Kelas Menulis


Erwin Setia *

Ketika mendapati “menyalin” menjadi menu latihan pertama pada kelas menulis itu, saya teringat kebiasaan saya bertahun-tahun lampau. Dulu–sebenarnya belum lama-lama amat, sekitar 4-6 tahun lalu–saya sangat suka menyalin. Saya menyalin kata-kata mutiara yang saya dapat di Twitter, puisi-puisi Sapardi dan Jokpin dan Dedy Tri Riyadi dan Adimas Immanuel dan lain-lain, terjemahan kitab Bulughul Maram, sebuah cerita pendek karangan O. Henry, dan masih banyak lagi. Waktu itu saya sama sekali tidak meniatkan kegiatan menyalin untuk mempertajam kemampuan saya menulis atau impian muluk semacamnya. Saya tidak pernah bercita-cita menjadi penulis. Pada waktu itu menjadi penulis atau bisa menulis dengan mahir adalah angan-angan yang kelewat jauh, tangan saya begitu pendek sedangkan sepotong rompi bertulisan “penulis” berkibar-kibar di langit keenam. Saya menyalin karena alasan sepele: saya sedang gandrung membaca dan saya menemukan banyak bacaan yang menurut saya bagus dan saya tidak punya uang untuk beli buku; maka menyalin menjadi aktivitas yang sedikit menenangkan saya. Saya jadi bisa menengok kembali tulisan-tulisan yang saya suka tanpa harus repot-repot meminjam kembali buku milik kakak ipar atau menelusuri laman internet. Berkat kebiasaan itu ada dua tumpuk buku tulis berisi hasil salinan saya mendekam di lemari ibu. Kadang-kadang saya menengok kumpulan buku tulis itu dan ingin balik ke masa-masa tersebut.

Di awal tulisan ini saya menyebut soal kelas menulis dan memang itulah yang ingin saya bahas. Sepanjang hidup saya tidak pernah mengikuti kelas menulis secara khusus–kebanyakan kelas menulis (berbayar) yang saya tahu hanya memperkaya si pemateri, sementara para pesertanya tetap jalan di tempat; dan saya heran kenapa orang-orang merelakan diri membayar sesuatu yang tidak membawa mereka ke mana-mana. Maka kelas menulis ini, kelas menulis yang membuat saya secara rutin menerima materi soal kepenulisan selama sebulan penuh dari seorang pengarang novel legendaris berjudul Medan Perang–novel yang telah menjadi klasik justru karena tak kunjung terbit–menjadi kelas menulis pertama yang saya ikuti. Saat mendapati surel pertama berisi materi latihan dada saya berdebar-debar bagaikan seseorang yang hendak membuka peti harta karun. Ketika peti harta karun itu saya buka, debaran itu pelan-pelan lenyap dan saya bergumam, “Oh, jadi begini. Baiklah.”

Tiga puluh hari bukanlah waktu yang sebentar. Dalam tiga puluh hari jumlah orang yang terjangkit Covid-19 di Indonesia bertambah seratus ribu, Barcelona melakukan sejuta keteledoran, dan saya mendapatkan seabrek ilmu baru soal menulis dari pengarang Murjangkung. Banyak hal yang saya baru ketahui, pelajari, dan sadari. Tentu materi-materi yang pengarang Bidadari yang Mengembara sampaikan tidak semuanya langsung saya pahami; tapi yang pasti banyak pintu tertutup yang kini terbuka di dalam kepala saya setelah mengikuti kelas menulis tersebut. Saya juga jadi sadar bahwa mengikuti kelas menulis ternyata bermanfaat (percayalah, saya meragukan hampir semua kelas menulis, apalagi kelas menulis yang cuma tiga pertemuan dengan durasi masing-masing dua jam; itu kelas menulis atau kencan jangka pendek?). Kelas yang saya ikuti memang tidak sempurna, tapi akan sangat durhaka dan bohong besar jika saya menganggapnya sama sekali tak berfaedah atau buang-buang waktu belaka.

Dari sekian materi yang pengarang Si Janggut Mengencingi Herucakra berikan, ada satu materi yang paling saya suka, yaitu materi pembuka sekaligus terakhir dalam kelas itu: menyalin. Ya, saya sudah menyinggung soal ini di awal. Tetapi “menyalin” yang Pak Alexander Sorloth Laksana maksud tidak seserampangan yang dulu saya lakukan. Pak Alex merincinya menjadi: salinlah buku-buku karya para pengarang hebat kelas dunia; salinlah novel-novel Hemingway, Gabo, Pamuk, dan yang selevel mereka. Kira-kira semacam itu. Sekarang saya tahu bahwa menyalin ternyata bisa menjadi metode ampuh untuk meningkatkan kemampuan menulis dan saya jadi merasa apa yang saya lakukan bertahun-tahun lewat itu ternyata bukanlah kesia-siaan belaka. Syukurlah.

Sesungguhnya “menyalin” dan “kelas menulis” adalah topik yang asyik untuk dibicarakan. Tetapi jam sudah menunjukkan pukul setengah dua. Saya harus tidur. Walaupun Pak Guru Alex tidak pernah secara gamblang menyebutkan soal tidur, saya kira tidur adalah hal yang dibutuhkan oleh siapa pun, penulis ataupun bukan, peserta kelas menulis ataupun bukan; dan saya yakin Pak Alexander Sorloth, Abu Salamah, A.S. Laksana, dan AS-AS lain juga butuh tidur. Semoga mereka bisa tidur nyenyak di tempat masing-masing dan bangun dalam keadaan sumringah.

Oh ya, kelas menulis yang saya ikuti bertajuk “Kelas Menggambar dengan Kalimat”. Itu tajuk yang kontradiktif sebetulnya: jadi, sebenarnya itu kelas menulis atau menggambar? Tapi, ya sudahlah… Kalau kalian berminat ikut kelas tersebut, silakan ucapkan salam dan sapa kepada AS Laksana.

Terima kasih untuk Paman Yusi Avianto Pareanom atas kesempatan baik itu.
***

1 Okt 2020
__________
*) Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *