Jarak Surga


Khansa Arifah Adila *
Haluan, 11 Okto 2020

HUJAN badai masih berlangsung sejak pagi, memperdengarkan suaranya yang begitu riuh, dan langit seharian gelap. Tak banyak yang bisa dilakukan saat pandemi, ditambah cuaca murung seperti ini. Setelah makan siang, aku hanya membaca. Awalnya cerpen Rudyart Kipling “Wee Wiliie Winkie” dan cerpen Naguib Mahfouz “Surga Anak-Anak”, lalu memutuskan membaca ulang “Kite Runner”. Ini kali yang kedua.

Sekarang mataku mulai penat dan kuputuskan berhenti sejenak. Dari kaca jendela ruang baca di depanku, daun-daun pohon jambu tampak diobrakabrik hujan, dan batangnya meliuk-liuk. Rintik hujan membasahi kaca jendela, menciptakan lukisan pemandangan yang samar dengan warnawarna menyatu.

Meski jendela telah tertutup rapat, angin tetap menyelinap masuk lewat ventilasi. Tak terlihat, tak terdengar, tapi terasa di kulit hingga ke tulang, seperti hantu. Karena dingin mulai menusuk, aku bermaksud mengambil syal di belakang pintu. “The Kite Runner” kuletakkan di meja setelah menyelipkan kertas pembatas buku pada halaman 42, halaman yang memuat lembar pertama bab 4.

Syal itu tergantung di gantungan baju yang kugunakan untuk menggantung tas dan syal, dan dipasang di belakang pintu. Motif syal itu serupa jaring-jaring berwarna hitam di atas rajutan benang wol putih, di kedua ujungnya terdapat motif bendera Palestina dan Indonesia.

Aku mendapatkan syal itu sekitar tiga tahun lalu dari Ben, abangku. Ia sendiri mendapatkannya sebagai tanda mata dari aktivis Peduli Palestina setelah memberikan donasi kemanusiaan dari hampir seluruh tabungannya sebagai dosen salah satu perguruan tinggi swasta di kota kami. Tak berapa lama setelah itu, Ben mendaftar menjadi sukarelawan pada organisasi tempat temannya yang aktivis itu. Lalu ia pergi ke Palestina. Ayahku melarang, tapi anak laki-laki selalu bisa pergi kemana pun tanpa izin orang tua. Sudah dua tahun Ben pergi dan belum pernah pulang. Mungkin tak akan pulang.

Aku mengambil syal rajutan wol itu dari gantungan dengan hati-hati, jangan sampai tersangkut dan berubah menjadi benang mie. Syal itu kukalungkan ke leher sedemikian rupa. Seketika ada sensasi hangat menjalari leher hingga dada.

Setiap kali aku melihat syal itu, aku teringat pada dua hal sekaligus: Ben, dan mimpiku enam tahun yang lalu. Orangorang mengatakan bahwa mimpi hanya bunga tidur. Sebagian lagi berpendapat bahwa mimpi adalah refleksi dari alam bawah sadar atas kompensasi dari tidak tercapainya keinginan bawah sadar. Tentu saja yang terakhir ini adalah para pendukung si empunya teori: Sigmund Freud.

Aku tidak tahu mana yang lebih tepat dari dua opsi itu. Aku malah teringat kisah Nabi Yusuf dengan mimpi-mimpinya yang menyelamatkannya dari penjara. Mimpi merupakan firasat, petunjuk dari Allah.

Lalu bagaimana dengan mimpi yang kualami sekitar enam tahun lalu? Apakah ia hanya bunga tidur atau refleksi dari tidak tercapainya keinginan alam bawah sadar atau layakkah disebut sebuah petunjuk?

Aku mendekati tempat dudukku semula. Memandang novel “The Kite Runner”Khaled Hosseini di meja. Novel yang mengisahkan kehidupan anak-anak di tengah konflik Afghanistan. Sampulnya biru cerah, tetapi kisah di dalamnya kelabu gelap seperti langit hari ini. Murung. Tiba-tiba aku disergap rasa jenuh.

Kuhenyakkan tubuh ke sofa yang joknya seolah begitu bahagia menerima beban. Tetapi ujung syalku terduduki hingga aku sedikit tercekik. Terpaksa aku geser posisi duduk dan menarik ujung syal itu dan merapikannya lagi di leher.

Motif bendera Palestina terjuntai di dadaku. Apa kabar Palestina? Apa kabar Ben? Ia seperti lenyap di tata surya, seperti setitik debu di jagat raya. Tata surya atau jagat raya itu bernama Palestina dengan Ben adalah debunya.

Berita terkini mengabarkan dana bantuan untuk Palestina dari berbagai negara di Arab menurun seiring perjanjian damai antara Israel dan negaranegara Arab. Aku tidak tahu apakah ini berita baik atau buruk. Kabar baiknya, dengan perjanjian damai itu, ada harapan penderitaan rakyat Palestina sedikit berkurang. Tetapi, sejarah berkali-kali mencatat betapa Israel acap mengkhianati perjanjian. Dengan demikian, berita buruk terdengar lebih nyaring: dikhianati lawan sekaligus dilupakan kawan. Apakah abangku bahagia? Adakah ia dikhianati kawan?

Hujan masih menderas. Langit gelap dan berat. Daundaun jambu masih diobrakabrik angin. Kulihat jam di dinding, pukul 16.30. Tetapi hari seperti sudah akan malam. Aku teringat mimpiku enam tahun silam.

Aku berada dalam sebuah ruangan yang luas berdinding putih seperti salju dengan cahaya melimpah, masuk dengan bebas dari ventilasi dan pintu-pintu serta jendela. Tiang-tiang perkasa menjulang di tengah ruang. Dalam ruangan itu aku berada di antara kerumunan orangorang, tua dan muda. Semuanya duduk dengan lutut menekan dada, air muka mereka sepucat dinding ruangan itu yang bercat putih bagai salju. Kengerian bagai terburai dari wajah mereka, seperti menghadapi teror yang keji. Suara isakan memenuhi ruang.

Baru kusadari kemudian, bahwa kami agaknya berada dalam masjid, terlihat dari sejadah panjang yang sedang kududuki dan membentang di sepanjang ruangan itu. Lampu hias bertingkat-tingkat dan berornamen batu-batu kristal bening imitasi, ada pula tempat khusus untuk imam di depan.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan menggelagar, dan dari pintu kaca di dekat tempat makam imam masuk seorang lelaki tinggi, besar, gondrong, dengan brewok lebat nyaris menutupi seluruh muka. Dia memakai seragam tentara berwarna coklat kehijauan, dan tubuhnya dilapisi rompi anti peluru. Aku heran, siapa yang akan ditembakinya di dalam masjid? Bulu-bulu lebat yang tumbuh subur di wajahnya tak bisa menyembunyikan mata hitam dengan urat-urat merah menyala. Aku membayangkan mata legamnya seperti lambang matahari berwarna hitam pada alphabet kuno. Entah di mana aku pernah melihatnya. Tangannya yang kekar dan berbulu menggengam erat sebuah senapan. Dia tampak seperti malaikat maut atau iblis yang akan menghabisi seluruh penghuni ruangan ini.

Dia menghampiri seorang kakek, menarik kerah bajunya dengan kasar, dan menariknya. Kakek itu hanya bisa menangis, dan saat membuka mulut, terdengar bunyi tembakan yang memekakkan telinga hingga membuatku terpejam dan berjengit ngeri. Tubuh orang tua itu menggelepar dengan darah mengalir dari mulut dan lubang di perutnya. Aku terdiam dan tergugu. Menggigil. Tak lama setelah mimpi itu, tersiar kabar penyerangan jalur Gaza oleh Israel. Perdamaian kembali dinodai. 2014.

Aku sungguh-sungguh menggigil kini, duduk meringkuk di sofa dengan air mata mengalir melintasi pipi. Tiap ingat mimpi itu, aku merasakan suatu perasaan yang aneh. Aku ketakutan sekaligus marah, merasa lunglai sekaligus sangat bersemangat.

Sejak berabad lampau konflik yang kabarnya didasari perbedaan keyakinan ini berlangsung. Tak peduli dengan seruan damai, persamaan hak asasi, dan apapun yang diperjuangkan dalam politik internasional, pertikaian itu tetap ada. Sementara pesta olahraga dan seni budaya merobohkan perbedaan, konflik itu masih berlangsung, nyata, dan nyaring tersiar.

Kipling dalam “Wee Willie Winkie” terang-terangan membongkar adanya penyematan jahat terhadap orang-orang Islam Afghanistan oleh kolonial Inggris di wilayah India. Tiga ratus tahun silam! Aku teringat Nadia dan saya dalam “Surga Anak-Anak” yang dituliskan Naguib Mahfouz, tersenyum getir sendirian membayangkan ada surga untuk anak-anak bagai dalam satu kelas yang teramat besar, tanpa sekat kelas Islam atau Kristen atau yang lainnya.

Entah mengapa hari ini aku membaca cerita-cerita yang tokohnya sentralnya anak-anak semua. Kebetulan adalah takdir yang menyamar? Ataukah ia juga, seperti mimpi-nya Freud, adalah cerminan dari alam bawah sadar? Apa alam bawah sadarku yang berhubungan dengan anak-anak? Aku memainkan jumba-jumbai pada syal. Dan… eureka!

Ben.

Aku kangen Ben! Sejak kecil kami hanya hidup bertiga bersama ayah sebab ibu meninggal dunia saat melahirkanku. Sejak Ben pergi, hidup terasa sepi dan dengan hantaman pandemi, sepi itu terasa kian lengang.

Aku ingin menyusul Ben. Aku iri pada orang-orang Palestina yang hidup dengan segala teror namun justru menjadikan surga jadi terasa lebih dekat. Karena itu aku iri pada Ben. Tapi tak mungkin aku meninggalkan ayah, tentu ia akan sangat kesepian. Ayah mengurus kami sejak kecil tanpa didampingi istri. Ia memutuskan tak menikah lagi. Dan kami, aku dan Ben, hidup sehat terurus dengan riwayat pendidikan yang baik. Sekarang setelah ia tua, apakah bukan kurang ajar tak tahu bakti bila kami meninggalkannya?

“Fani, sebentar lagi maghrib,” panggil ayah. Aku melihat jam dinding, pukul 18.00 tepat. “Ya, Yah,” jawabku seraya beranjak dari sofa dan melangkah menuju pintu. Aku tahu, ayah menyuruhku bersiap salat berjemaah bersamanya. Ben dan Palestina, tata surya dan debunya masih melekat di hatiku, tak hendak pergi. Mungkin aku tak akan bisa ke Palestina, dan mungkin juga tak perlu. Dari sini, kukira jarak surga bisa kutempuh sejauh kumau.

Di luar hujan masih deras menghunjam bumi.
***

*) KHANSA ARIFAH ADILA, mahasiswa Sastra Inggris, FIB Unand. Bergiat di Lapak Baca Pojok Harapan, Padang dan Hutan Litersasi, Sungailiat, Bangka. Ketua Bidadang PP HMI Komisariat FIB Unand.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *