Kuburan dan Usaha Mengenang yang Mati


Juan Kromen *

Di Flores, di kampung-kampung yang umumnya jadi pusat misi (para misionaris SVD) di masa lampau, ada pemandangan yang lazim ihwal tata ruang atau tata letak bangunan. Kecenderungan ini saya sadari bertahun-tahun kemudian. Gereja berarsitektur Gotik sebagai pusat, lalu biara, sekolah-sekolah berasrama, klinik kesehatan, lapangan sepak bola, dan kompleks pekuburan yang mengelilingi gereja. Sekurang-kurangnya itu saya jumpai di tiga tempat yang berbeda — di tiga kabupaten di Pulau Flores: Flores Timur, Sikka, dan Ngada.

Tak dapat dimungkiri bahwa konsep tata ruang/letak bangunan ini dibawa oleh para misionaris Eropa yang rata-rata berasal dari Jerman dan Belanda. Dalam catatan paroki kami di Waibalun-Flores Timur, paroki ini terbentuk pada tahun 1917. Meski demikian, kekatolikan sendiri telah dibawa masuk pengaruhnya ke Larantuka oleh Portugis (para misionaris Dominikan) sejak tahun 1500-an (abad ke-16).

Menurut saya, salah satu yang khas dari tradisi kekatolikan adalah pendokumentasian, entah itu berupa arsip, catatan, dan foto/film — setelah teknologi gambar dan film berkembang. Tentu saja, pendokumentasian ini sangat membantu kerja/penelitian dalam bidang sejarah, sosiologi, antropologi, dan sebagainya. Meski kolonialisme dan penyebaran agama (Kristen) beririsan, namun saya tidak ingin menyinggung terlampau banyak soal kolonialisme ini. Begitu pula dengan penerapan model pembangunan a la Barat yang bagi para intelektual post-kolonial dikritik habis-habisan.

Edward Said, misalnya, dalam “magnum opus”-nya Orientalism (1978) mengeritik dengan sengit cara pandang bercorak orientalis sebagai warisan kolonialisme yang masih langgeng dan bercokol kuat. Menurut Said, Barat masih mendefinisikan Timur sebagai yang irasional, inferior, pasif, kolot, dan label-label negatif lainnya. Ini berlaku dalam wacana dominan juga produk-produk pengetahuan, sastra, seni, dll, dari Barat.

Ignas Kleden dalam salah satu tulisannya yang pernah saya baca (saya lupa judulnya), pernah memantik dan menginisiasi penyusunan kembali historiografi dengan corak filosofis, sosiologis, dan antropologis yang khas dari Indonesia, bersama para ilmuwan sosial dan budayawan. Namun, wacana ambisius itu menemui kendala. Negara ini memang lebih sibuk berdebat tentang hal remeh-temeh ketimbang membangun pusat studi dan riset yang berbobot, misalnya — dan proyek ini kurang diminati secara serius oleh para ilmuwan sosial. Sebab itulah yang saya ingat. Tentu saja proyek ini bakal memakan waktu yang panjang dengan biaya yang juga tidak sedikit. Bagaimanapun, mendefinisikan Indonesia yang plural dalam berbagai aspek, rasa-rasanya tak akan pernah tuntas. Namun demikian, sekurang-kurangnya, Indonesia memiliki satu gambaran besar dan “blue print”-nya yang khas untuk mendefinisikan dirinya, dengan anasir-anasir seminimal mungkin dari perspektif Barat. Gambaran besar keindonesiaan yang dimaksudkan oleh Ignas, ialah dalam kerangka dan konteks ilmu pengetahuan. Harapannya, produk pengetahuan itu bisa berdiri sebagai wacana alternatif sekaligus wacana tandingan tanpa kehilangan konteks keindonesiaan-nya yang khas dan pluralistik. Kira-kira demikian yang saya tangkap dari tulisan Ignas Kleden itu.

Kembali ke soal warisan kekatolikan di Flores. Salah satu sumbangsih terbesarnya ialah di bidang pendidikan. Saya ingat, beberapa tahun lalu ketika sedang pelesiran ke Blora — di rumah masa kecil Pramoedya Ananta Toer yang saat ini ditinggali oleh Soesilo Toer, adiknya — beliau katakan, “Kalian orang Flores itu duluan tahu baca-tulis dari sebagian besar kami orang Jawa. Gara-gara Soeharto kalian miskin terus seperti saya yang pemulung ini.” Sentralisasi semasa rezim Soeharto pada era 1970-an memang menyasar juga kurikulum pendidikan. Anda tentu masih ingat, “ini Budi, ini Ayah Budi, ini Ibu Budi,” dan seterusnya, bukan?

Soal tata ruang/letak bangunan warisan misi Katolik, ada satu yang menarik perhatian saya: kompleks pekuburan/pemakaman. Di tempat-tempat yang pernah saya amati, biasanya pekuburan terletak di belakang gedung gereja. Di kampung saya, ia berada persis di depan gedung gereja, dipisahkan oleh halaman gereja dan jalan raya.

Ada satu tradisi yang telah dijalankan selama bertahun-tahun di area pekuburan. Selepas misa Minggu pagi atau misa harian, orang-orang akan singgah sejenak di kuburan, membakar lilin, berdoa, atau sekadar bercakap-cakap dengan anggota keluarga yang telah berpulang. Kebiasaan ini pun kerap dijalankan saat petang jelang malam.

Amatan sepintas saya, ada orang-orang di kampung yang lebih rutin mengunjungi kuburan dan berdoa di sana, ketimbang menghadiri doa di lingkungan, bahkan di gereja. Orang-orang tidak ke gereja tiap hari tetapi bisa berdoa di kuburan setiap hari: pagi dan malam. Rasa-rasanya, ada yang kurang ketika orang-orang terkasih yang telah berpulang belum dikunjungi.

Ada waktu-waktu tertentu, kompleks pekuburan akan dijalari oleh cahaya lilin. Di kampung saya, cahaya lilin di waktu-waktu khusus itu akan telihat memantul hingga ke permukaan laut yang membentang di belakangnya. Setiap kubur, bahkan kuburan tanpa nisan dan tak lagi dikenali, minimal akan diterangi oleh sebatang lilin. Waktu-waktu khusus itu adalah saat Semana Santa (Prosesi Jumat Agung) – ritus religius yang diwarisi oleh Portugis, saat prosesi memperingati hari jadi paroki, dan setiap tanggal 2 November — tanggal hari ini di mana dalam penanggalan liturgi Katolik, arwah orang-orang beriman dikenang.

Katolisisme di Flores Timur memang sangat kental dengan warisan Portugis, termasuk dalam prosesi pemakaman. Di dalam upacara pemakaman, lagu-lagu berbahasa Latin (Gregorian) akan dinyanyikan dengan sendu oleh 2 atau 3 orang anggota Confreria bersuara tenor. Lagu-lagu “requiem” ini pun tidak pernah saya temukan dalam teks-teks lagu di seminari/biara. Ia seperti ratapan yang menyayat-nyayat batin. Pemandangan ini tak akan dijumpai di daerah-daerah lain yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Di Keuskupan Larantuka, ada sebuah serikat awam religius bernama Confreria Reinha Rosari. Berdasarkan catatan Ensiklopedia Gereja Jilid I, serikat ini didirikan oleh imam Dominikan pada tahun 1546 (P. A. Heuken, SJ, hlm. 209).

Confreria Reinha Rosari Larantuka terdaftar secara resmi sebagai Ordo ke-III Dominikan pada Archiconfreria di Vatikan. Ia adalah salah satu serikat awam dalam Congregatio de Propagande Fide yang dibentuk oleh Paus Gregorius XV, pada tahun 1562. Konon, Confreria merupakan serikat awam Katolik tertua di Indonesia. Mereka memiliki jubah putih yang disebut “opa” dan kalung keanggotaan berwarna biru dengan medali perak yang disebut “bernika”. Sejarah terbentuknya serikat ini dilatari oleh kebutuhan akan tenaga awam dalam penyebaran Katolik, karena imam-imam pada masa itu sangat sedikit. Jika ingatan saya tidak keliru, anggota baru Confreria dilantik setiap tanggal 26 Desember saat peringatan pesta St. Stefanus rasul. Saya sedikit tahu tentang serikat ini karena kedua kakek saya adalah anggotanya.

Bagi saya, meski dalam Katolisisme, orang-orang mati diperingati secara khusus, namun jauh sebelum pengaruhnya masuk, keterikatan itu telah direfleksikan dalam agama asli. Dalam kebudayaan orang-orang Lamaholot, kepercayaan akan roh-roh nenek moyang telah lama dihidupi. Orang-orang akan pergi berdoa dan membakar lilin di kuburan ketika akan pergi merantau, ketika sedang ada masalah, ketika akan berpesta, bahkan adik saya pernah pergi dan menangis di sana, pada suatu malam setelah saya memukulinya.

Kadang kala, selain lilin, orang-orang akan membawa arak dan rokok ketika berkunjung. Saya kerap menyulut dua batang rokok ketika berlama-lama duduk di sana: sebatang saya selipkan di bibir, batang lainnya saya biarkan jadi abu di depan nisan. Dalam acara-acara adat kematian dan perkawinan, di hadapan foto orang-orang mati, selain cahaya lilin, tersaji juga makanan. Orang-orang meyakini bahwa roh-roh nenek moyang dan kerabat yang telah meninggal akan datang bertamu dan turut menyantap hidangan itu.

Dari gambaran ini, dapat dilihat bahwa masyarakat di sana, setidak-tidaknya di kampung saya, hidup dan merefleksikan dua ekspresi kultural-religius yang berbeda secara bersamaan. Terlepas dari itu, menulis tentang kematian adalah usaha untuk mengingat, mengenang, dan belajar dari hal-hal baik yang pernah ditabur oleh mereka yang telah berpulang.
“Memento mori.”

Selamat hari arwah. Damai abadi untukmu semua di sana…


PM, 021120

*) Juan Kromen, lahir di Waibalun, Flores Timur, NTT. Penikmat sastra dan kopi hitam tanpa gula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *