DIMENSI-DIMENSI WACANA (1)

Djoko Saryono

Dalam bahasa Indonesia, istilah wacana dipadankan dengan istilah diskursus, yang diadaptasikan dari istilah discourse. Istilah ini dipakai baik oleh para ahli bahasa, ilmuwan sosial maupun filosof sehingga pengertian wacana menjadi beraneka ragam. Dalam perspektif ahli bahasa, wacana didudukkan sebagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat atau paling besar. Berdasarkan kedudukan seperti ini, dalam Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia, wacana diartikan sebagai “rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain yang memberi arti wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat.

Pengertian di atas sepadan dengan pandangan Crystal yang mengartikan wacana sebagai “suatu rangkaian sinambung bahasa yang lebih luas daripada kalimat”. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya wacana merupakan tuturan atau paparan bahasa yang terlengkap, tertinggi, dan bermakna yang memiliki keutuhan, kepaduan, dan kesatuan. Ini menunjukkan wacana dilihat sebagai struktur kebahasaan semata.

Dalam perspektif ilmuwan sosial, wacana didudukkan sebagai (praktik) penggunaan bahasa. Berdasarkan posisi seperti ini, di dalam sosiologi, wacana menunjuk terutama pada hubungan antara konteks sosial dan pemakaian bahasa. Fishman dan Hymes, sebagai contoh, melihat wacana sebagai bentuk interaksi verbal yang dilakukan oleh warga masyarakat. Fowler (1977), sebagai contoh lain, mengartikan wacana sebagai komunikasi lisan atau tulisan yang dilihat dari titik pandang kepercayaan, nilai, dan kategori yang masuk di dalamnya; kepercayaan di sini mewakili pandangan dunia, sebuah organisasi atau representasi dari pengalaman. Di dalam psikologi sosial, wacana diberi arti sebagai pembicaraan yang mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik wawancara bagi pemakainya.

Dalam pada itu, dalam ilmu politik, umumnya wacana diberi arti sebagai praktik pemakaian bahasa di bidang politik. Di sini bahasa dianggap sebagai aspek sentral penggambaran suatu subjek dan peresapan ideologi. Selanjutnya, di dalam ilmu komunikasi atau kajian media, umumnya wacana diartikan praktik penggunaan bahasa yang merepresentasikan, membingkai, mengontrol, atau mengkonstruksi realitas tertentu. Dengan demikian, dapat ditarik simpulan sederhana bahwa menurut ilmuwan sosial wacana diberi arti sebagai praksis sosial penggunaan bahasa yang di dalamnya termuat ideologi tertentu sehingga realitas dapat dibingkai, dikontrol, dan dikonstruksi.

Sementara itu, dalam perspektif para filosof atau ahli filsafat, umumnya wacana diposisikan sebagai suatu relasi dan praktik sosial yang ada dalam masyarakat. Berdasarkan kedudukan seperti ini, sebagai contoh, Foucault memberi pengertian wacana sebagai pembicaraan, pembahasaan, atau pengataan realitas yang dikendalikan oleh sistem pemikiran atau kekuasaan tertentu. Di sini sistem pemikiran atau kekuasaan tertentu itu menjelma menjadi ideologi. Dalam pada itu, Ricoeur memberi pengertian wacana sebagai kesatuan dialektika peristiwa dan makna yang sudah dimantapkan ke dalam bahasa karena pada satu sisi wacana menjelma peristiwa dan pada sisi lain wacana menjelma menjadi makna. Selanjutnya, Sara Mills melihat wacana sebagai konstruksi bahasa yang diproduksi oleh aktor tertentu untuk menciptakan gambaran tentang aktor tertentu, misalnya diproduksi oleh penulis laki-laki untuk menciptakan gambaran tentang wanita modern.

Ketiga pendapat tersebut memperlihatkan bahwa para filosof pada umumnya melihat wacana sebagai proses produksi realitas yang terkait, bahkan dikendalikan, oleh kekuasaan atau ideologi tertentu. Di sinilah wacana, dalam pandangan Foucault, Althusser, dan Gramsci, berperan mengontrol, menormalkan, dan mendisiplinkan individu; wacana mendefinisikan individu dan memosisikan individu dalam posisi tertentu; dan wacana membentuk subjek dalam posisi-posisi tertentu dalam rantai hubungan dengan kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat.

Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik ciri umum dan luas tentang wacana sebagai berikut. Pertama, secara linguistis, wacana adalah paparan atau satuan bahasa tertinggi, terlengkap, dan terbesar yang menyatu dan padu (koherensif dan kohesif). Kedua, secara sosiologis, wacana merupakan praktik penggunaan bahasa dan praktik sosial dalam konteks tertentu yang terkait, dipengaruhi, dan dikendalikan oleh faktor-faktor sosial atau ideologi tertentu. Ketiga, secara filosofis, wacana merupakan pembicaraan atau pembahasaan peristiwa atau realitas yang senantiasa dikuasai atau dikendalikan oleh pemikiran dan ideologi tertentu. Keempat, sebagai bentuk relasi dan praktik sosial, wacana berperan/berfungsi mendefinisikan, memosisikan, mengontrol, menormalkan, dan mendisiplinkan individu.

Keempat hal tersebut mengimplikasikan bahwa secara utuh konstruk wacana memuat elemen lingual, sosial, kekuasaan, dan ideologi yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Selain itu, keempat hal tersebut menunjukkan bahwa kehadiran wacana telah dipandang sebagai representasi, konstruksi, dan atau produksi realitas atau peristiwa yang membuat individu terdefinisikan, terkontrol, ternormalkan, dan atau terdisiplinkan.

Bersambung…

One Reply to “DIMENSI-DIMENSI WACANA (1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *