Era Digital, Sastra pada Era Digital, dan Spesies Sastra Digital (3)

: LANSKAP ERA DIGITAL

Djoko Saryono

Revolusi digital beserta segenap dampaknya membuat kita — kebudayaan kita — memasuki era digital. Lanskap era digital tentulah beda dengan era-era sebelumnya. Istilah era digital menjadi kunci perbincangan kebudayaan dan lanskap era digital menjadi payung nyaris seluruh sektor kebudayaan. Pendeknya, tak ada sektor kebudayaan yang tak dilekatkan, dipayungi, atau dibingkai lanskap era digital. Lanskap era digital menjadi superordinat, menjadi payung utama, perbincangan nyaris tentang apa pun. Misalnya, agama, ekonomi, pendidikan, keluarga, bahkan soal buku dan persuratan. Kita pun menjumpai frasa-frasa baru seperti ‘agama pada era digital’, ‘buku pada era digital’, ‘pendidikan pada era digital’, bahkan ‘cinta pada era digital’.

Di situlah kita menyaksikan gerbong zaman dan kebudayaan kita bergerak fundamental kembali. Bertambahlah tahapan atau babakan perkembangan kebudayaan kita. Berdasarkan tonggak digitalitas dan virtualitas, kita dapat membaginya menjadi babakan (1) era lisan, (2) era naskah/manuskrip, (3) era cetak-tulis, dan (4) era digital. Keempat babakan zaman ini muncul secara kronologis, bukan simultan — muncul bergiliran, bukan berbarengan. Namun, perlu dipahami, kemunculan satu zaman tak berarti mematikan zaman sebelumnya. Ambil misal, munculnya era naskah tak mematikan era lisan — munculnya era cetak-tulis ala Gutenberg tak mematikan era lisan. Memang, di sana-sini terjadi penggerusan, penggusuran, dan pergantian peran dan fungsi.

Empat era tersebut mempengaruhi, malah ikut menentukan corak kebudayaan. Di sinilah kita mendapati adanya empat corak atau gugusan kebudayaan, yaitu (1) kebudayaan lisan, (2) kebudayaan naskah, (3) kebudayaan cetak- tulis ala Gutenberg, dan (4) kebudayaan digital. Kebudayaan lisan tentu saja disangga penuh oleh kelisanan; kebudayaan naskah ditopang oleh kelisanan melalui keaksaraan; kebudayaan cetak-tulis Gutenberg disangga literasi dengan aksara sebagai penentu; dan kebudayaan digital ditopang oleh kelisanan sekunder. Meski sekarang sedang ‘naik daun’ era digital dengan kebudayan digitalnya, tapi keempat rupa kebudayaan tersebut tetap ada di Indonesia. Begitulah, empat kuadran kebudayaan kini ada atau hidup di Indonesia.

Indonesia kita sangatlah luas dengan derajat perbedaan yang tinggi. Sebab itu, kondisi empat kuadran tersebut tidak sama pada setiap daerah atau ruang budaya di Indonesia. Ringkas kata, sapuan warna empat gugusan kebudayaan tersebut tak sama. Misalnya, ada wilayah yang masih tipis sapuan warna kebudayaan digitalnya dan masih sangat tebal sapuan warna kebudayaan lisannya. Ada satu wilayah yang sapuan warna kebudayaan cetak dan digital sama-sama tebal. Meski begitu, kesan sepintas saya, semua wilayah Indonesia sudah mulai memasuki era digital dengan sapuan kebudayaab digitalnya. Begitulah, kita menyaksikan lanskap kebudayaan digital yang berbeda-beda di Indonesia.

Bersambung…

One Reply to “Era Digital, Sastra pada Era Digital, dan Spesies Sastra Digital (3)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *