Puisi-Puisi Dody Yan Masfa

MANGUNI UNI

Pergilah manusia dengan perlindungan suaraku
Engkau akan selamat lewati perjalanan maut enyah
Jangan pergi, lembah akan menelanmu kalau engkau
tak hiraukan suaraku aku berseru serak pertanda mati

Engkau selalu dikawal dua kekuatan mati dan hidup
Keduanya takdirmu, maka kau perlu pertanda
Tak mau mendengar manguni uni adalah kemalasan
nembaca alam, malas membaca alam pasti dekat
dengan bencana

Manguni uni
Klembak menyan
Ruh leluhur
Penjaga sekalian alam
Manusia memperdaya
Manusia merusak
Manusia tak beradab terhadap sungai
Hutan, laut, kuburan, lembah
Ngarai, danau danau
Manjadi komuditi
Menjadi wisata
Menjadi dosa
Turun temurun

Generasi mendatang hilang adab
Dibawa serak suara manguni
Diletakkan dipadang berapi
Tanpa gunung, rimba belantara
Pula rasa kemanusiaan

Manguni terbang suara serak
Malam menjadi hening mencekam
Kematian lagi, bencana mulai lagi
Pagebluk, gendruwo, hantu, drakula

Manguni suara tersekat turun dan hinggap
Diatas genting, “jangan pergi manusia dengar
suaraku, lembah akan menelanmu”

2020

BALAI MUDA

Kini senyap peradaban disergap
Malam yang kering puisi disadap
Lingkaran pikiran meratap
Sebab pelarangan yang kerap

2019

KOTA

Seperti malam kemarin
Cahaya begitu meluap
Pada bibir jalan
Menelan semua keindahan

Akupun terlena pada cerita
Tentang alunalun yang hilang
Penjual obat dengan sulapnya
Kemerdekaan kanakkanak berlarian
Usai menangis minta arummanis

Ruang riang tempat pikiran
Ditumpahkan dengan bebas

2019

SARIP

Mak….
Suara Sarip bangkit dari mati
Setelah berkali dipanggili
Jasad tertelungkup dikali
Sepi…
Bakal jadi lagi penyaksi
Kelicikan

2019

PERTUNJUKAN YANG MENJENGKELKAN

Panggung terbuka satu
Imagi berhambuaran
Penonton sibuk membakar ikan
Ada yang acuh disudut sunyi
Sang sutradara yang biasanya
bersimbah darah didada, tampak
batang hidungnya bengkok dihajar
kesepian
Kali ini darah menyembur dari otaknya
Meluber kemana mana sampai kursi
penonton
Sementara ratusan mulut menganga
Membentuk abjad ayat paling sakti dari
sekian ucapan
Aku tak mengerti apa yang kau pentaskan..!

2019


Dody Yan Masfa, lahir di Surabaya 15 Juni 1965, menulis puisi adalah kegemarannya sejak remaja, sebagai ngudo roso, katarsis, dan meneliti diri sendiri sejauh mana ia memiliki kepekaan rasa keindahan tentang bahasa tulisan. Prestasi karya bukan menjadi prioritas bagi dirinya. Menekuni teater sejak usia muda, sampai sekarang aktifitas itu menyeretnya untuk terus menulis. Dody adalah aktor dan sutradara teater Tobong. No Kontak: 085732439089 email : dodyyanmasfa@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *