MASA


Taufiq Wr. Hidayat *

Bagi orang yang lahir di tahun 90-2000, ia tidak akan mengenali suara Empu Ranubaya. Suara serak, gemetar karena usia, dalam sandiwara radio Tutur Tinular, yang naskahnya ditulis oleh S. Tidjab. Pesan dan nada suara seorang empu tua yang legendaris dalam penjara Kaisar Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Mongolia itu, menjadi narasi pembuka sandiwara radio yang mashur tersebut.

“Aku beri nama pedang ini, Pedang Nagapuspa. Selamatkan dia, jangan sampai jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat,” tutur Empu Ranubaya. Ia sadar, bukan senjata yang berbahaya, sehebat apa pun senjata itu. Melainkan yang berbahaya adalah si empunya atau si pengguna senjata, di mana kejahatan dan kebaikan selalu bergantung pada hati manusia. Bukan senjata.

Dan suara Empu Ranubaya yang bijak-bestari itu pun berlalu. Tak ada lagi sandiwara radio atau berita RRI yang mudah didengarkan, mengudara mengabarkan perihal cuaca, harga kebutuhan pokok, dan sponsor obat sakit mag.

Masa telah berlalu. Dan seseorang selalu tak mengerti sedang berada di mana. Tak ada yang dapat menghentikan masa. Masa-masa terus dilewati, ditinggalkan. Peristiwa demi peristiwa silih berganti, wajah-wajah datang-pergi. Di dalam kenangan, orang mengenali dirinya. Tetapi yang tak sanggup untuk memilih. Dan tak berdaya menghentikan usia atau peristiwa.

Barangkali yang tak belajar untuk mengenali masa lalunya, ia menjadi robot bernyawa, yang menjalani kesepian demi kesepian dalam setiap perubahan. “Masyarakat yang diternakkan dan pikiran yang dipabrikkan,” kata WS. Rendra. Ia seakan cuma yang pasif di hadapan benda-benda, dipermainkan gelombang waktu bagai buih di lautan hidup yang diombang-ambingkan perubahan dan pergantian. Siapa akan memungut peristiwa dan ingatan dari masa lalu yang tua? Tempat atau entah apa yang dilupakan, dianggap tak penting bagi yang tak menemukan kepedihan lain di belantara kenyataan. Ia hanya kenangan, yang bagi sebagian orang diperlakukan sudah sangat usang dan berdebu selalu. Orang tak menetap di dalam kenangan. Tetapi bukankah hanya dari sana sesungguhnya, kita menemukan betapa rapuhnya masa dan alangkah naifnya? Dari situ mungkin, sejarah akan mengekalkan apa saja yang layak dikekalkan, atau apa saja yang tak layak dikenang dan dikekalkan. Ada yang dipakai, ada yang dibuang. Segala berada senantiasa dalam keniscayaan masa. Yang di hadapannya, semua kita tak berkuasa.

Tembokrejo, 2020

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *