Haiku dan Kematian

Mario F. Lawi *
Pos Kupang, 8 Jan 2015

PAYA tua beradu cendera/Tersingkir, sunyi./Katak terjun, plung. Demikian salah satu terjemahan Amir Hamzah atas haiku yang diciptakan Matsuo Basho (1644-1694) pada tahun 1686 dalam kumpulan karya terjemahannya Setanggi Timur (1939). Tujuh tahun setelah mengumumkan Setanggi Timur, Amir Hamzah tewas dibunuh dalam sebuah tragedi di kesultanan Langkat. Dalam sebuah esai berjudul “Haiku” (Kompas, 16 Oktober 2005), Hasif Amini mengutip sebuah terjemahan atas haiku tersebut menjadi seperti ini: Kolam tua/Seekor katak terjun/Plung.

Haiku, yang dirintis oleh Basho, dalam perkembangannya memengaruhi sejumlah penyair dan gerakan sastra dari berbagai belahan dunia. Gerakan imajisme yang dipelopori Ezra Pound serta Beat Generations adalah contohnya, yang di dalamnya terdapat nama-nama seperti Yone Noguchi (1875-1947), Allen Ginsberg (1926-1997) dan Jack Kérouac (1922-1969). Jika ditarik ke masa yang lebih dekat, ada sastrawan sekelas Tomas Tranströmer (1931-sekarang) peraih Nobel Sastra 2011 yang juga tergoda untuk menulis haiku.

Pengertian sederhana haiku dapat ditarik dari contoh yang dikemukakan. Haiku adalah tiga larik pendek yang semata melukiskan sebuah momen serta lanskap, tanpa menguraikannya. Dalam versi yang lebih panjang, haiku diuraikan sebagai puisi yang terikat dengan tradisi kesusasteraan semasanya, dengan jumlah on (karakter, huruf hiragana) tertentu, yakni 5, 7, 5; memiliki kigo atau kidai yakni kata-kata yang melambangkan musim; serta kireji yang berfungsi antara lain memotong haiku menjadi dua bagian. Dalam bahasa Inggris, on diterjemahkan sebagai silabel. David Landis Barnhill dalam pengantar buku Basho’s Haiku: Selected Poems of Matsuo Basho menyebut on sebagai struktur ritme (rhythm). Dalam perbandingannya dengan pantun, haiku serupa tiga larik pendek sampiran tanpa larik-larik isi. Ia mengembalikan kekuatan penyerapan rupa (image) kepada spontanitas pencitraan (imagery) dalam larik yang ringkas dan padat.

Simaklah bagaimana citraan memadat menjelaskan musim sekaligus menghadirkan paradoks pada haiku “kolam tua” tersebut. Kata sifat “tua” yang menjadi bagian frasa “kolam tua” (old pond) boleh jadi ingin menyampaikan anasir “uzur”, “lampau”, “nyaris terbenam” yang menampilkan nuansa musim gugur atau kelam menjelang malam atau kematian. Tapi di dua larik selanjutnya, paradoks hadir dalam puisi tersebut: “seekor katak terjun” (a frog jumps in) dan “plung” (water’s sound). Dua larik ini menampilkan citraan yang sangat lekat dengan aroma musim semi, musim segala kehidupan bertunas, musim pertiwi menyembulkan mata air.

Beberapa abad setelah Basho, salah satu penulis Jepang berpengaruh dari aliran imajisme Yonejiro Noguchi, menulis salah satu haikunya (dalam kumpulan puisinya Japanese Hokkus, 1920): Sudden pain of earth/I hear in the fallen leaf./”Life’s autumn,” I cry. Marilah kita simak terjemahannya: Derita bumi yang sekejap/Kudengar dalam gugur daun./”Hidup adalah musim gugur,” pekikku. Haiku Noguchi tentu saja lebih revolusioner, sebab haiku dari kumpulan Japanese Hokkus itu pun ditemukan lagi dalam kumpulan puisi lengkapnya Selected Poems of Yone Noguchi (Boston: The Four Seas Company, 1921) yang ia seleksi sendiri dan ditulis dalam bahasa Inggris (yang membuat haikunya tentu tidak lagi perlu terikat pada on). Di tangan Noguchi, haiku menjadi jauh lebih bebas. Meskipun jumlah 5, 7, 5 pada struktur on diganti dengan struktur silabel berjumlah sama, makna leksikal haiku dari masa Basho mendapat perluasannya di tangan penyair seperti Noguchi. Dan dengan demikian haiku tidak hanya merupakan bagian dari tradisi Jepang, melainkan turut mengambil bagian dalam khazanah sastra dunia.

Diksi-diksi pada tiap larik haiku Noguchi itu tidak berusaha menghadirkan paradoks seperti yang ditampilkan dalam haiku “kolam tua” Basho, meskipun citraan yang digunakan Noguchi jauh lebih abstrak. Jika Basho menggunakan citraan-citraan benda yang mampu diserap secara inderawi, Noguchi menyampaikan citraan yang sebaliknya. Bagaimana derita bumi diinderai dalam suara gugur daun? Pekik apakah yang disampaikan daun yang gugur? Mengapa hidup adalah musim gugur? Diksi yang digunakan Noguchi sepertinya ingin mendirikan struktur haiku yang saling mengokohkan sebagai sebuah bangunan yang memancarkan penderitaan dan kematian. “Derita” (pain) pada larik pertama, “gugur” (fallen) pada larik kedua, dan “musim gugur” (autumn) pada larik ketiga adalah diksi yang merujuk pada suasana kelam, dukacita dan kematian. Tapi di situ, di antara diksi-diksi itu, ayah dari pematung Jepang terkenal Isamu Noguchi itu menyisipkan “hidup” (life). “Hidup adalah musim gugur” dapat dibaca sebagai contradictio in terminis, atau paradoks itu sendiri, yang memadatkan sekaligus membaurkan yang bertumbuh (vivus) dan yang gugur (mortuus), yang muncul dan yang lenyap.

Dua tahun setelah Japanese Hokkus (kumpulan puisi yang memuat haiku-haiku Noguchi) terbit, Jack Kérouac lahir. Dengan kesadarannya terhadap haiku sebagai bagian khazanah sastra dunia (yang tak lagi perlu terikat ketat pada on sebab tidak lagi ditulis hanya dalam bahasa Jepang), penyair Beat Generation itu menulis salah satu haikunya di antara masa-masa produktifnya: Birds singing/in the dark/-Rainy dawn. Haiku Kérouac ini juga tak terikat pada tertib silabel seperti haiku Noguchi. Haiku dapat juga dihubungkan dengan tradisi Zen, dan Kérouac adalah salah satu penyair yang menyuarakan Buddhisme dalam karya-karyanya. Kérouac adalah penyair Amerika Serikat yang menulis dalam bahasa Inggris dan pepatah “life begins at fourty” pun ditulis dalam bahasa yang sama. Maka Kérouac hanya menikmati tujuh tahun setelah “kehidupannya” benar-benar dimulai.

Burung-burung bernyanyi/di dalam gulita/-fajar yang murung. Demikianlah terjemahan bebas atas haiku Kérouac tersebut. Sekali lagi, ada pertentangan di situ, yang memperhadapkan “gulita” (dark: kata sifat) dan “fajar” (dawn: kata benda), yang mengadu “burung-burung yang bernyanyi” dengan “kemurungan”. “Gulita” mengalihkan “nyanyian” (dalam pengertian luas) menjadi “rekuiem” atau “lamentasi” (nyanyian dukacita/ ratapan), meskipun di situ diletakkan “fajar”. Dengan demikian, “gulita” pun mengubah “burung-burung” (birds: dalam pengertian luas) menjadi “segerombolan gagak” (crows) yang menggaokkan sirine kematian.

Sirine kematian pun dibunyikan dalam salah satu haiku penyair Swedia Tomas Tranströmer. Dalam serangkaian haiku yang dikumpulkan dalam satu sajak berjudul Haiku Poems (dalam kumpulan puisinya yang berjudul The Sorrow Gondola), Tranströmer menulis haiku terakhirnya: Oak trees and the moon./Light and mute constellations./And the frigid sea. Versi Indonesia haiku ini menjadi: Pohon-pohon ek dan bulan./Gugusan bintang terang dan bisu./Dan laut yang dingin. Tiga larik itu, yang terjalin atas kata-kata benda “pohon-pohon ek”, “bulan”, “gugusan bintang” dan “laut” dan kata-kata sifat “terang”, “bisu” dan “dingin” mampu membangun metafora (dalam pengertian luas) tentang kematian yang disimbolkan dengan suasana alam malam. The Sorrow Gondola adalah kumpulan puisi Tranströmer yang tema mayornya memang berbicara tentang kematian, kepedihan, dukacita dan kehilangan. Peter Englund, Sekretaris Tetap Akademi Swedia, lembaga yang menganugerahkan Nobel Sastra 2011 kepada Tranströmer pernah berujar, “Ia menulis tentang pertanyaan-pertanyaan besar. Ia menulis tentang kematian, ia menulis tentang sejarah dan memori, dan alam.”

Ketika dunia menempatkan Tranströmer di jajaran penulis papan atas karena Anugerah Nobel Sastra yang diterimanya, Matsuo Basho mungkin telah dilupakan. Tapi Basho pun menulis tentang kematian seperti Tranströmer. Sebuah haiku yang ditulisnya tahun 1694 berbicara tentang kematian: ill on a journey/my dreams roam round/over withered fields. Sengaja saya terjemahkan dengan struktur silabel 5, 7, 5: sakit di jalan/mimpiku mengembara/di padang gersang. Kita boleh menganggap kematian yang dipancarkan oleh larik-larik itu sebagai metafora. Tapi pada tahun 1694 itu, Basho mengembuskan napas terakhirnya. Di hadapan keagungan dan daya pukau haiku-haikunya, kita pun masih boleh menganggap kematian Basho itu sebagai metafora. Sebuah metafora yang mengabadikan tempat haiku dalam khazanah sastra dunia.
***


(Keterangan gambar: Mario F. Lawi, foto dari islandsofimaginationdotid)

*) Peraih NTT Academia Award 2014 Kategori Sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *