ORANG BIASA YANG BERNAMA KELANG AGUS SUMARI


Taufiq Wr. Hidayat *

“Kenalkan. Nama saya Kelang Agus Sumari,” katanya menjulurkan tangan untuk bersalaman.

Saya menyambut tangannya. Dia tetangga baru saya. Orang Madura. Kumisnya melintang, melengkung sedikit pada kedua tepinya. Beberapa giginya tanggal di bagian depan. Kalau tertawa, tampak ompong. Lucu. Tapi perokok berat. Dulu pernah belajar di pesantren. Imannya ganjil. Tapi unik.

Kelang Agus Sumari adalah orang Madura dengan model suka bercanda, lucu, dan punya karakter yang kuat. Yang seperti dia itu, konon menurut Kuntowijoyo sampai di New York. Dalam novelnya “Impian Amerika”, Kuntowijoyo mengisahkan orang Madura yang berdomisili di New York, beristri perempuan Amerika, punya anak. Anak orang Madura di New York itu dapat berbahasa Inggris sangat fasih, tapi memakai bahasa Madura ketika berkomunikasi dengan sesama Maduranya. Katanya, yang ditakutkan di dunia ini hanya dua, yakni Tuhan dan ibu. Meski badannya kekar penuh tato, tapi sangat penakut sama ibunya.

Pagi itu, Kelang Agus Sumari bertandang ke rumah saya. Dia merasa pusing melihat bentuk bangunan rumah saya. Beberapa hiasan dinding, pohon bonsai, dan bentuk daun pintu lama. Sedikit-sedikit Kelang Agus Sumari bertanya kepada saya tentang rumah saya itu: ini buat apa, ini kenapa begini, itu kok begitu.

“Kenapa saya pusing melihat rumah kamu ini?” tanya Kelang Agus Sumari. Kumisnya yang melintang dan agak melengkung di kedua sisi, tampak bergerak-gerak.

“Itu karena terlalu banyak pertanyaan di dalam kepala Bapak,” jawab saya ringan.

“Saya ini ibaratnya Nabi Musa yang berguru sama Nabi Khidir. Semakin banyak pertanyaan, semakin menunjukkan kalau sebenarnya dia malas berpikir dan tak pandai menjalankan atau membuktikan ilmu yang dikuasainya.”

“Saya bukan Nabi Khidir. Bapak juga bukan Nabi Musa.”

“Sekarang banyak orang menepuk dirinya ustadz atau kiai, guru agama atau ahli agama. Tapi untuk menghargai orang lain, ia tidak mampu. Ia ingin orang menghormatinya, tapi ia tak pandai menghormati orang lain dalam kesetaraan. Dia pikir orang lain bodoh atau berada di bawah dirinya.”

“Kenapa pembicaraan kita sampai di situ, bukankah kita sedang membahas rumah?”

Kelang Agus Sumari tertawa. Ompong. Kumisnya melintang dengan luwes.

Kelang Agus Sumari menceritakan pengalamannya ketika menjadi santri dulu. Menurutnya, mendiang kiainya adalah sosok yang bersahaja. Tidak mau terkenal. Dan jarang berkenan difoto. Memakai baju apa adanya, sederhana, tak pernah merapikan kopyahnya. Kopyahnya asal nyantol di kepala. Dan itu tidak dibuat-buat. Tidurnya di atas plonco, tempat tidur yang terbuat dari belahan-belahan bambu. Kalau ditiduri, bunyi kreyot-kreyot terdengar. Menurut Kelang Agus Sumari, kiainya adalah kiai besar dengan pesantren yang besar. Tapi dia sangat pandai menghargai siapa saja dengan sikap setara. Tak pernah memutuskan perkara bersama dengan kehendak atau seleranya sendiri. Tapi dengan seksama ia akan mendengarkan pendapat siapa saja meski pendapat itu paling tidak masuk akal sekalipun dan dari orang yang paling tak tahu. Dia hidup sederhana, sederhana yang sebenarnya, bukan seolah-olah sederhana tapi gila perhatian dan diam-diam butuh pengakuan.

“Itu kiai beneran!” kata Kelang Agus Sumari tegas, dengan logat Madura yang kental dan khas. Ompong. Kumisnya melintang, lalu melengkung tenang di kedua tepinya.

“Memang ada kiai yang gak beneran?” tanya saya.

“Banyak! Jago kitab, jago merangkai bahasa indah, tapi diam-diam tidak setia pada ajaran agama. Itu banyak. Ujung-ujungnya punya kepentingan, atau mendukung calon bupati, gubernur, presiden, lurah. Tidak bekerja. Hidup dari pengakuan-pengakuan.”

“Lho Bapak sepertinya tidak sedang membahas rumah.”

“Dari tadi memang tidak. Membahas rumahmu, pusing!”

Kelang Agus Sumari tertawa. Saya juga tertawa.

Menurut Kelang Agus Sumari, orang yang mendekat pada agama akan rawan terperangkap simbol. Saya kaget, orang biasa seperti Kelang Agus Sumari ini berbicara perihal simbol.

“Maksudnya?” sergah saya.

“Makin dekat sama agama, makin mementingkan dirinya sendiri. Makin melihat orang lain sebelah mata. Tak punya tata cara untuk menghargai kebersamaan. Yang ada dalam dirinya hanya keharusan untuk diakui dan diagungkan,” jawab Kelang Agus Sumari mantab.

“Lalu apa tidak boleh orang mendekat pada agama?”

“Buat apa mendekat pada agama kalau membuat kamu jauh dari kerendahan hati?”

“Lho bicara Bapak kok aneh?”

“Ingat, anak muda. Jangan mendekat pada agama. Tapi mendekatlah pada Allah. Kalau kamu mendekat pada Allah, belum tentu dekat Allah. Sehingga kamu bisa rendah hati. Dan kesetiaan hidupmu tidak menjadi keangkuhan.”

Saya terdiam. Angin pagi mengelus kumis Kelang Agus Sumari pelan sekali.

Dalam cerita pendek ini, Kelang Agus Sumari membawa ingatan saya pada sosok agung bersahaja, YB. Mangunwijaya. Dalam cerita ”Pohon Durian Kek Kopral”, ia mengisahkan hubungan mesra antara seorang kakek dengan seorang putri dan cucunya. Kakek tua itu bernama Raden Arioyudo, ia memiliki sebatang pohon durian. Putri dan cucunya meminta Raden Arioyudo berkenan menebang pohon durian tua itu. Sebab buah-buah durian itu selalu mengirimkan maut bagi anak-anak kambing yang kebetulan berada di bawahnya. Raden Arioyudo menolak, lantaran pohon durian tersebut adalah pohon durian yang ditanam oleh kawan seperjuangannya yang gugur tempo dulu. Dengan demikian adalah “pohon perjuangan” dan “pohon kenangan” yang sangat bernilai dari seorang Mayor Jenderal Paidi dalam Dharnisun van Makhelang, Kavalerie Rekhiment, tweede divisi van het Konengkelek Nerderlands Indis Lekher. Cerita YB. Mangunwijaya itu menyindir “sisi gawat” dalam jiwa, yakni kesetiaan yang menjelma keangkuhan, tetapi dengan nakal dan jenaka. Manusia tak dapat mengusir masa lalunya, betapa pun ia telah melupakan dan beranjak jauh darinya. Barangkali masa lalu memang tak pernah pergi. Tapi hidup terus berjalan, bukan?

“Orang yang punya prasangka baik, dapat dipastikan ia orang baik,” kata Kelang Agus Sumari.

“Kalau prasangkanya jelek?” tanya saya.

“Kalau prasangkanya jelek, sebenarnya ia orang jelek!” jawab Kelang Agus Sumari tegas. Berlogat Madura. Asap rokoknya melayang ke alam semesta.
***

Gumuk Angin, Tembokrejo, 2020

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *