Era Digital, Sastra pada Era Digital, dan Spesies Sastra Digital (4)

: “TANAH AIR DIGITAL” SASTRA

Djoko Saryono

Revolusi digital telah melahirkan dunia dan kebudayaan digital. Kehadiran kebudayaan digital ini telah memperluas, memperkaya, menggeser, mempengaruhi, dan/atau menggantikan (mensubstitusi) kebudayaan sebelumnya. Di sinilah kita kemudian dapat mengategorikan adanya (a) kebudayaan lisan, (b) kebudayaan naskah, (c) kebudayaan cetak-literasi, dan (d) kebudayaan digital.

Kebudayaan digital menghidupi sekaligus ditopang oleh kelisanan kedua (pinjam istilah Walter J Ong). Tak jarang ada yang menyebut era pasca-literat (post-literate era). Era pasca-literat atau kelisanan kedua lebih lanjut menyangga berkembangnya masyarakat pasca-literat (pasca-literasi). Hal ini berarti, masyarakat digital merupakan masyarakat pasca-literasi dan kebudayaan digital merupakan kebudayaan pasca-literasi. Pertanyaan kita: adakah dan bagaimanakah tatanan-baru kebudayaan digital yang nota bene pasca-literasi? Apakah lapisan dan sektor (unsur universal) kebudayaan pada umumnya sudah terpadu-terlebur digitalitas — sudah terdigitalisasi? Apakah bahasa dan sastra juga sudah terdigitalisasi sehingga menimbulkan bahasa digital sekaligus sastra digital.

Dapat dikatakan ringkas di sini bahwasanya bahasa dan sastra — termasuk bahasa dan sastra Indonesia — telah mendapat ‘tanah air baru’, yaitu ‘tanah air digital’. Tanah air digital bahasa dan sastra itu menumbuhkan dan mengembangkan (apa yang dapat disebut sebagai) bahasa dan sastra digital. Tengara dan amatan kemunculan dan kehadiran bahasa digital sekaligus sastra digital telah dilakukan oleh berbagai pihak.

Sampai sekarang sudah muncul dan kita harap terus berkembang ke depan konseptualisasi, formulasi, dan kajian tentang bahasa sekaligus linguistik digital. Para pengguna bahasa akan makin banyak menggunakan bahasa digital seiring dengan demikian masifnya digitalisasi di berbagai sektor kehidupan. Generasi pribumi digital (native digital) niscaya akan makin akrab menggunakan bahasa digital. Karena itu, para sarjana, akademikus, dan para ahli perlu memformulasikan sosok linguistik digital, bahkan berkewajiban mengembangkan dan mengaji linguistik digital. Bahasa dan linguistik digital ini merupakan ‘dunia masa depan’ para pengguna dan peneliti bahasa.

Seiring dengan itu, juga mulai muncul dan berkembang sastra digital (puisi dan naratif digital) di samping puitika, estetika, dan kajian sastra digital. Di situ digitalitas bukan hanya medium dan/atau wahana, tetapi juga menjadi substansi atau minimal elemen yang melekat alamiah (inheren) sastra (puisi, fiksi, dan atau naratif). Sebab itu, sastra digital dapat disebut ‘spesies’ baru sastra hasil ‘mutasi literer’ akibat hadirnya dunia dan kebudayaan digital. Sampai di sini kita mungkin bertanya: seperti apakah sosok sastra digital?; seperti apakah karakteristik sastra digital?; dan bagaimanakah eksistensi sastra digital? Tiga pertanyaan kini kapan-kapan saya ulas.

Dengan muncul dan hadirnya sastra digital, dalam perspektif kuadran kebudayaan, kita dapat membuat kategori sastra menjadi empat. Pertama, sastra lisan yang sudah ada sangat lama seiring dengan berkembangnya kelisanan dan budaya lisan. Kedua, sastra naskah yang juga sudah amat lama selaras dengan adanya era manuskrip dan budaya manuskrip. Ketiga, sastra cetak-tulis yang hadir seiring dengan eksisnya keaksaraan dan budaya baca-tulis. Inilah yang biasa kita pahami sebagai tradisi dan budaya literasi. Terakhir, keempat, sastra digital yang mulai berkembang sejalan dengan maraknya digitalisasi segala sektor kehidupan dan kebudayaan digital. Keempat kategori sastra tersebut tetap ada atau eksis pada era digital sekarang. Jadi, sastra pada era digital terdiri atas sastra lisan, sastra manuskrip, sastra cetak-tulis, dan sastra digital.

Apakah perbedaan dan persamaan di antara keempatnya dalam dunia digital sekaligus kebudayaan digital? Apakah sastra lisan, sastra manuskrip, dan sastra cetak-tulis juga bisa hidup di dunia digital?
***

_______________
Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *