBI tidak dikemukakan ihwal generasi kesusastraan lama se-bab secara khusus masalah kesusasteraan lama Indonesia diulas dalam buku tersendiri, yaitu Kesusasteraan Lama Indonesia. Dalam KBI oleh Zuber Usman dibahas pembabakan waktu dan angkatan (generasi) zaman peralihan dan zaman kesusasteraan baru.

Periode zaman peralihan, menurut Usman dalam KBI (1961:17), terentang sepanjang paruh pertama Abad XIX. Dengan kata lain, babakan sejarah ini berlangsung pada paruh pertama Abad XIX. Periode ini ditandai oleh terjadinya pergeseran orientasi dan modus kepengarangan dan nilai-nilai yang dianut. Tokoh utama yang berada pada zaman peralihan ini ialah generasi Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Dikemukakan dalam KBI sebagai berikut. “Zaman peralihan dimulai dari zaman Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, lahir 1796 dan meninggal 1984. Abdullah yang mula-mula mengarang menurut cara yang dilazimkan oleh orang Barat… (Ejaan disesuaikan, KBI, 7)…. Zaman Abdullah, abad ke-XIX, merupakan penutup zaman lama dan Abdullah dapat diumpamakan sebagai cahaya fajar zaman baru, yang mulai menyingsingkan sinarnya diufuk zaman itu. (Ejaan disesuaikan, KBI, 15)’. Sastrawan-sastrawan yang termasuk angkatan Abdullah tidak dibahas oleh Usman dalam KBI. Bahasan tentang zaman peralihan hanya berisi situasi kepengarangan dan sosok Abdullah meskipun selain Abdullah terdapat sastrawan-sastrawan lain, sebagaimana dijelaskan oleh U.U. Hamidi dalam Pengarang Melayu dalam Kerajaan Riau dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dalam Sastra Melayu (1981).

Dalam KBI, pembahasan Usman terfokus pada pembabakan waktu dan angkatan sastra Indonesia sejak awal Abad XX sampai dengan tahun 1945, bermula dari periode Balai Pustaka dan berakhir pada periode Angkatan 45 mengingat buku ini pertama kali ditulis pada tahun 1957;dan sampai terbitan ketiga tahun 1961 belum ada perbaikan atau revisi atas pemba-bakan waktu dan angkatan yang dikemukakan. Dikemukakan dalam KBI 5 periode sastra Indonesia, yaitu (i) periode Balai Pustaka (1908 – 1932), (ii) periode Pra Pujangga Baru (1928 – 1932), (iii) priode Pujangga Baru (1933 – 1942), (iv) periode Zaman Jepang (1942-1945), dan (v) periode Angkatan ’45. Usman menandaskan, “Kesusasteraan baru (modern) mulai sejak berdirinya Balai Pustaka tahun 1908 …. Zaman Jepang biasa pula disatukan dengan zaman Angkatan ’45 atau Angkatan Kemerdekaan dan disebut orang juga Angkatan Repolusi”. (Ejaan disesuaikan, KBI, 8).Hal ini sekaligus mengimplikasikan adanya 5 pembabakan angkatan (generasi) sastra Indonesia, yaitu (1) genera-si Balai Pustaka, (2) generasi Pra Pujangga Baru, (3) generasi Pujangga Baru, (4) generasi Zaman Jepang, dan (5) generasi Angkatan ’45 (KBI, 1961:27-269). Termasuk ke dalam angkatan-angkatan ini berbagai-bagai sastrawan Indonesia.

Dalam KBI dijelaskan bahwa periode Balai Pustaka merupakan periode pertama kesusasteraan Indonesia yang hakikatnya modern. Periode Balai Pustaka ini didasarkan atas peranan Balai Pustaka dalam penerbitan-penerbitan buku sastra, dimulai pada tahun 1908, saat berdirinya Balai Pustaka, sampai dengan tahun-tahun terakhir dasa-warsa 1920-an, saat digantikan apa yang disebut oleh Usman periode Pra Pujangga Baru. Yang termasuk dalam periode Balai Pustaka ini ialah generasi yang tulisan-nya diterbitkan oleh Balai Pustaka, yaitu Merari Sire-gar, Marah Rusli dan kawan-kawan yang dapat disebut ge-nerasi Balai Pustaka. Dalam KBI, sastrawan-sastrawan yang dimasukkan ke dalam generasi Balai Pustaka ialah Merari Siregar, Marah Rusli, Abdul Muis, Adinegoro, Nur Sutan Iskandar, Muhammad Kasim, Suman Hs., Aman Dt. Ma-djoindo, HAMKA, M. Enri, Sa’adah Alim, Sariamin (Sela-sih), M.R. Dajoh, Paulus Supit, A. A. Pandji Tisna, L. Wairata, H.S.D. Muntu, dan Sutomo Djauhar Arifin (KBI, 1961:27-143). Dalam KBI, riwayat dan karya para sastra-wan ini dibicarakan cukup detil.

Sementara itu, Muhammad Yamin, Rustam Effendi, dan Sanusi Pane tidak dimasukkan ke dalam generasi Ba-lai Pustaka. Ketiga sastrawan ini dimasukkan periode dan generasi Pra Pujangga Baru oleh Usman (KBI, 1961: 149-172). Periode dan generasi ini dapat dikatakan se-bagai embrio periode dan generasi Pujangga Baru. Menu-rut KBI, periode dan generasi Pujangga Baru baru benar-benar mantap ketika muncul St. Takdir Alisjahbana dan majalah Pujangga Baru. Dengan kata lain, periode dan generasi Pujangga Baru didasarkan atas peranan yang di-mainkan oleh majalah Pujangga Baru. Periode ini dimulai awal dasawarsa 1930-an, tepatnya tahun 1933, sampai de-ngan akhir dasawarsa 1930-an, tepatnya tahun 1942 (li-hat KBI, 1961:8). Yang dimasukkan ke dalam periode Pu-jangga Baru ini ialah generasi Pujangga Baru yang ter-diri atas Mr. St. Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, Amir Hamzah, dan J.E. Tatengkeng(KBI, 1961:187-258). Dalam KBI, riwayat dan karya-karya para sastrawan ini dibicarakan secara sosiologi sastra, bukan struktural.

Babakan Pujangga Baru selanjutnya digantikan oleh babakan Zaman Jepang, dan dengan demikian muncullah pula angkatan Zaman Jepang. Menurut KBI, eksistensi atau keberadaan periode dan generasi ini tidak berarti (signifikan) sehingga dapat disatukan dengan periode dan generasi ’45. Itu sebabnya, dalam KBI sama sekali tidak dibahas masalah periode dan generasi Zaman Jepang. Pem-bahasannya disatukan ke dalam periode ’45 atau terkenal dengan nama Angkatan 45. Dalam hubungan ini, dalam KBI Usman hanya membahas Chairil Anwar yang disebutnya sebagai pelopor Angkatan 45. Ulasan tentang riwayat dan karya Chairil dilakukan secara panjang lebar dalam KBI (lihat hlm. 267-298). Sastrawan-sastrawan lain tak dikemukakan dan dibahas oleh Usman (simak KBI, 1961:269). Historiografi sastra Indonesia karya Zuber Usman berhenti di sini.

Bersambung…

2 Replies to “PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (6)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *