DIMENSI-DIMENSI WACANA (2)

: PARADIGMA KAJIAN WACANA
Djoko Saryono *

/1/
Dimensi-dimensi makna wacana tak dapat terlepas dari adanya berbagai paradigma kajian wacana (discourse studies paradigm) yang masing-masing memiliki perbedaan asumsi tentang bahasa (Renkema, 1993). Sampai sekarang, paling tidak ada tiga paradigma utama kajian wacana yang masing-masing memiliki dan mengembangkan asumsi berbeda tentang bahasa.

Ketiga paradigama yang dimaksud sebagai berikut. Pertama, paradigma positivisme-empiris yang mengedepankan netralitas dan fungsi deskriptif bahasa. Kedua, paradigma konstruktivisme yang mengedepankan keberpihakan dan fungsi transformatif bahasa. Kemudian ketiga, paradigma kritis yang mengedepankan keideologisan dan fungsi konstruktif bahasa.

/2/
Paradigma positivisme-empiris berusaha melihat dan mengasumsikan bahasa sebagai jembatan antara manusia dan objek di luar diri manusia. Pengalaman-pengalaman manusia dapat secara langsung direpresentasikan atau dideskripsikan melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala dan penyimpangan (distorsi), sejauh pengalaman manusia itu dikemukakan dengan memakai penyataan gramatikal, sintaktis, logis, dan berhubungan langsung dengan pengalaman empiris. Itu sebabnya, salah satu karakteristik utama paradigma ini adalah pemisahan secara tegas antara pemikiran dan realitas.

Dalam hubungannya dengan kajian wacana, konsekuensi logis dari pemahaman seperti itu adalah bahwa orang tidak perlu mengetahui makna-makna subjektif atau nilai yang mendasari pernyataannya. Sebab, menurut paradigma ini, yang paling penting adalah apakah pernyataan dikemukakan secara benar menurut kaidah gramatika (sintaksis), semantik, dan logika. Oleh karena itu, gramatika dan semantik menjadi medan utama paradigma positivisme-empiris mengenai wacana. Implikasinya, wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut gramatika (sintaksis) dan semantik. Di sini kajian wacana atau kajian wacana ditujukan untuk menggambarkan tata aturan bahasa, kalimat, dan pengertian bersama.

Paradigma konstruktivisme menolak pandangan paradigma positivisme-empiris tersebut. Paradigma yang dipengaruhi oleh pemikiran fenomenologi ini tidak memisahkan subjek dan objek sebagaimana paradigma positivisme-empiris. Dalam pandangan paradigma ini, bahasa tidak dapat dilihat hanya sebagai alat memahami realitas objektif, representasi realitas objektif, dan dipisahkan dari subjek penyampai pernyataan. Paradigma konstruktivisme justru melihat subjek sebagai faktor utama dalam kegiatan wacana dan hubungan-hubungan sosial wacana.

Dalam hubungan itu subjek memiliki kemampuan mengontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiaap wacana. Bahasa di sini diatur dan dihidupkan oleh pernyataan-pernyataan yang bertujuan. Setiap pernyataan pada dasarnya merupakan tindakan penciptaan makna, yaitu tindakan pembentukan diri dan pengungkapan identitas dari pembicara.

Oleh karena itu, kajian wacana dimaksudkan sebagai suatu telaah untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu; dan kajian wacana juga merupakan upaya pengungkapan maksud-maksud tersembunyi dari subjek yang mengemukakan suatu pernyataan. Upaya pengungkapan itu dilakukan di antaranya dengan menempatkan diri pada posisi subjek pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari pembicara.

Berbeda dengan paradigma positivisme-empiris dan konstruktivisme, paradigma kritis mencoba melihat proses-proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi baik secara historis maupun institusional, yang kurang diperhatikan oleh paradigma positivisme dan konstruktivisme. Paradigma konstruktivisme masih belum menganalisis faktor-faktor hubungan kekuasaan yang melekat dalam setiap wacana, yang pada gilirannya berperan dalam membentuk jenis-jenis subjek tertentu berikut perilaku-perilakunya.

Hal tersebut yang justru melahirkan dan menjadi perhatian utama paradigma kritis. Bagi paradigma kritis, kajian wacana tidak dipusatkan pada kebenaran atau ketidakbenaran struktur gramatika seperti pada analisis positivisme atau penafsiran seperti pada analisis konstruktivisme. Dalam paradima kritis, kajian wacana dipusatkan dan ditekankan pada konstelasi atau jaring-jaring kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Individu atau subjek tidak dianggap sebagai subjek yang netral yang dapat menafsirkan secara bebas sesuai dengan pikirannya.

Dikatakan demikian sebab individu berkaitan erat dan dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat. Bahasa di sini tidak lagi dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri subjek atau pembicara; bahasa di sini dipahami dan diperlakukan sebagai sesuatu yang berperan membentuk subjek-subjek tertentu, tema-tema wacana tertentu, dan strategi-strategi wacana di dalamnya.

Hal itu menunjukkan bahwa bahasa selalu terlibat hubungan kekuasaan, terutama dalam pembentukan subjek, dan berbagai tindakan representasi yang terdapat dalam masyarakat. Karena itu, dalam paradigma kritis, kajian wacana dipusatkan pada upaya untuk membongkar kuasa yang terkandung di dalam setiap proses bahasa atau wacana. Misalnya, batasan-batasan apa yang diperbolehkan menjadi wacana, perspektif apa yang mesti dipakai, dan topik apa yang dibicarakan.
***

______________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

One Reply to “DIMENSI-DIMENSI WACANA (2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *