ALAS KETONGGO, IBU HUTAN TANAH JAWA


Mashuri

“Waktu itulah berhenti kekacauan negara. Nahkoda ikut ke tempat perjamuan ratu keturunan Waliyullah. Kratonnya dua buah, disebut Jawa, bernama Katanggapetik, terletak di sebelah Gunung Lawu. Pada waktu itu, timbul pengampunan, penghasilan negara berupa uang dinar. Karena ratu bertindak adil, semua hamba takut dan cinta. Ia bertahta tanpa kekurangan…”

Demikianlah bunyi gurat ‘masa depan’ dalam kitab Musarar, yang disebut juga kitab Hasrar, yang dalam bahasa Londo-nya: Boek Dergeheimenissen. Nubuat itu tidak hanya mencatat ihwal kedatangan Ratu Amisan, alias Ratu adil, yang karib disapa dengan Sultan Erucokro sebagai pembawa obor ketentraman di tanah Jawa, tetapi juga menyebut sebuah tempat: Ketonggo. Sebuah tempat yang kini dikenal sebagai hutan di lereng Gunung Lawu, yang nama kunonya adalah Wukir Mahendra (dalam Tantu Panggelaran), dan menjadi perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Alas Ketonggo sendiri termasuk Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Konon, kitab itu berisi jangka atau Ramalan Jayabaya, maharaja Kerajaan Kediri antara 1135—1157 M yang memang dikenal dengan ramalan-ramalan yang tokcer terkait dengan tahta dan ketentraman Jawa. Dr. J. Brandes, seorang ahli Jawa dari Belanda menunjukkan betapa ramalan itu tidak hanya berpengaruh pada Jawa, tetapi Indonesia, karena beberapa pahlawan Indonesia terilhami oleh Jangka Jayabaya dan berani melawan Belanda dengan mengatasnamakan diri sebagai Ratu Adil. Sekadar menyebut adalah Pangeran Diponegoro, pangeran Jawa yang mengobarkan Perang Jawa (1825—1830) ini mendaku diri sebagai ratu adil. Begitu pula dengan proklamator kemerdekaan RI, Ir Soekarno. Ia juga menggunakan Jangka Jayabaya dalam perjuangannya, termasuk keyakinan bahwa ‘saudara tua’ Jepang bercokol di Indonesia hanya seumuran jagung, salah satunya.

Ihwal siapa pengarang Kitab Musarar yang memuat Jangka Jayabaya hingga kini belum dapat dipastikan. Ada sumber yang menyebut pengarangnya adalah pujangga penutup Jawa, KRT Ranggawarsita. Ada pula yang menyebut pengarangnya adalah pujangga Jawa lainnya sebelum Ranggawarsita. Namun, soal keyakinan adanya Ratu Adil sudah ada sejak baheula.

Uniknya, sang Ratu Adil itu muncul dari sebuah kawasan di sekitar Lawu dan bernama Ketonggo. Tak heran, hingga detik ini, Alas Ketonggo dianggap sebagai kawasan sakral. Apalagi pada perkembangannya muncul beberapa situs di sana, yang diyakini oleh sebagian besar orang terkait dengan masalah wahyu keprabon atau wahyu kedaton, alias spirit kekuasaan. Di sana, juga bertebaran situs-situs yang diyakini terkait dengan penguasa Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya Pamungkas, atau Brawijaya V, yang disebut-sebut dengan nama Prabu Kertabumi. Situs tersebut kebanyakan berupa situs alam dan menjadi punjer bagi wisata spiritual sebagian orang yang meyakini keberadaannya.

Luas Alas Ketonggo sendiri kurang lebih 4.846 meter persegi. Lokasinya terletak 12 km arah selatan dari Kota Ngawi. Menurut orang Jawa, Alas Ketonggo merupakan salah satu alas wingit di tanah Jawa. Hutan lainnya yang juga dianggap sangar dengan semboyan jalmo moro jalmo mati adalah Alas Purwa, di Banyuwangi. Sebenarnya antara Alas Purwa dan Alas Ketonggo adalah pasangan. Alas Purwa disebut sebagai bapak, sedangkan Alas Ketonggo disebut sebagai ibu.

Menurut keyakinan sebagian masyarakat, di Alas Ketonggo terdapat lebih dari 10 tempat pertapaan. Dapat dirunut mulai Palenggahan Ageng Srigati, Pundhen Watu Dhakon, Pundhen Tugu Mas, Umbul Jambe, Pundhen Siti Hinggil, Kali Tempur Sedalem, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sendang Mintowiji, Kori Gapit, dan Pesanggrahan Soekarno. Disebut Pesanggrahan Soekarno karena diyakini sebagai tempat Bung Karno pernah menyepi di sana.

Sementara itu, Mbah Marji, juru kunci Palenggahan Ageng Srigati, mencatat ada 22 situs di Ketonggo. Situs-situs tersebut diyakini sebagai petilasan Raja Majapahit akhir dalam mengasingkan diri ke Puncak Lawu. Berikut ini daftar situs-situs Ketonggo berdasarkan penelusuran Mbah Marji, terdiri atas tujuh goa, yaitu Goa Tugu Manik, Ndaru Kilat, Blegonondo, Bagus, Mandra Guna, Teluk, dan Sundeng. Selain itu adalah Sendang Soko dan Sendang Umbul Jambe.

“Yang jelas juga Situs Siti Inggil dan Kraton Ketonggo,” katanya.

Kedua situs tersebut diyakini sebagai pusat Alas Ketonggo. Situs lainnya adalah Batok Bolu atau Batu timbang, Kori Gapit, Tugu Mas, Watu Dakon, Tempur Sedalem, Sepudak Sinumpet, Batu gambar, Ompak Sepayung, Kandang Bubrah, dan Sungai Tempur. Dan, yang teranyar Petilasan Sabdopalon Noyogenggong.

Usut punya usut, nubuat dari Kitab Musarar itu diyakini berlaku dari waktu ke waktu. Salah satunya di situs Sungai Tempur, yang merupakan penyatuan dua aliran sungai di Alas Ketonggo yang menjadi aliran Sungai Ketonggo. Dipercaya tempat ini pernah menjadi saksi para penguasa dulu menempa batinnya sebelum berkuasa.

“Sungai Tempur terletak di atas Tugu Mas. Sebelum Kasunanan Surakarta berdiri, leluhurnya pernah bertapa di situ dan mendapatkan kanugerahan berupa wahyu kedhaton dari Gusti Allah. Kayunya juga diambil untuk membangun Kraton. Pada tahun 1985, ketika Kraton terbakar, jaraknya dengan kayu yang digunakan adalah 100 meter,” tegas Mbah Marji.

Diyakini, ihwal hubungan antara kekuasaan dan Alas Ketonggo tidak hanya berlaku pada masa kerajaan kuno saja. Hingga kini, Alas Ketonggo juga dianggap sebagai tolak ukur kekuasaan Nusantara. Banyak peristiwa berhubungan dengan kondisi kekuasaan Nusantara dapat dibaca dari fenomena Alas Ketonggo ini. Ihwal fenomena ini kapan-kapan saya tulis ketika membahas Palenggahan Ageng Srigati.

Yeah, leluhur kita dulu memang begitu waskita. Mereka suka menyepi dan berpuasa. Lain dengan anak cucunya, generasi kita, yang kalau disuruh menyepi selalu berkata: “Emang zaman goa”, dan kalau diminta sering berpuasa selalu bilang: “Ayam panggang bumbu kecap masih enak rasanya”. Mak nyusss, Brow!
***

Sidokepung, 12 Nov 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *