Amien Kamil dan Puisi yang Belum Mandiri

Haris Firdaus

Kalau benar, seperti yang dikatakan Ayu Utami, bahwa dalam perpuisian Indonesia ada yang dinamakan “aliran Rendra”, saya kira Amien Kamil adalah bagian dari aliran itu. Nama penyair ini, bagi telinga saya, sebenarnya cukup asing. Tapi ketika saya melihat ia membacakan sajak-sajaknya pada Jumat (2/11/2007) lalu di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, saya tahu penyair itu adalah bagian dari “aliran Rendra”.

Penyair Amien Kamil naik panggung dengan dandanan yang “seniman banget”: rambut gondrong gimbal disongket, wajah sangar dengan kumis dan jenggot, kaos dengan warna dasar putih penuh “grafiti”, dan panggung yang mewah. Ada berbagai properti di sana: lilin, serakan kertas puisi, tokoh wayang, layar LCD, dan benda lain yang tak saya ingat. Di samping dia, beberapa pemusik duduk dengan alat musik campuran, siap mengiringi pembacaan sajaknya.

Pembacaan malam itu, seperti yang saya duga, akan jadi pembacaan dengan nada yang tak sederhana. Amien berteriak, bernyanyi, mendesah, beringsut, dan jalan-jalan saat membaca sajak-sajaknya yang ia kumpulkan dalam antologi “Tamsil Tubuh Terbelah”. Pembacaan macam itu, saya kira, memang sebuah bagian nyata dari “aliran Rendra”. Puisi diramu dengan pertunjukan, kata diramu dengan ekspresi, dan nada dibalut dengan musik. Sebuah pembacaan yang hampir bertolak belakang dengan pembacaan “ala” Joko Pinurbo.

Malam itu, seorang penyair hadir sekaligus sebagai seorang “penampil”. Ia beratraksi sedemikian rupa, diiringi musik, agar kata-kata yang ia ciptakan mampu menarik pengunjung. Pertunjukan itu, ibarat sebuah etalase yang memajang puisi-puisi si penyair dan menggoda pengunjung membeli kumpulan sajak dari penyair yang bersangkutan.

Amien Kamil, dalam pengantar pertunjukan yang ia buat, memang mengakui pentingnya semua embel-embel itu dalam puisi. “Ada beberapa teman berkomentar bahwa puisi-puisi yang saya ciptakan menemukan rohnya ketika saya yang mempresentasikannya dengan ekspresif, lewat intonasi, diksi, irama, serta artikulasi vokal sekaligus ekspresi tubuh,” tulisnya.

Membaca kalimat itu menimbulkan beberapa kegelisahan yang menarik hati saya. Pertama, dengan berkomentar bahwa puisi-puisi yang diciptakan Amien Kamil menemukan rohnya ketika ia dibacakan oleh penyairnya “dengan ekspresif, lewat intonasi, diksi, irama, serta artikulasi vokal sekaligus ekspresi tubuh”, apakah sebenarnya teman-teman Amien Kamil itu hendak mengatakan yang sebaliknya juga? Artinya, apakah tanpa dipresentasikan “dengan ekspresif, lewat intonasi, diksi, irama, serta artikulasi vokal sekaligus ekspresi tubuh”, puisi-puisi Amien Kamil tak akan menemukan rohnya?

Kalau yang demikian benar, maka puisi hadir sebagai barang yang tak mandiri. Ia menjadi harus selalu menyusu pada penyairnya. Ia merupakan bayi yang tak besar-besar dan tak bisa beranjak berdiri sendiri. Puisi yang tergantung pada penyairnya, saya kira, adalah puisi yang kurang baik. Apalagi puisi yang hanya bagus saat dibaca di panggung oleh penyairnya dengan banyak ragam pendukung: intonasi, ekspresi teatrikal, musik yang bagus, dan cahaya yang memukau. Bayangkan, ketika seorang pembaca puisi telah sampai rumah dan sendirian membaca puisi itu di dalam kamar, adakah ia akan merasa nikmat yang sama? Saya kira tidak.

Kedua, saya berprasangka: jangan-jangan Amien Kamil memang membuat puisi-puisinya sebagai “puisi panggung”. Jangan-jangan dengan mencantumkan kalimat yang saya kutip di atas, ia percaya bahwa puisi memang seharusnya dibacakan di sebuah panggung dengan berbagai ragam gaya ekspresi yang wah dan tata panggung modern yang mewah. Kalau prasangka ini benar, tentu saya tak bersepakat dengan dia. Bagaimanapun, pada akhirnya, puisi akah lebih banyak dibaca sendirian oleh seorang pembaca. Pentas sebuah puisi hanya semacam “embel-embel” bagi peluncuran sebuah puisi ke khalayak yang lebih luas.

Lagi pula, beberapa penyair besar kita memilih membaca puisi-puisi mereka dengan nada datar tanpa ekspresi. Salah satu titik paling ekstremnya, adalah Joko Pinurbo. Penyair satu ini memang membalik segalanya dari Rendra, kata Ayu Utami. Ia naik panggung dengan busana yang tak bertentangan dengan kesantunan: kemeja yang kadang dimasukkan ke celana, celana kain yang rapi, dan sepatu sandal bersahaja. Ia datang tanpa gebrakan, tanpa sepatu boot besar yang gagah, tanpa gemerlap panggung dan musik yang macam-macam. Wajahnya datar saat membaca puisi. Tapi kekuatan kata-kata Jokpin justru muncul saat ia membaca dengan datar itu.

Kesimpulan saya: melalui pembacaan yang datar itulah, kata-kata Jokpin justru berhasil melepaskan diri dari kebutuhan untuk dinyatakan secara ekspresif. Kata-kata dalam puisi Jokpin menjadi mandiri dari apapun: penyairnya, ekspresi, tata panggung, pencahayaan, dan lain sebagainya. Menyaksikan Jokpin membaca puisi, kita seperti sedang melihat diri kita membaca puisinya, bukan melihat penyair yang sedang berteatrikal dengan puisinya.

Hal itulah yang agaknya membuat berbeda dengan Amien Kamil. Pembacaan sajak-sajaknya begitu didominasi oleh berbagai hal di luar teks itu sendiri. Sehingga, saya bayangkan kalau segala hal di luar teks itu telah hilang, kenikmatan membaca teks itu pun menjadi berkurang.

Barangkali demikian.

Sukoharjo, 4 Nopember 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *